alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Upaya Perajin Stik Drum, Tetap Bertahan di Te

Produksi Turun 75 Persen, Nyambi Jualan Telur Asin

21 Oktober 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

HARUS BERTAHAN: Subroto mengerjakan stik drum menggunakan mesin ditempat produksinya beberapa waktu lalu.

HARUS BERTAHAN: Subroto mengerjakan stik drum menggunakan mesin ditempat produksinya beberapa waktu lalu. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR)

Wabah korona membuat sendi-sendi sektor industri kecil menengah lumpuh. Tak terkecuali industri kerajinan bubut kayu. Seperti yang dialami Subroto, perajin stik drum warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan.

Dua mesin dowel kayu itu tampak berkarat. Meskipun mesinnya bisa berfungsi normal. Subroto menggunakan mesin tersebut untuk membuat stik drum. Tangannya terampil mengoperasikan mesin tersebut.

Sebilah balok kayu berukuran panjang sekitar 40 centimeter (cm) itu langsung dipasangkan ke mesin dowel tersebut. Kemudian mesin dioperasikan dan berputar. Kedua tangan Subroto, lantas menggerakkan maju mundur mesin itu untuk membentuk pola stik drum. “Setelah itu, saya sempurnakan lagi secara manual dengan tangan,” jelas Subroto sembari mempratikkan cara kerja mesin tersebut, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan beberapa waktu lalu.

Namun, sudah beberapa bulan terakhir ini mesin dowel miliknya terpaksa tak beroperasi. Sebab, tidak ada pesanan stik drum, sehingga produksi pun tidak jalan. Ya, pandemi korona-lah yang menjadi penyebabnya. Subroto terkena dampaknya. “Pesanannya sepi. Produksi sementara saya hentikan. Kalaupun ada, yang pesan jumlahnya tidak banyak. Hanya lokalan saja,” ungkap pria 56 tahun tersebut.  

Sejak virus korona mewabah, tak sedikit pelaku usaha terkena dampaknya. Tak terkecuali para perajin, juga merasakan efek buruknya. Sejumlah produk kerajinan pun sulit terjual sampai ke luar daerah, karena ada pembatasan sosial. Roda perekonomian berhenti berputar. Untuk bisa berputar pun lumayan susah.

Dampak ekonomi akibat wabah korona itu sangat dirasakan Subroto. Berbulan-bulan sejak korona mewabah di Indonesia, Subroto minim pemasukan dari hasil menjual stik drum. “Kalaupun ada, hasilnya dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutur bapak lima anak ini.

Subroto bukanlah perajin bubut kayu berskala besar. Dia hanyalah perajin skala kecil menengah. Usahanya itu, sudah digelutinya lebih dari 15 tahun. Dia memanfaatkan lahan sempit di samping rumahnya untuk tempat produksi. Sejak saat itulah, usahanya terus berkembang. Produk-produk hasil kerajinannya sudah dikirim hingga luar daerah.

Selama ini, dia memang khusus membuat stik drum terutama stik drum band. Seiring berjalannya waktu dan permintaan pasar, dia pun membuat produk bubut kayu lain selain stik drum. Di antaranya stik kasti, tongkat senam, hingga pandel (tiang bendera kecil). “Produk-produk saya selama ini, saya pasarkan ke Kediri, Malang, Surabaya hingga Jombang. Tetapi, saat korona ini, para pelanggan belum berani minta lagi,” ungkap pria yang rambutnya sudah memutih itu.

Subroto mengakui, jika dalam kondisi normal dirinya mampu menjual 1.000 pasang stik ke luar daerah. Namun, semenjak korona ini penjualan sepi. “Turun sekitar 75 persen. Kalau di rata-rata hanya sekitar 200 pasang stik per bulannya,” katanya, lantas menghela nafas.

Dia begitu merasakan dampak pandemi korona tersebut. Selain sebagai perajin, dia terpaksa harus mencari pekerjaan sampingan, demi untuk menambah belanja keluarga. “Agar tetap ada pemasukan, saya terpaksa nyambi jualan telur asin di rumah sama istri,” akunya.

Dia terpaksa jualan telur asin untuk menyambung hidup di tengah pandemi. Dia membeli telur bebek dari peternak, lalu diolah sendiri menjadi telur asin. “Hasilnya lumayan untuk tambahan penghasilan sehari-hari di samping jualan stik,” katanya.

Selama ini, Subroto mengerjakan stik-stik drum itu dengan dibantu istri. Dengan adanya mesin dowel kayu tersebut, pengerjaan stik drum jadi lebih mudah dan cepat. Stik drum produknya, ada yang dijual polosan (belum dipoles atau finishing) dan ada yang dijual jadi. “Tergantung permintaan saja,” katanya.

Stik drum buatan Subroto, selama ini memanfaatkan kayu kenitu atau kayu apel. Terkadang juga menggunakan kayu waru putih, kayu melinjo, hingga kayu kopi. Namun, kebanyakan pemesan lebih menyukai stik drum dari kayu kopi. Subroto menjual stik drumnya dengan harga berkisar Rp 3.500 hingga Rp 10 ribu sepasang. “Harga tergantung jenis kayunya,” ungkapnya.

Dia berharap, pandemi korona segera berakhir sehingga perekonomian kembali normal seperti biasa. Namun, dirinya tidak bisa memprediksi apakah tahun depan perekonomian bisa dijamin kembali normal atau belum. (*)  

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news