alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Mengenal Community Predator Tulungagung

Kedepankan Edukasi untuk Tingkatkan Pangsa Pasar

01 Oktober 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

LARIS DI PASARAN : Anta dan temannya sesame anggota komunitas Copet memeriksa kondisi kesehatan ikan Channa maruliodes.

LARIS DI PASARAN : Anta dan temannya sesame anggota komunitas Copet memeriksa kondisi kesehatan ikan Channa maruliodes. (DOK COPET FOR RATU)

Dari sesama penghobi lantas memiliki misi memberi edukasi pemeliharaan ikan predator. Begitulah misi yang dibawa oleh Community Predator Tulungagung (Copet). Sebab dengan edukasi yang baik tentu akan meningkatkan pangsa pasar.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Ngantru, Radar Tulungagung

Saat mendengar kata copet, apa yang ada di benak anda? Pasti terbayang aksi kejahatan dengan mengambil benda tanpa izin, khususnya dompet di saku celana saat berada di tempat atau kendaraan umum.

EKSOTIK: Peacock bass.

EKSOTIK: Peacock bass. (DOK COPET FOR RATU)

Eits, nanti dulu. Copet yang satu ini berbeda dan tentunya positif. Karena kepanjangan dari Community Predator Tulungagung. Yakni sebuah komunitas penghobi ikan predator yang berdiri sejak Maret 2017 silam. “Mulanya memang karena kami memiliki kesamaan hobi yaitu pecinta ikan predator,” jelas Anta Subekti, salah satu penggagas Copet.

Anta, -sapaan akrabnya mengatakan, meskipun baru berjalan tiga tahun namun melalui komunitas ini ia memiliki misi positif bagi masyarakat. Khususnya para pecinta ikan. Yakni memberi edukasi kepada sesama penghobi dan pecinta ikan untuk lebih teredukasi bagaimana cara merawat ikan. Bahkan dapat memanfaatkannya sebagai lahan bisnis. “Karena banyak penghobi itu yang belum tahu bagaimana merawat ikan jenis ini, dari situ adanya komunitas ini menjadi wadah bagi kami untuk saling berbagi ilmu,” terangnya.

Selain memberi edukasi dan menjadi wadah bagi penghobi ikan, pemuda 24 tahun ini mengaku, Tulungagung sebagai salah satu daerah penghasil ikan hias terbesar, ikan jenis predator juga memiliki pasar yang cukup bagus. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan edukasi yang baik terkait cara perawatan. Tak jarang banyak ikan stres dan terserang jamur putih. Terutama saat peralihan musim. Ini dikarenakan perbedaan suhu yang cukup ekstrem, sehingga ikan harus mendapat perlakuan khusus agar mampu beradaptasi. “Banyak yang memiliki potensi untuk dijual di pasar tapi karena tidak sehat kadang mati duluan. Dari sini kami ingin memberi edukasi,” urainya.

Disinggung mengenai jenis-jenis ikan predator paling umum, Anta mengatakan, untuk para pemula, ikan kutuk atau gabus, atau ikan predator jenis ikan palmas merupakan jenis-jenis paling ideal untuk belajar memelihara. Ini dikarenakan perawatan ikan jenis ini tergolong mudah dan tidak memerlukan mesin atau alat tambahan untuk di akuarium.

Untuk itu setiap kali membuat acara, selalu diadakan sharing session sesama anggota komunitas. Disinggung mengenai cara perawatan, Anta mengatakan pada dasarnya perawatan ikan jenis predator hampir sama dengan ikan pada umumnya. Namun perlu diperhatikan dalam memberi makan. Terutama jika makanan yang diberikan adalah ikan atau mangsa jenis lain yang dalam keadaan hidup. Sebab masih terdapat parasit yang menempel pada mangsa tersebut. Untuk itu disarankan untuk memeriksa kondisi mangsa sebelum diberikan ke ikan. Udang dan cumi terkadang menjadi pilihan dalam memberi mangsa. “Kadang ada juga yang hobi memberi pakan udang dalam keadaan hidup karena melihat ikan saling mengejar di dalam akuarium itu menyenangkan, ya tidak masalah asalkan memang mangsa yang diberikan bebas parasit,” urainya.

Mengenai pangsa pasar, untuk ikan predator berkisar pada Rp 70 ribu hingga jutaan. Tergantung dari ukuran, jenis, dan ketersediaan ikan tersebut di pasaran. Semakin langka ikan tersebut tentu memiliki nilai jual tinggi. Salah satu contoh ikan yang memiliki nilai jual tinggi adalah ketika ikan tersebut cacat secara genetic namun bukan hasil ternak, melainkan hasil tangkapan alam. Artinya ikan tersebut telah survive di alam. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia