alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Mujoko, Perajin Jamang Barongan Di Nglegok

Gemar Sedekah Ilmu, Ingin Belajar Bisa Datang Sewaktu-Waktu

17 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BANYAK ORDER: Mujoko sedang menyelesaikan pesanan jamang di bengkelnya, Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok.

BANYAK ORDER: Mujoko sedang menyelesaikan pesanan jamang di bengkelnya, Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok. (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)

Selama pandemi korona, pertunjukan seni nyaris tak dapat dinikmati. Akibatnya, para pelaku usaha kerajinan pun ikut terdampak. Perputaran modal melambat,  karena dampak ekonomi yang lesu.

AGUS MUHAIMIN, Nglegok, Radar Blitar

Mujoko terlihat sabar menggoreskan kuas pada lembaran kulit sapi berukir sore itu. Pemandangan ini sebenarnya langka. Sebab, sangat jarang pria 50 tahun ini berada di workshop saat sore hari. Selepas duhur adalah waktu untuk bersosial, menerima tamu atau kegiatan di luar pekerjaan lainnya. “Kegiatan seperti ini kan memang harus ada waktu khusus,” katanya sembari mengalihkan pandangan kepada Koran ini.

Pagi dan malam adalah waktu yang biasa digunakan Mujoko untuk bergelut dengan kuas dan kulit. Baik itu, membuat jamang atau meladeni finishing barongan dari para pelanggan. Selain khusus mengukir kulit, warga Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, ini terkenal dengan kualitas pengecatan yang baik.

Tidak ada kata nganggur. Meski pandemi korona, Nyatanya workshop Mujoko ini tetap saja banyak garapan. Usut punya usut kegandurungan masyarakat terhadap kesenian barongan tetap eksis saat wabah korona tahun ini. Bukan untuk pertunjukan melainkan untuk sekedar koleksi. “Tetap banyak yang pesan, cuma kadang bayarnya lebih lama,” katanya lantas tertawa.

Bapak satu anak ini paham, kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak baik. Daya beli menurun akibat korona. Akibatnya, perajian seperti dirinya harus maklum dengan kondisi tersebut. Melempar barang ke lain tangan yang bukan pemesan bukan pilihan tepat. Sebab, hal ini pasti akan berdampak pada kepercayaan pelanggan. “Kalau saya mau memberikan barang kepada pemesan baru, saya bisa dimaki-maki orang, ya eman-eman (disayangkan, Red),” terangnya.

Mau tak mau, dia pun harus menunggu dengan sabar. Baginya rezeki sudah ada yang mengatur. Begitu juga dengan jadwal bayar pelanggan. “Mau bagaimana lagi kondisinya memang seperti ini, kalau takdirnya sukses pasti ada saja jalannya,” celetuknya.

Dalam kesehariannya, Mujoko dibantu beberapa perajin lain. Mereka bisa dikatakan sebagai anak didiknya. Sebab, selama ini pria berkacamata ini tidak pelit ilmu. Siapa saja, yang ingin belajar seni ukir atau pahat bisa datang sewaktu waktu.

Hingga kini dia meyakini, semakin banyak orang yang mampu berkerajinan, berarti semakin sejahtera nasib para perajin. Menurut dia, tidak istilah kompetisi. Sebaliknya dengan banyaknya perajin akan banyak pula promosi yang ujung-ujungnya mendatangkan order. “Etung-etung (hitung-hitung, Red), ini sedekah ilmu yang secara otomatis melestarikan kesenian barongan,” terangnya.

Memilih spesialis jamang adalah salah satu cara berbagi Mujoko. Meski dia juga piawai membuat barongan, dirinya enggan menikmati sendiri peluang rezeki tersebut. Di sisi lain, butuh kerjasama yang baik antara perajin untuk mempercapat penggarapan produk.

Untuk satu lembar jamangan yang sudah jadi, Mujoko biasanya mematok harga Rp 1,2 juta. Satu jamang biasanya selesai dikerjakan dalam satu minggu. Itu jika memang tidak ada kepentingan lain. Sebab, tak jarang pula, satu lembar jamang ini selesai beberapa minggu. “Kalau sudah ketemu ngopi itu sudah hilang semua beban. Jadi garapan menjadi lama. Dan para pelanggan sudah paham,” tuturnya.

Menurut dia, kerja seni tidak dapat ditekan atau dipaksa. Sebab, hal itu akan sangat mempengaruhi kualitas. Mujoko juga tidak melarang para pelanggannya memanfaatkan jasa perajin lain. Dengan begitu, kemitraan antara produsen dan pemesan tetap terjalin baik. Tidak hanya lokalan, Mujoko biasanya juga melayani permintaan dari luar pulau. “Semoga saja, korona ini segera berakhir, sehingga aktivitas berjalan normal kembali,” terangnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia