alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Bucket Anti Mainstream Buah Kreativitas Siti

Dari Hobi Kerajinan Tangan, Terobsesi Bahan Baku Nyleneh

19 Oktober 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

UNIK : Siti Endang Sunarsih merangkai ayam goreng menjadi sebuah bucket ulang tahun.

UNIK : Siti Endang Sunarsih merangkai ayam goreng menjadi sebuah bucket ulang tahun. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Mengirimkan bucket bunga sebagai hadiah kepada orang spesial sudah biasa. Namun bagaimana jika bucket yang dikirim berupa ayam goreng ataupun sandal jepit? Bucket-bucket unik antimainstream ini merupakan buah karya Siti Endang Sunarsih.

Aneka bunga berbahan dasar kain flannel tertata cantik di sebuah lemari kaca besar di ruang tamu kediaman pasangan suami istri (pasutri) Samsul Arifin dan Wiji Asrofik yang beralamat di Dusun Gondangsari, Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol. Tak jauh dari sana seorang remaja berhijab sedang sibuk menata kertas Samson berwarna coklat yang ada di depannya. Dia adalah Siti Endang Sunarsih, seorang crafter bucket anti-mainstream asal Tulungagung.

Bagaimana tidak, jika bucket pada umumnya adalah sebuah bunga, namun bucket karya Endang berupa buah segar, donat, jajanan, sandal, bahkan yang terbaru yakni ayam goreng. Meski cukup nyleneh namun bucket buatannya banyak diminati masyarakat. Ini berkat keunikannya. “Iya, sedang menyiapkan kertasnya dulu untuk bucket ayam goreng, ada pesanan untuk ulang tahun,” sapanya seraya mempersilakan Koran ini duduk di sebelahnya.

Endang mengatakan, bisnis bucket bermula pada 2018 silam ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu, ia yang memang sudah menyukai kerajinan tangan, berinisiatif membuat rangkaian bunga berbahan kain flannel untuk guru di sekolahnya. “Karena saat itu Hari Guru, aku memberanikan diri mencoba menjual bunga-bunga buatanku ke teman-teman. Sebagian juga aku beri ke guru sebagai hadiah, Alhamdulillah, banyak yang respon,” jelasnya mengawali cerita.

Dari situ, bisnis bucketnya berkembang terus hingga Februari 2019. Ia pun mencoba menggabungkan bunga flannel dengan hijab untuk bucket wisuda. Tak berhenti di situ, ia pun mencoba mengembangkan dengan bucket lain. Seperti sandal jepit dan aneka jajan. Bahkan bucket sandal yang terbilang cukup nyleneh menjadi best seller. “Saya tidak menyangka responnya akan sebagus ini, Jujur saya ingin bucket saya memang benar-benar beda dengan crafter yang lain," terangnya.

Ia tak menampik, jika ide-ide nylenehnya ini terkadang bermula dari pengalaman pribadi maupun request dari pembeli. Seperti bucket buah dan ayam goreng yang sempat menjadi perbincangan. Untuk bucket buah, ia mengaku bermula dari sang ibu yang sedang berulangtahun. Karena ingin memberikan hadiah spesial, lantas ia pun mencoba membuat bucket buah.

Hanya bermodal media sosial, ia pun lantas mencoba-coba buah apa saja yang dapat dibentuk bucket. Sebab tidak semua buah cocok untuk bucket. "Ini karena ada buah yang memiliki kadar air tinggi justru sulit untuk dirangkai karena teksturnya yang terlalu lunak," ungkapnya.

Tak berhenti di situ, bucket lain yang tak kalah unik adalah bucket ayam goreng. Ini bermula dari ulang tahun sang adik. Meskipun terbilang baru, namun bucketnya ini dapat dijadikan referensi kado unik.

Disinggung mengenai kesulitan dalam proses pembuatan, dara kelahiran 2 Desember 2000 ini mengaku, untuk bucket ayam cenderung lebih mudah dibandingkan dengan buah. Namun memerlukan ketelitian dan ketelatenan. Sebab sebelum dirangkai, daging ayam yang baru digoreng ini harus di-wrapping untuk menjaga kebersihan dan sterilitas. "Jadi dibungkus plastik dulu supaya tidak kotor baru ditusuk dengan tusuk sate dan dirangkai. Proses wrapping ini yang kadang masih berminyak dan lain-lain sehingga sulit," imbuhnya.

Meskipun mendapat respon bagus, ia tak menampik jika masih belum dapat menjangkau seluruh pasar. Utamanya untuk bucket makanan. Sebab proses pengiriman yang membutuhkan waktu lebih lama membuatnya membatasi pesanan. "Untuk bucket yang berisi makanan seperti ayam goreng atau buah hanya melayani didalam Tulungagung saja, kalau seperti sandal bisa luar kota. Bahkan pernah juga ke Bogor," terangnya.

Disinggung mengenai imbas Covid-19, Endang mengaku jika hari biasa ia mampu mendapat omzet sekitar Rp 4 juta hingga Rp 8 jutaselama sebulan, kini hanya Rp 300 ribu. Ini karena banyaknya sekolah maupun kampus yang meniadakan acara wisuda secara offline. Sehingga turut berimbas kepada pendapatannya. "Benar-benar terasa apalagi wisuda-wisuda ditiadakan dan dialihkan online. Harapannya sih semoga dapat segera pulih lagi," tandasnya.(*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news