alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pahit Getir Sutikno Memasarkan dan Mengenalka

Berharap Bisa Menulis Buku Sejarah Tembakau Tulungagung

21 Oktober 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BERTAHAN: Tampak dua pekerja Sutikno tengah menjemur tembakau di belakang rumah produksi yang berada di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu.

BERTAHAN: Tampak dua pekerja Sutikno tengah menjemur tembakau di belakang rumah produksi yang berada di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Tembakau merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh Tulungagung. Namun untuk membangun usaha dan memperkenalkan tembakau Tulungagung bukanlah perkara mudah. Salah satu petani dan pedagang tembakau ternama dari Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Sutikno harus meraskan manis dan getirnya perjalanan merintis usahanya. Dengan usaha tesebut dia telah berhasil membuka lapangan kerja dan memperkenalkan tembakau Tulungagung ke kancah nasional.

Tak jauh dari Balai Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, terdapat sebuah rumah yang memproduksi tembakau asli dair Tulungagung yakni Kalituri. Tercium aroma khas yang dimunculkan dari tembakau tersebut. Hamparan tembakau terlihat jelas dibelakang rumah tersebut. Iya, itu adalah rumah produksi milik Sutikno, salah satu petani dan pedagang tembakau di Tulungagung yang telah memasarkan serta mengenalkan tembakau kalituri dikancah nasional.

Sutikno menceritakan bahwa usaha tembaku yang dijalankan saat ini merupakan usaha peninggalan dari orang tuanya. Dari keempat saudaranya, hanya dirinya yang meneruskan usaha tembakau. Maka wajar, jika dia sangat paham sekali dengan dunia tembakau, karena sudah sejak kecil dikenalkan orang tuanya. “Sudah sejak kecil saya dikenalkan tembakau dengan orang tua saya. Bagi saya usaha tembakau sudah menjadi jiwa saya. Kini anak pertama saya juga sudah mulai meneruskan usaha tembakau ini,” ujarnya.

Sudah berpuluh-puluh tahun dia menekuni usaha tembakau. Manis dan getirnya sudah dirasakan olehnya. Bahkan dia mengaku pernah berada di posisi sangat terpuruk. Tapi dengan keyakninan dan usaha, akhirnya dia bisa bangkit dari keterpurukan itu. Bukan karena tembakau memiliki daya beli yang rendah, namun karena pada saat itu dia masih belum mampu memahami dirinya. “Sampai kapan pun daya beli masyarakat terhadap tembakau itu tidak akan pernah turun. Saya yakin itu. Dan kini saya sudah bisa membuka lapangan kerja untuk warga sekitar,” ungkapnya.

Pria ramah itu mengungkapkan, tembakau itu sangat unik. Pasalnya, tembakau memiliki 1000 jenis lebih dan memiliki rasa dan aroma yang tergantung tempat tumbuhnya. Dan untuk mencipatakan tembakau dengan kualitas bagus perlu memahami karakter setiap tumbuhan tembakau. Hasil dari proses tersebut merupakan sebuah karya yang mahal harganya. “Proses juga akan mempengaruhi rasa tembakau yang berkualitas. Maka harus memahami karakter tembakau dan mengerti bagaimana proses yang benar, agar tembakau yang dihasilkan berkualitas. Tentu itu adalah karya,” ungkapnya.

Untuk bisa menghasilkan tembakau yang berkualitas, itu sangat tergantung dengan cuaca. Pasalnya, tembakau yang telah dirajang akan dijemur selama dua hari. Jika selama dua hari tembakau tersebut belum mengering, maka kualitas yang dihasilkan juga akan menurun. “Kulitas sangat dipengaruhi oleh proses dan penjemuran. Jika selama dua hari tembakau belum kering sudah pasti kualitasnya menurun. Dan bagi saya itu sudah gagal,” terangnya.

Pria tiga anak itu menjelaskan, tiap harinya dia bisa memproduksi tembakau hingga mencapai 3 kuintal. Dan dalam satu bulan dia bisa menjual sebanyak 2,5 ton dengan kualitas nomor 1 dari jenis kalituri. Rata-rata untuk satu kilogram tembaku dihargai Rp 50 ribu. Maka dalam satu bulan bisa mendapatkan sekitar Rp 125 juta. Tembaku tersebut dipasarkan di berbagai wilayah di Indonesia. “Biasanya banyak dari lokal, Jawa Tengah (Jateng) dan masih banyak daerah lainya. Malai untuk pabrik hingga dikonsumsi langsung,” jelasnya.

Sutikno memiliki harapan bisa menuliskan sejarah tembakau di Tulungagung. Hal ini menjadi penting, karena tembakau menjadi salah satu potensi yang dimiliki oleh Tulungagung. Selain itu, tembakau memiliki harga yang stabil meski di tengah pandemi Covid-19. Bahkan mungkin harga tembakau akan semakin bagus di pasar. “Saya sudah lama menggeluti dunia tembakau, hingga saat ini saya belum menemukan buku mengenai sejarah tembakau. Maka dari itu saya memiliki harapan bisa menulis sejarah tembakau di Tulungagung,” pungkasnya.(*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news