alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

Peminat Kartu Kuning Turun Drastis

Hingga 50 Persen Akibat Covid-19

30 September 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SEPI: Sejumlah petugas pelayanan berbagai surat untuk tenaga kerja, salah satunya kartu kuning di Disnaker Kabupaten Blitar.

SEPI: Sejumlah petugas pelayanan berbagai surat untuk tenaga kerja, salah satunya kartu kuning di Disnaker Kabupaten Blitar. (FIMA PURWANTI/RADAR BLITAR)

SANANWETAN, Radar Blitar - Jumlah permohonan pembuatan kartu kuning atau kartu prasyarat pencari kerja (pencaker) menurun drastis akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, tak sedikit perusahaan yang menutup lowongan pekerjaan. Akhirnya, sehari hanya ada sekitar dua orang pencaker yang meminta kartu kuning.

Padahal pelayanan pembuatan kartu kuning (AK-1) telah dibuka kembali oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar, namun jumlah pemohon atau pencaker masih sepi. Bahkan jumlahnya terus mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu.

Kepala Disnaker Kabupaten Blitar Haris Susianto mengatakan, pemohon pembuatan kartu kuning mengalami penurunan selama wabah Covid-19. Banyaknya perusahaan yang menutup lowongan pekerjaan, atau meniadakan perekrutan pegawai mengakibatkan pencaker enggan membuat kartu kuning. "Untuk pelayanan pembuatan kartu kuning sudah dibuka seperti biasa sejak beberapa bulan lalu, tapi kalau untuk jumlahnya memang lebih sedikit. Ya, pastinya menurun, itu karena Covid-19 ini," ujarnya.

Dia menegaskan, penurunan jumlah pemohon kartu kuning mencapai sekitar 50 persen lebih. Momen setelah kelulusan SMA/SMK biasanya pembuatan kartu kuning mengalami kenaikan. Namun, tahun ini justru sebaliknya, jumlah pemohon kartu kuning justru merosot tajam.

"Biasanya setelah kelulusan SMK/SMA naik drastis, karena setelah lulus siswa membutuhkan kartu itu (kartu kuning, Red) untuk syarat mendaftar kerja. Dulu itu sekitar 15 orang per hari, sekarang cuma ada sekitar dua orang sehari," terangnya.

Di samping itu, lanjut dia, penerapan protokol kesehatan (prokes) dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyebaran ataupun terjadinya klaster Covid-19 pada pelayanan pembuatan kartu kuning. Di antaranya, mewajibkan pemakaian masker, serta mencuci tangan sebelum menuju meja pelayanan.

"Tentu kami juga menerapkan prokes secara ketat di sini, sebab ini merupakan salah satu layanan publik bagi masyarakat. Jadi semaksimal mungkin kita melakukan upaya- upaya pencegahan di setiap pelayanan. Termasuk memasang tanda batas di kursi untuk menjaga jarak," ungkapnya. (*)

(rt/ima/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia