alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

13 Desa Rawan Tsunami 

29 September 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TEGAR: Seorang nelayan yang sedang mempersiapkan alat-alat untuk melaut di PPN Prigi beberapa waktu lalu.

TEGAR: Seorang nelayan yang sedang mempersiapkan alat-alat untuk melaut di PPN Prigi beberapa waktu lalu. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK )

KOTA, Radar Trenggalek -  Tiga belas desa di Kabupaten Trenggalek berpotensi terjadi tsunami, desa-desa tersebut mayoritas berada di pesisir pantai. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek menyebut, sudah memasang tiga early warning system (EWS) di tiga kecamatan.

Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Trenggalek mendata, ada 13 desa di 3 kecamatan yang masuk kategori berpotensi tsunami. Yakni, Desa Wonocoyo, Desa Panggul, Desa Nglebeng, Desa Banjar, di Kecamatan Panggul. Desa Ngulungwetan, Desa Craken, Desa Masaran, Desa Munjungan, Desa Tawing, di Kecamatan Munjungan. Serta, Desa Karanggandu, Desa Margomulyo, Desa Prigi, Desa Tasikmadu, di Kecamatan Watulimo.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Trenggalek Joko Rusianto mengatakan, potensi tsunami di pesisir selatan Jawa menjadi perhatian serius dari BPBD Trenggalek. Sebab, desa-desa tersebut berhadapan langsung dengan laut. Selain itu, adanya lempeng Indonensia-Australia dengan Eurasia dapat menyebabkan gempa. Sedangkan gempa tersebut memicu terjadinya tsunami, kendati tidak semua gempa dapat menyebabkan tsunami. "Kita semua memang harus mengakui dan menyadari bahwa selatan Jawa itu masuk daerah rawan, bahkan Trenggalek ini rawan multi bencana, tsunami, banjir maupun kekeringan. Nah terkait tsunami, pesisir selatan sudah terpasang EWS," ungkapnya.

Menurut dia, pemasangan EWS berada di titik yang paling rawan, sehingga diharapkan ketika terjadi kondisi darurat bisa segera memberikan peringatan dini melalui sirine kepada warga sekitar untuk melakukan langkah evakuasi ke lokasi yang lebih aman. "EWS ini terkoneksi langsung dengan Pusdalops BPBD Trenggalek. Untuk pengoperasian atau menekan tombol darurat EWS, kami harus menunggu perintah dari BMKG," ujarnya. 

Menurutnya pihaknya baru saja melakukan pengecekan fungsi EWS di wilayah Kecamatan Panggul dan dipastikan dapat berfungsi dengan normal. Pengecekan serupa juga dilakukan terhadap EWS yang lain. 

Joko menambahkan, selain EWS, BPBD juga telah memasang sejumlah rambu  peringatan maupun rambu evakuasi di kawasan pesisir selatan. Dengan keberadaan rambu itu bisa menjadi perhatian seluruh masyarakat sekitar maupun warga pendatang. "Jadi titik-titik kumpul maupun jalur evakuasi sudah kami siapkan. Sehingga misalkan ada kondisi darurat, masyarakat sekitar sudah tahu kemana harus lari menyelamatkan diri," jelasnya. 

Lanjut dia, ribuan masyarakat yang kini tinggal di zona rawan diimbau untuk bisa memahami dan sadar akan adanya potensi bencana tersebut, dengan selalu siap siaga. "Dulu sudah dibentuk kelompok-kelompok kecil, untuk bertanggung jawab terhadap kelompoknya saat bencana datang. Mereka harus tahu apa dan siapa yang harus diselamatkan dulu, misalkan anak kecil dan lansia. Kemudian kemana harus mengevakuasi diri," imbuhnya. 

Titik evakuasi yang dipilih adalah perbukitan terdekat dari kawasan perkampungan warga. Sementara, kondisi geografis Trenggalek yang mayoritas pegunungan, menjadi titik lokasi untuk evakuasi. "Banyak diuntungkan dengan kondisi geografis banyak terdapat perbukitan, sehingga tempat evakuasi lebih dekat," ujarnya.

Dia mengimbau, hal yang patut ditingkatkan adalah kesiapsiagaan dari masyarakat. Kesiapan masyarakat berguna untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa. (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia