alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Juru Foto Wisata Bertahan Di Tengah Pandemi

Pendapatan Berkurang Tetap Sabar, Senang Bisa "Temani" Bung Karno

16 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BAGI HASIL: Dua juru foto wisata MBK terlihat sedang memeriksa hasil jepretan mereka.

BAGI HASIL: Dua juru foto wisata MBK terlihat sedang memeriksa hasil jepretan mereka. (ADITYA YUDA SETYA PUTRA/RADAR BLITAR)

Sejak dibuka pertengahan Juni lalu, kegiatan wisata di kawasan wisata Makam Bung Karno (MBK) perlahan mulai pulih. Namun, jumlah wisatawan yang ke MBK terpantau belum seperti kondisi seperti saat sebelum pandemi. Hal itu tentu mempengaruhi kegiatan ekonomi para pelaku wisata di sana. Tak terkecuali para tukang juru foto wisata di sana.

ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Sananwetan, Radar Blitar

"Oh, iya Mas. Monggo-monggo (silakan)," kata empat orang berseragam biru-hitam orang yang duduk di sekitar pusara MBK sore itu. Mereka adalah para juru foto wisata di MBK. Dengan ramah, mereka pun berbagi pengalaman mereka selama menjadi tukang jepret di kawasan makam Sang Proklamator.

Salah seorang juru foto, Muhammad Irwan Santoso mengungkapkan, sedikitnya ada 40 juru foto MBK. Dari 40 orang itu, masing-masing juru foto bertugas selama enam jam dalam satu hari dan di-rolling setiap dua hari sekali. "Dibagi per shift dari 40 orang," kata Irwan.

Dari sana, dia mengaku dapat mengantongi rata-rata Rp 60 ribu per hari. Bukan jumlah yang besar memang. Namun, dari pekerjaan itu dapat menghidupi istri dan anaknya.

Lain dulu, lain sekarang. Kini pendapatan para juru foto jauh berkurang. Pandemi Covid-19 disebutnya jadi penyebab utama. Bukan tanpa alasan, kini jumlah wisatwan MBK sudah jauh berkurang akibat pandemi. "Iya dulu rata-rata perhari bisa 1.500 pengunjung per hari. Sekarang paling 300-an per hari," sebut Irwan.

Tak ayal, kondisi itu membuat pendapatan juru foto berkurang. Apabila pada kondisi normal para tukang jepret bisa mengantongi sekitar Rp 60 ribu per hari, kini mereka hanya bisa mengantongi sekitar Rp 30 ribu saja per harinya. "Kalau pengunjung sebenarnya setiap hari ada. Tapi karena pandemi kan ekonominya berbeda. Jadi, jarang yang minta foto," lanjutnya.

Hal serupa diungkapkan salah seorang juru foto lain, Aji. Dia mengaku, pendapatannya sebagai juru foto memang banyak berkurang. Namun, disebutnya jika kondisi kini terbilang lebih baik ketimbang saat MBK ditutup pada April-Juni kemarin. "Kemarin pas ditutup sama sekali tidak ada pendapatan. Jadi saya harus coba cari usaha lain," kata ayah dari tiga orang anak ini.

"Ya kalau sekarang sedikit-sedikit ada lah. Tidak apa-apa berkurang, yang penting ada daripada (MBK, Red) ditutup," tambahnya.

Bagi sebagian juru jepret, pekerjaan ini bukan hanya soal urusan perut belaka. Selain alasan dapur yang harus terus mengepul, apa kebanggaan tersendiri di dalam hati mereka. Benar saja, tentu tidak semua orang memiliki kesempatan untuk "menemani" Sang Proklamator di peristirahatan terakhirnya. "Bangga bisa bekerja di sini. Biar penghasilan tidak tentu, tapi senang," akunya.

Untuk itu, para juru foto mengaku kini lebih memilih untuk berbesar hati menerima keadaan ini sembari berharap si Covid-19 segera pergi meninggalkan Blitar, Tanah Air atau bahkan hilang sama sekali agar kawasan wisata MBK kembali ramai akan pengunjung seperti sedia kala. "Harapannya semoga segera kembali normal dan MBK jadi ramai lagi," harap Aji diamini rekan-rekannya. (*)

(rt/tya/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia