alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Hujan, Produksi Tembakau Merosot

16 Oktober 2020, 11: 23: 12 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN: Seorang petani sedang menyortir daun tembakau yang masih memiliki kualitas bagus di Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan.  

TELATEN: Seorang petani sedang menyortir daun tembakau yang masih memiliki kualitas bagus di Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan.   (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Cuaca yang tidak menentu membuat produksi tembakau di Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan melesu. Indikasinya, produktivitas tembakau petani turun lantaran iklim sering berubah-ubah.

Petani asal Dusun Punjung, Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, Agus mengatakan, produksi tembakau bergantung dengan kondisi cuaca. Dia menganggap ketika cuaca panas lebih panjang, maka produksi tembakau kian tinggi. Namun agaknya produksi tembakau tahun ini tidak sebagus 2019 lalu. 

Pria berambut pendek itu mengaku, Oktober tahun lalu musim penghujan belum tiba, produksi tembakau pun mencapai 5 ton dengan luas lahan sekitar satu hektare lebih. Namun, Oktober tahun ini musim hujan mulai tiba, yang membuat produksi tembakau mengalami penurunan. Dia memprediksi, produksi sebatas 2 ton. "Cuaca di bulan ini tak menentu, siang panas, malam harinya gerimis. Sehingga tanaman (tembakau, Red) yang siap panen menjadi menguning (Daunnya, Red)," jelasnya.

Tak sebatas itu, petani tembakau jenis Virginia itu mengatakan, imbas dari perubahan cuaca membuat kualitas tembakau turun, sehingga harga pun menurun. Kualitas tembakau, kata dia, bisa ditandai ketika proses penjemuran berwarna kuning cerah dan bukan coklat, khususnya untuk tembakau jenis Virginia. "Kadang memang ada jenis tembakau yang coklat, tapi jenis ini kalau coklat kualitasnya turun," ungkapnya.

Sementara, lanjut Agus, harga tembakau yang berkualitas mencapai Rp 40 ribu, sedangkan tembakau yang kurang berkualitas turun Rp 20 ribu. "Kalau petani tembakau disini sudah kerjasama dengan perusahaan. Jadi meski tembakau kualitasnya turun, tapi tetap diserap," ucapnya.

Disinggung perubahan iklim membuat petani merugi, Agus mengatakan, belum bisa menghitung omzetnya. Sebab, tanaman tembakau masih ada yang belum dipetik (dipanen, Red). Menurut dia, panen tetap memperhitungkan kondisi cuaca karena masih memerlulan proses penjemuran. "Panen hanya sebagian, karena kalau dipanen tapi nggak ada panas, justru bisa rusak," kata dia.

Kabid perkebunan Dinas pertanian dan pangan Trenggalek Susti Wulandari mengatakan, panen kedua kebun tembakau mencapai 7,8 ton dengan luas 75 hektare. "Petani sudah bekerja sama dengan perusahaan rokok untuk membudidayakan tembakau," kata dia. (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia