alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Tangguk Untung saat Pandemi Via Aquascape

Tekankan Keseimbangan, Sebulan Bisa Garap 7 Pesanan

16 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN : Imam Bahrudin sedang memotong tanaman yang ada di akuariumnya.

TELATEN : Imam Bahrudin sedang memotong tanaman yang ada di akuariumnya. (SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH/RATU)

Banyak usaha yang ketiban untung di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya aquascape atau akuarium hias yang ditekuni Imam Bahrudin. Ini menyusul populernya ikan hias saat ini. Selain itu juga karena seni mendekorasi pemandangan dalam akuarium ikan ini bukan sekedar menciptakan alam buatan, melainkan membuat ekosistem yang hidup dalam satu wadah kaca yang seimbang.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Sumbergempol, Radar Tulungagung

Keindahan alam natural bawah air dapat dinikmati secara buatan. Dengan membuat alam tiruannya melalui seni aquascape. Yakni, seni mendekorasi alam buatan dalam bawah air.

Namun, mendekorasinya tak sekedar meletakkan tanaman-tanaman bawah air, batuan atau kayu-kayuan, tetapi juga menuntut estetika seni, ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Sehingga tercipta ekosistem yang seimbang antara tanaman dan ikan dalam satu wadah kaca.

Itu seperti yang dilakukan Imam Bahrudin. Ditemui di galerinya di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol ini, pria 28 tahun itu tengah memangkas tanaman air dalam akuarium hiasnya. Tujuannya, untuk pertumbuhan tanaman agar lebih baik.

Sembari membersihkan tanaman yang dipotong, Imam, -sapaan akrabnya mengku membuat alam buatan seperti ini dinilai gampang-gampang susah. Harus tahu kebutuhan tanaman serta ikan di dalam air. "Yang ditekankan adalah keseimbangan. Karena di sini kita buat sebuah ekosistem yang dapat hidup," ucapnya.

Awal ketertarikan dalam membuat aquascape tersebut setelah melihat peluang bisnis aquascape yang besar. Dia yang dulunya seorang pembudidaya ikan Guppy menilai aquascape dapat mendorong penjualan ikan hias miliknya. Kemudian, iapun mencoba membuat dengan belajar secara otodidak. "Karena dulu masih jarang ada, jadi belajarnya otodidak. Beli tanaman air, kemudian ditata sedemikian rupa," kata pemilik brand Aqua Violet ini.

Banyak tantangan yang dihadapinya. Salah satunya, masih minimnya pembudidaya tanaman air. Jikapun ada, harga yang ditawarkan cukup mahal. Lantas, sembari belajar mendekorasi, ia kemudian memutuskan membudidaya sejumlah tanaman air untuk kebutuhan akuariumnya. "Tanaman karpet yang disebut Monte Carlo itu dulu dijual Rp 70 ribu per tutup botol kecil. Sedangkan, sekarang saya jual sendiri Rp 10 ribu per cup kecil," terangnya.

Selain tanaman air, aquascape juga bisa ditambahkan ornamen lain seperti batu, kerikil maupun kayu. Jelas mantan guru SD/MI ini, ada banyak gaya aquascape yang diminati penghobi. Di antaranya, dutch yang mengedepankan bunga bunga berwarna warni dalam satu ekosistem aquascape, kemudian gaya Iwagumi dari Jepang yang menonjolkan elemen batu dan tanaman karpet yang memiliki sifat merambat di dasar serta gaya natural perpaduan antara kayu dan batu, itupun masih di bagi dalam beberapa bagian seperti natural forest, natural diorama, dan lain-lain. "Setelah mantap, akhirnya saya mulai menekuninya pada 2015 lalu. Bahkan kala itu, permintaan juga terus berdatangan," tuturnya.

Namun demikian, permintaan semakin meningkat ketika di tengah pandemi ini. Karena, bisa jadi alternatif cara untuk mengusir kejenuhan setelah sekian waktu harus beraktivitas di rumah. Bahkan menurut Imam, permintaan meningkat dua hingga tiga kali lipat perbulan. "Kalau normalnya hanya 1-2 pesanan, untuk sekarang di tengah pandemi ini meningkat bisa 6-7 pesanan. Tapi jumlah ini, biasanya digarap bareng bersama perajin aquascape lainnya. Jadi, semisal saya dapat orderan, saya yang jadi bosnya. Kalau teman, saya jadi yang membantu. Ini dilakukan agar proses pembuatan biar cepat selesai," terangnya.

Untuk harga, bisa dimulai Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta ke atas. Bergantung dengan ukuran akuarium dan jumlah tanaman yang digunakan sesuai tema yang dibutuhkan. Rata-rata pemesan asal Tulungagung. "Ya ada luar kota. Seperti Surabaya gitu. Tapi pengerjaan bisa langsung di rumah pemilik. Tapi ada pula mau dikerjakan di Tulungagung," tambahnya.

Naiknya trend aquascape ini tak selamanya membuatnya senang. Sebab kini mulai muncul pembuat yang hanya mengejar keuntungan semata, tanpa memperdulikan ekosistem yang ada di dalamnya. Padahal untuk bisa membuat aquascape yang benar diperlukan waktu dan ekosistem yang tepat. “Yang asal-asalan gitu, cepat mati. Dan ini mempengaruhi bisnis kita," tandasnya.(*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia