alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

Peternak Ayam Petelur Siap Demo

Harga Turun, PSBB di Jakarta Ikut Jadi Pemicu

01 Oktober 2020, 10: 20: 09 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Infografis

Infografis

SANANWETAN, Radar Blitar- Para peternak di Bumi Penataran kembali resah. Pasalnya, harga komoditas peternakan turun di bawah harga pokok produksi. Selain karena pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) di Ibu Kota, diduga juga ada hal lain. Yakni kebijakan pemerintah pusat yang memperbolehkan telur dari industri besar  beredar di pasar atau untuk corporate social responsibility (CSR) bagi masyarakat kurang mampu.

Biasanya, harga telur produksi peternak Blitar dibanderol sekitar Rp 20 ribu per kilogram(kg). Namun sebulan terakhir, hanya dihargai sekitar Rp 15 ribu per kg. Selisih harga itu tak urung membuat peternak gelisah. "Ya, sebulan ini harga telur itu dikisaran Rp 15.500 hingga Rp 16 ribu, bahkan kemarin harganya hanya Rp 15.200 per kilogram," kata Ketua Koperasi Putra Blitar, Sukarman.

Menurut dia, ada beberapa faktor pemicu penurunan harga komoditas tersebut. Pertama, masih diberlakukannya PSBB di Jakarta. Padahal di sana merupakan pasar terbesar untuk distribusi telur asal Blitar. Kendati sembako bisa masuk ke wilayah tersebut, kebijakan itu secara tidak langsung akan mengurangi aktivitas ekonomi di Jakarta. Akibatnya, permintaan telur pun berkurang dan memicu penurunan harga.

Yang kedua, lanjut Sukarman, pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait pengurangan day old chicken (DOC) final stok. Tujuannya, menjaga keseimbangan persediaan dan kebutuhan bibit ayam pedaging. Tindak lanjut dari kebijakan itu, telur yang sebelumnya diproyeksikan untuk pembibitan ayam berkurang. Yakni untuk disalurkan kepada masyarakat kurang mampu melalui CSR perusahaan. Akibatnya, kebutuhan atau permintaan telur semakin berkurang. "Kami mendukung jika perusahaann itu memberikan CSR, tapi bukan dari telur HE (hatching egg, telur bertunas, Red) melainkan menggunakan telur layer pada umumnya. Di sisi lain, telur HE itu tidak boleh dikonsumsi," katanya.

Dikatakan Sukarman, hal itu sudah diatur dengan cukup jelas dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2017. Dalam peraturan tersebut dijelaskan para pelaku usaha tidak diperkenankan memperjualbelikan telur bertunas dan infertil sebagai telur konsumsi. Sanksinya yang diberikan ketika ketentuan tersebut dilanggar tidak ringan, karena sampai pencabutan izin usaha.

Menurut dia, para peternak sudah mengirim surat kepada Kementan untuk mencabut surat edaran yang memperbolehkan integrator atau pengusaha breeding unggas, menyalurkan telur HE sebagai telur konsumsi masyarakat. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan komunikasi dengan para wakil rakyat. Baik tingkat lokal maupun pusat. "Ya kalau tidak ada respon jangan salahkan peternak, kami akan demo," ucapnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia