alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
“Tentara Langit”, Relawan Satgas Covid-19

Panggilan Jiwa, Keluarga Waswas, Edukasi Bahaya Pandemi

01 Oktober 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

PANGGILAN HATI: Tim relawan “Tentara Langit” terlihat sedang berkoordinasi di sela-sela penugasan di lapangan.

PANGGILAN HATI: Tim relawan “Tentara Langit” terlihat sedang berkoordinasi di sela-sela penugasan di lapangan. (DOK. PRIBADI FOR RADAR BLITAR)

Kini wilayah Kota Blitar dikategorikan ke zona oranye Covid-19. Itu membuat tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Blitar harus bekerja ekstra dalam setiap kegiatan penugasan di lapangan. Tak terkecuali para relawan di satuan tugas (satgas) itu. Berbagai cerita unik, sedih hingga kebanggaan tersaji. Berikut kisahnya.

ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Kepanjenkidul, Radar Blitar

Kantor Badang Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Daerah (Bakesbangpol dan PBD) Kota Blitar terlihat ramai sore itu. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat terparkir rapi di halaman kantor yang beralamat di Jalan Anjasmara ini. Beberapa orang tampak sedang beraktivitas di dalam kantor itu.

Terlihat seseorang mengenakan kaus lengan panjang sedang duduk sambil mengusap-usapkan jempolnya ke layar telepon pintar yang di genggamnya. Dia adalah Agus Arifin. Koordinator lapangan relawan satgas Covid Kota Blitar.

Dia dengan ramah mulai bercerita tentang pengalamannya selama tergabung dalam satgas ini.

Satgas relawan ini, kata dia, dinamakan “Tentara Langit”. Bukan tanpa alasan, nama itu dinilai mewakili harapan yang tinggi dalam penanganan dan pencegahan pandemi Covid-19 di Kota Blitar. "Atasan juga oke dengan nama itu. Jadi kita sepakat pakai nama itu," terangnya.

Pria 42 tahun ini menjelaskan, pekerjaan ini bukan tanpa risiko. Sebab, satgas inilah yang menjadi ujung tombak dalam penugasan di lapangan terkait kasus Covid-19. Misalnya, evakuasi pasien Covid-19, penanganan kasus yang diduga Covid-19, penjemputan pasien dan bahkan prosesi pemakaman jenazah terkonfirmasi positif Covid-19 pun pernah dilakoni.

Terkait hal itu, wajar apabila orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga, begitu khawatir dengan keselamatan jiwanya. "Waswas memang ada. Kami semua punya. Tapi karena sering terjun itu jadi biasa buat kami," ujar ayah tiga orang anak ini.

Bahkan, Agus menilai, bukan mustahil kemungkinan dirinya ikut terpapar Covid-19 sangat tinggi. Karena timnya selalu bersinggungan langsung dengan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19. Tapi, dia mengaku tidak takut dan bahkan bangga apabila suatu saat harus gugur dalam penugasan. Karena peran ini tak ubahnya sebagai pahlawan yang berjuang demi kemanusiaan. "Kalau misal saya gugur, saya bangga," jawabnya sembari menunjukkan wajah haru.

Hal serupa diungkapkan oleh salah seorang tim Tentara Langit, Yoyok Novandi. Pria yang berasal dari unsur Relawan Sosial Blitar (Resob) ini mengaku banyak dapat motivasi dari orang-orang sekitarnya terkait perannya sebagai realawan Covid-19. Karena itu, dia terus berupaya mengedukasi masyarakat tentang bahaya pandemi ini terhadap kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat luas. "Ada tetangga yang antusias. Ada juga yang mengaharapkan kita bisa mengedukasi masyarakat agar tidak paranoid," ujar pria 38 tahun itu.

Pria bertubuh subur ini menambahkan, pekerjaan ini tak ubahnya sebagai panggilan jiwa sebagai seorang manusia untuk menolong sesamanya. Karenanya, rela bangun tengah malam untuk kegiatan pemakaman pasien Covid-19 yang dinyatakan meninggal dunia. "Dulu cuma semprot. Sekarang penjemputan, evakuasi, penanganan dan pemakaman," sebut pria yang tinggal di Kelurahan/Kecamatan Sananwetan ini.

Pengalaman berbeda sempat dirasakan oleh salah seorang anggota lain, Teguh Prasetia. Pria yang bertugas di bidang evakuasi pasien ini mengaku sempat menuai stigma negatif dari lingkungan sekitarnya karena pekerjaannya yang mengharuskan Teguh untuk bersinggungan langsung dengan pasien positif Covid-19. "Tetangga ada yang takut lalu jaga karak karena tahu dari WA grup," akunya.

Namun, dia mengaku hal itu wajar. Juga, di sisi lain Teguh tetap berupaya memberikan pemahaman kepada orang-orang di sekelilingnya terkait tugasnya. "Kita edukasi kepada kolega tidak usah takut tapi tetap waspada," beber pria 37 tahun ini.

Satu hal yang selalu dipikirkan adalah keluarganya. Pasalnya, tak jarang keluarga Teguh begitu berat untuk melepaskannya dalam setiap penugasannya untuk terjun langsung ke medan Covid-19. Tapi, Teguh berupaya untuk selalu tegar dalam menghadapinya demi alasan kemanusiaan. "Berangkat dari rumah sebenarnya waswas. Tapi kita harus korbankan diri sendiri demi orang lain. Kalau bukan kita, siapa yang mau ngurus jenazah (Covid-19)," kata Agus dengan nada pelan sembari matanya menerawang jauh. (*)

(rt/tya/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia