alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pelajari Dunia Pikiran

Meski Tunanetra, Jadi Konseptor Alat Peraga Pemilu dan Penulis

Ingin Bongkar Penjara Mental

30 September 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

INSPIRATIF: Tampak Irwan Dwi Kustanto (kiri) bersama istri tercintanya Siti Atmamiah  sedang duduk di Taman Aloon-aloon Tulungagung.

INSPIRATIF: Tampak Irwan Dwi Kustanto (kiri) bersama istri tercintanya Siti Atmamiah  sedang duduk di Taman Aloon-aloon Tulungagung. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Pengalaman getir diminta mundur dari kampus begitu membekas di benak Irwan Dwi Kustanto. Namun penyandang tunanetra asal Kecamatan Bandung  menjawabnya dengan segudang prestasi, dari tingkat nasional hingga internasional,. Seperti, konseptor dan desainer alat peraga pemilu Indonesia untuk tuna netra serta seorang penulis sastra.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung.

Pagi itu, terlihat sepasang suami istri yang berjalan di Aloon-aloon Tulungagung. Tampak sang suami memegang erat sang istri, yang dengan ketulusan hatinya mengarahkan sang suami menapaki jalanan taman tersebut. Benar, si pria bernama Irwan Dwi Kustanto seorang penyandang tunanetra dengan memiliki segudang prestasi, yang selalu didampingi oleh istri tercintanya yakni Siti Atmamiah. Pasangan suami istri tersebut tinggal tak jauh dari Masjid Besar Baitul Khoir, Kecamatan Bandung.

Dwi, –sapaan akrabnya menceritakan awal mula perjalanan hidupnya sebelum mendapatkan berbagai macam prestasi dan penghargaan saat ini. Cerita bermula pada saat Dwi berumur sekitar 9 tahun atau pada saat duduk di bangku kelas tiga SD. Saat itu Dwi merasa penglihatanya mulai tidak jelas, yang membuatnya tidak bisa melihat tulisan di buku, di papan tulis, ataupun wajah teman-temannya bermain secara jelas. “Jadi pada waktu itu saya merasa penglihatan saya kurang 'awas'. Jadi jarak pandang saya sangat terbatas,” tuturnya.

Pria ramah tersebut mengungkapkan, selama bersekolah dirinya tidak pernah mengenal bangku sekolah luar biasa. Artinya sepanjang menempuh pendidikan, dia selalu bersekolah di sekolah umum. Jadi dialah yang harus beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Seperti meminta tolong teman sebangkunya untuk membacakan soal ujian, agar dia bisa mengerjakanya dan lain sebagainya. “Ketika sekolah di umum, saya harus bisa beradaptasi. Dan saya benar-benar harus ektra dalam belajar, karena saya memiliki hambatan penglihatan. Namun saya memiliki kepercayaan diri bahwa saya bisa dengan kamampuan yang saya miliki,” ungkapnya.

Setelah lulus SMA, ayah tiga anak itu mencoba untuk berobat ke berbagai tempat. Mulai dari medis hingga pengobatan alternatif. Tapi sayang, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Sudah banyak uang yang dihabiskan dan sudah banyak tempat pengobatan dia datangi, tapi tidak membuahkan hasil. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali berobat ke medis, dan menghasilkan jawaban diagnosa bahwa dia akan buta pada umur 30 tahun. “Mendegar diagnosa tersebut, saya berpikir untuk pergi ke panti rehabilitasi untuk belajar huruf Braille sembari meneruskan kuliah,” ujarnya.

Jadi ketika siang dia belajar di panti rehabilitasi dan malamnya dia harus kuliah. Berjalannya waktu, pada saat menjajaki semester pertama, dia diminta untuk mundur dari kampus oleh dosennya. Dikarenakan untuk menjadi guru tidak boleh cacat. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kampus tersebut. Mengetahui hal tersebut, guru ngajinya yang juga membelajarinya huruf braille, menawarkan masuk ke kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. “Oleh guru ngaji saya diarahkan masuk ke kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dan berketepatan di sana ujiannya menggunakan sistem dibacakan. Akhirnya saya diterima di jurusan filsafat,” paparnya.

Sewaktu di ibukota negara, Dwi bergabung dalam Yayasan Mitra Netra. Dari situlah mulai perlahan dia menghasilkan berbagai macam karya. Dia berhasil menciptakan alat peraga pemilu Indonesia bagi pemilih tunanetra, menggagas dan memimpin program seribu buku untuk tunanetra serta memimpin penyusunan Alquran Braille. Selain itu dia juga telah menerima penghargaan dari pesta buku Jakarta 2010, membuat buku berjudul Angin Pun Berbisik Bersama dengan keluarga, dan menyusun buku antologi cerita pendek bersama dengan cerpenis Indonesia serta masih banyak penghargaan lainya.

“Kalau untuk membuat konsep dan desain alat peraga pemilu Indonesia bagi tunanetra, saya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari sampai seminggu. Sedangkan berkecimpungnya saya ke dalam dunia penulisan berawal dari ungkapan cinta saya kepada istri saya yang juga seorang penulis. Akhirnya untuk bisa merayu, saya menciptakan puisi sebagus mungkin untuk istri saya,” ucapnya sembari tertawa.

Pria berumur 56 tahun itu mengatakan, saat ini dirinya sedang mempelajari dunia pikiran untuk pengembangan diri. Karena penjara mental harus dibongkar. Dan dia berpesan kepada sesama penyandang disabilitas untuk memiliki sebuah impian. Dengan memiliki impian, mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkannya. “Buatlah impian sederhana. Buat impian itu terwujud dari usaha kalian,” pungkasnya.(*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia