alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Testimoni

Operasi Gratis, Karyawan Swasta Ini Bersyukur Punya JKN-KIS

30 September 2020, 08: 03: 58 WIB | editor : Bella Orlandis

Operasi Gratis, Karyawan Swasta Ini Bersyukur Punya JKN-KIS

TULUNGAGUNG – Sebagai karyawan perusahaan swasta, Aris Yunitasari (37) bersyukur memiliki Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Beberapa kali memanfaatkan, Aris mengaku percaya menggunakan program jaminan kesehatan yang sudah diikutinya sejak Tahun 2014. “Saya jadi peserta sejak tahun 2014. Dari awal iurannya ditanggung oleh perusahaan. Waktu melahirkan anak pertama di tahun 2019 akhir, saya pakai (JKN-KIS, -red). Alhamdulillah pelayanannya bagus, selama proses persalinan tidak dipersulit,” ucap Aris. Tidak berhenti disitu, namun ternyata saat itu anaknya harus menjalani observasi selama 1x24 jam karena muntah. Bersyukur, setelah observasi hasilnya tidak ada komplikasi. Dari pelayanan kesehatan yang diperoleh tersebut, Aris tidak mengeluarkan biasa sepeser pun. “Kebetulan anak harus rawat inap sehari, karena ada kayak muntah, jadi harus dilakukan observasi 1x24 jam, tetapi ternyata tidak apa-apa, tidak ada komplikasi. Saat itu langsung diurus BPJS-nya, dan Alhamdulillah tidak ada biaya yang keluar sama sekali, karena saya tidak naik kelas perawatan,” ujarnya. Sementara itu, 5 bulan kemudian, suami Aris mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan pergelangan tangan kirinya patah sehingga harus menjalani operasi. Sesuai prosedur, ketika mengalami kecelakaan lalu lintas, yang harus dilakukan adalah mengurus Laporan Polisi (LP) untuk menentukan penjamin biaya pelayanan kesehatan, yakni PT. Jasa Raharja atau BPJS Kesehatan. “Suami kecelakaan di daerah Purwoasri Kediri, dilarikan ke rumah sakit di Kediri. Setelah dironsen ternyata ada yang patah, kemudian dirujuk dan dirawat di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Setelah mengurus Laporan Polisi di Kediri, ternyata yang pertama menjamin adalah Jasa Raharja, selebihnya ditanggung BPJS Kesehatan. Opname sekitar 4 sampai 5 harian. Operasi karena ada patah dibagian pergelangan tangan kiri,” jelas Aris. Lagi, Aris tidak mengeluarkan biaya sedikit pun, semua biaya dijamin PT. Jasa Raharja dan BPJS Kesehatan. Ia menceritakan bahwa harus merogoh dari koceknya sekitar Rp 21,5juta apabila tidak memiliki jaminan. “Dikover semua, karena saya juga mengikuti prosedur untuk tidak naik kelas, tetap di kelas 2. Saya tujuannya masuk rumah sakit hanya ingin segera tertolong, fasilitas menurut saya kelas 2 sudah bagus, saya percaya pasti dilayani dengan baik,” ucapnya. Namun, di bulan Juni, luka di lutut suami Aris dideteksi ada ÿang patah. Setelah melalui ronsen dan CT Scan, baru diketahui ternyata masalah ada pada ligamen bagian belakang. Sehingga suami Aris harus menjalani operasi kedua kalinya. “Sebulan setelah operasi tangan itu, bulan berikutnya, karena ada luka di lutut, dideteksi ternyata ada patah. Kemarin dokternya masih ragu, ditunggu dulu, sampai lukanya membaik dulu. Karena ada luka lecet di lutut, setelah kering baru dilakukan tindakan. Pertamanya di-rontgen, tetapi tidak kelihatan jelas, akhirnya di-CT Scan. Bulan Juni masuk lagi, operasi lutut. Operasi dijadwalkan, dipermudah, rujukan dari faskes 1 (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, -red), langsung poli, langsung dijadwalkan rawat inap untuk persiapan operasi,” pungkasnya. Pasca operasi, suami Aris harus rutin kontrol. Sampai saat ini masih kontrol. Aris mengaku semuanya dijamin BPJS Kesehatan. Dirinya tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan apabila tidak memiliki JKN-KIS. Bersyukur, dirinya dan keluarga bisa fokus pada proses pengobatan, tidak memikirkan biaya. “Setelah operasi, kontrol seminggu, 2 minggu, sampai saat ini pun kontrol setiap bulan. Alhamdulillah gratis. Mulai dari saya melahirkan, anak saya yang sempat dirawat sehari, suami saya operasi. Tidak tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan, operasi suami yang pertama saja segitu, yang kedua mungkin lebih (biayanya, -red). Kalau tidak ada BPJS Kesehatan bagaimana. Alhamdulillah kita bisa fokus penanganannya, berobatnya ke sakitnya,” ujarnya. Oleh karena itu, Aris mengaku sangat terbantu dengan adanya Program JKN-KIS. Menurutnya, musibah tidak akan ada yang tahu kapan datangnya. Sebanyak apapun uang yang ia miliki, kalau sudah sakit, uang tidak ada harganya, karena pasti biaya pelayanan kesehatan sangat mahal. Aris berharap kepada masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS, agar segera mendaftar, karena akan sangat bermanfaat. “Kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, dan meskipun punya uang banyak, kalau sudah masuk rumah sakit uang itu tidak ada harganya, karena biayanya pasti banyak. Alhamdulillah dengan adanya BPJS Kesehatan ini sangat membantu, khususnya biaya. Kita tidak tahu, kalau sakitnya ringan mungkin tidak masalah, kalau sakitnya berat tentu sangat membantu, terutama untuk saya yang hanya karyawan swasta, ada biaya berapa pun pasti tidak mungkin menutupi. Bagi yang belum daftar, walaupun kita sehat akan sangat bermanfaat, kita bisa membantu yang lain, tetapi berharap kita bisa sehat terus,” pungkasnya. (Jamkesnews.com)

(rt/dre/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia