alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Kegiatan Rekreatif Cegah Anak Stres

28 September 2020, 12: 11: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Kegiatan Rekreatif Cegah Anak Stres

KOTARadar Trenggalek – Rekreatif  menjadi kegiatan yang cukup jitu agar anak tetap sehat secara harfiah dan rohaniah. Sangat bagus untuk mencegah stress atau keadaan tertekan pada pada anak, di tengah pandemi Covid-19 ini.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas Sosial PPPA Christina Ambarwati mengungkapkan, rekreatif diambil istilah rekreasi. Tujuannya, tak lain untuk menyegarkan kembali badan dan pikiran. Hematnya, rekreatif itu melakukan sesuatu yang dapat membuat hati merasa gembira, berlibur, atau piknik. “Kegiatan rekreatif juga diejawantahkan ketika mampu menciptakan keadaan yang bersifat menarik, menyenangkan, merefleksi daya berpikir anak, bahkan  merangsang kebebasan berekspresi anak,” ungkapnya.

Kegiatan rekreatif, kata Christina, tidak sebatas berwisata. Suasana yang rekreatif itu bisa muncul seperti saat sedang berolahraga maupun berkesenian. Kegiatan tersebut bisa menstimuli anak untuk mengekspresikan ide. “Jadi, tidak harus datang ke tempat wisata, berlibur dengan rombongan,” ucapnya.

Dia mengakui adanya adaptasi baru (AKB) di tengah pandemi Covid-19. AKB itu wajib untuk dipatuhi, khususnya ketika datang ke lokasi wisata atau tempat-tempat umum lain. Mematuhi AKB bisa dengan tertib memakai masker, rutin cuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak paling tidak 1,5 meter. “Tetap mengutamakan protkes (protokol kesehatan) Covid-19, agar terhindar dari paparan virus korona,” sambungnya.

Di sisi lain, mengenal ciri-ciri anak dalam kondisi tertekan adalah penting hukumnya bagi orang tua (ortu). Menurut Christina, stres ringan adalah ketika anak itu masih mampu mengontrol dan mengelola stres dalam dirinya. Tingkat sedang itu sudah mulai ditangani oleh konselor. Sedangkan stres berat harus ditangani tenaga ahli. "Ada ciri-ciri anak mengalami stres, seperti suka menyendiri, marah-marah, hingga menunjukkan perilaku agresif," ungkapnya.

Sementara faktor eksternal dan internal seringkali memicu anak sampai mengalami kondisi tertekan. Sebagaimana, lanjut dia, anak memiliki tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun diketahui, yang membuat anak sering dalam kondisi tertekan itu lingkungan dekatnya. "Semisal ortu yang memperlakukan anak secara keras, itu dapat memicu stres pada anak," kata dia. 

(rt/pur/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia