alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Tri Jotho, Pengerajin Wayang Kulit Ket

Pesanan Turun, Waktu Pembuatan Lebih Lama

14 Oktober 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

HARUS SABAR : Kang Tri ketika menyelesaikan gambar pewayangan yang nantinya akan ditawarkan kepada pecinta wayang lainnya.   

HARUS SABAR : Kang Tri ketika menyelesaikan gambar pewayangan yang nantinya akan ditawarkan kepada pecinta wayang lainnya.   (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Wayang kulit merupakan kesenian khas daerah yang harus dilestarikan, itulah yang ada dalam benak Tri Jotho. Sudah puluhan tahun dia terus menekuni membuat wayang kulit. Bahkan di saat kondisi perekonomian sedang terpuruk karena pandemi Korona, Tri Jotho tetap bertahan mengandalkan  keahliannya ini.

Suasana terlihat teduh dan rindang terasa ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di salah satu rumah wilayah Desa Wonoanti, Kecamata Gandusari, kemarin (13/10). Itu terjadi karena di halaman rumah tersebut terdapat beberapa pohon rindang yang membuat situasi panas menjadi sejuk. Bersamaan itu, di teras rumah terlihat seorang pria sedang duduk-dukuk sambil ditemani kuas, cat dan tiga helai kulit kambing.

Ternyata pria itu bukan sembarang duduk, melainkan menggambar pada kulit kambing yang telah dikeringkan.Terlihat tangannya begitu trampil menggoreskan kuas kecil pada selembar kulit kambing tersebut. Ya, dialah Tri Jotho, pengrajin wayang kulit daerah tersebut. Saat itu, Tri sedang membuat hiasan dinding wayang kulit untuk koleksinya sendiri. "Terpenting saat ini saya membuat wayang untuk hiasan dinding, siapa tahu nanti laku," ungkap Tri Jotho kepada koran ini.

Itu terjadi sebab dampak pandemi Korona begitu dirasakannya saat ini. Itu terlihat sejak bulan April lalu, tidak ada orang yang memesan wayang kulit buatannya. Padahal bulan-bulan sebelumnya rata-rata minimal ada dua orang yang datang untuk memesan wayang buatannya, baik itu untuk hiasan dinding atau wayang kulit untuk pentas. "Sehingga dengan kondisi seperti itu pesanan turun drastis, sebab mulai April hingga hari ini (Kemarin,red) saya hanya bisa menjual satu wayang untuk hiasan dinding," katanya.

Itupun bukan karena ada orang yang memesan, melainkan dirinya membuat wayang kulit hiasan dinding, dan setelah jadi menawarkan ke para kenalannya. Sebab dirasa kenalannya tersebut mampu untuk membeli dan juga sama-sama pecinta wayang kulit. Sehingga kemungkinan ada pecinta wayang kulit yang mau membeli hasil kreasinya tersebut terus dicoba saat ini.

Cara pembuatan sendiri, terbilang susah-susah, gampang. Sebab Kang Tri harus memastikan kadar air di bahan baku utama (kulit hewan-red) benar benar tidak ada, alias kering. Untuk itu, setiap kali mendapatkan bahan baku dari jagal, dirinya selalu menjemur dengan merentangkan dalam bingkai, yang beberapa sisinya dipaku agar kencang. Khusus kulit kambing, proses penjemuran dilakukan selama dua hingga tiga hari, dengan cacatan sinar matahari terik, sedangkan untuk kulit sapi bisa sampai satu minggu.

Setelah itu, kulit yang kering, direndam sekitar tiga jam untuk kulit sama, dan sekitar satu malam untuk kulit sapi, yang kemudian dijemur kembali. Tujuannya, untuk memastikan agar tidak ada bagian kulit yang keriput. Jika telah kering, barulah kulit tersebut disimpan diatas tungku api. “Semakin lama disimpan, kulit semakin bagus untuk dibuat wayang, sebab kadar airnya benar-benar sudah hilang,” jlentreh pria 40 tahun ini.

Barulah, kulit tersebut digambar sesuai pola sketsa tokoh pewayangan, seperti yang diinginkan. Untuk teknik penggambaran sendiri, dilakukan pada bagian kulit yang tidak berbulu. Jika penggambaran sketsa telah selesai, selanjutnya kulit di tahan yang diteruskan pencukuran bulu pada kulit yang ada dibaliknya. Pada bagian bulu kulit yang dicukur, diteruskan dengan penggambaran tokoh pewayanang berikut perlengkapannya hingga selesai. "Ketika menggambar tokoh wayang, di beberapa bagian juga harus diberi hiasan tatahan, agar terlihat bagus. Bersamaan itu saya juga harus memberikan warnanya,"jelasnya

Tak ayal, karena proses sedemikian rupa, praktis proses penggambaran membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua minggu. Namun saat ini waktu yang dibutuhkan untuk membuat wayang tersebut lebih lama, sebab dirinya harus mencari sumber pendalatan lain untuk keluarga. Alasannya pada pandemi Korona hasil kerajinan tangannya tersebut belum bisa diandalkan. Belum lagi cuaca mendung, sehingga butuh waktu yang lebih lama lagi untuk menunggu cat kering. Sehingga sementara ini satu wayang selesai dalam waktu satu bulan.

Untuk pemasaran sendiri, sebelumnya dirinya sudah tidak bingung lagi. Sebab, wayang buatannya tersebut sudah ada yang memesannya. Untuk pemesan sendiri, bukan hanya masyarakat di wilayah Trenggalek, maupun Jawa Timur, melainkan sudah sampai ke luar pulau seperti Kalimatan dan Sumatra. Bahkan, beberapa waktu lalu, ada yang memesan wayang hiasan untuk dibawa ke Belgia. "Tapi itu dulu, sebab ketika Korona datang, tidak tahu alasannya mereka tidak memesan lagi, sehingga saya harus berjuang mencari pasar baru," jlentreh bapak tiga anak ini.(*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia