alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Minim Penindakan, Angka Laka Tinggi

15 Oktober 2020, 10: 47: 34 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Infografis

Infografis

Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) menunjukkan tren tinggi. Menyusul mobilitas warga yang meningkat dalam masa transisi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Rata-rata terjadi di dua jalur blackspot. Yakni jalan nasional di Kecamatan Ngantru dan Ngunut. 

Hal itu diungkapkan Kasatlantas Polres Tulungagung AKP Aristianto Budi Sutrisno. Menurut dia, berdasarkan data Unit Laka Lantas, tiga bulan terakhir kemarin tercatat pada Juli ada 63 peristiwa dengan 9 korban meninggal dunia, Agustus terjadi 93 peristiwa dengan 14 korban meninggal dunia dan September terjadi 68 peristiwa dengan 6 korban meninggal dunia.

Angka tersebut meningkat dibandingkan tiga bulan sebelumnya atau awal pandemi yakni April hanya ada 38 peristiwa dengan 6 korban meninggal dunia, Mei terjadi 53 peristiwa dengan 6 korban meninggal dunia, Juni kejadian mulai ada peningkatan dengan 73 laka lantas dengan korban meninggal dunia sebanyak 16 orang. “Karena saat ini sudah masa transisi, aktivitas warga juga sudah mulai normal. Maka tak heran mobilitas mereka tinggi, dan itu dapat memicu laka,” katanya.

PARAH : Petugas Unit Laka Lantas Polres Tulungagung menunjukkan salah satu kendaraan yang rusak akibat laka lantas.

PARAH : Petugas Unit Laka Lantas Polres Tulungagung menunjukkan salah satu kendaraan yang rusak akibat laka lantas. (Siti Nurul lailil M/ratu)

Polisi tiga balok di pundak ini melanjutkan, faktor penyebab yang mendominasi yakni Human Error. Tepatnya, pengendara yang lepas kendali. Beberapa juga disebabkan karena kurang memperhatikan arus lalu lintas didepannya. “20 persen di antaranya melibatkan anak yang usianya masih di bawah umur,” tuturnya.

Peningkatan tren laka ini, sebut Aris diduga karena minimnya penindakan yang dilakukan olehnya. Pasalnya di masa pandemi, operasi lebih diarahkan pada kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. “Terkait penindakan, memang agak minim karena kita terlalu fokus pada penangana masa pandemi ini,” terangnya.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau pengendara untuk lebih berhati-hati. Apalagi, melintas di jalan nasional Ngantru (arah Kediri-Tulungagung,red). Karena jalan tersebut masih bertahan menjadi salah satu jalur yang rawan kecelakaan (blackspot) di Tulungagung. Menyusul, banyak­nya korban laka lantas di sepanjang jalur tersebut. “Setiap enam bulan ada evaluasi. Jika sebelumnya ada tiga, kini hanya dua saja jalur blackspot kita. Yak­ni Ngantru dan Pulosari, Kecamatan Ngunut,” tambahnya. 

Sementara untuk data per Oktober ini, angka laka mencapai 20 peristiwa. Bahkan pihaknya saat ini tengah fokus menangani sejumlah perkara, salah satunya bus Bagong yang terguling di Kecamatan Ngantru. Dalam hal ini, pihaknya akan segera menuntaskan pemeriksaan saksi - saksi penumpang, orang sekitar yang melihat dan sopir serta kernet. ”Untuk sopir, dijadwalkan hari ini pemeriksaannya. Ditunggu saja progresnya,” tandasnya. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia