alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Upaya Pegiat Literasi Tumbuhkan Minat Baca

Buku dari Donasi, Jadi mau Dihilangkan Tidak Masalah

23 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BOLEH DIPINJAM: Qithfirul Azis memilihkan buku untuk anak-anak yang mengunjungi perpustakaan jalanan.

BOLEH DIPINJAM: Qithfirul Azis memilihkan buku untuk anak-anak yang mengunjungi perpustakaan jalanan. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

Beragam upaya dilakukan oleh para pegiat literasi untuk membantu mencerdaskan generasi masa depan. Salah satunya, mendekatkan buku kepada masyarakat lewat perpustakaan jalanan. Aksi ini sekaligus sebagai sarana interaksi antara donatur buku dan pembaca.

AGUS MUHAIMIN, Nglegok, Radar Blitar

"Monggo (silahkan) Pak, buku ini tidak dijual tapi boleh dipinjam," kata seorang pemuda, menawarkan buku bacaan kepada orang-orang yang beraktivitas di depan Stadion Gelora Panataran, Nglegok, sore itu.

Ratusan eksemplar buku berbagai judul itu digelar sekenanya di atas tikar sederhana. Sesekali, pemuda yang diketahui bernama Rio Ardiansyah itu, merapikan buku yang selesai dibaca atau sekedat dilihat-lihat pengunjung yang berkenan meluangkan waktu.

Di belakang hamparan buku ini, terpampang banner kecil bertulis ‘perpustakaan jalanan’. Dari tulisan tersebut, para pengunjung bisa langsung memahami aksi yang dilakukan oleh Rio dan beberapa rekan remaja lain di lokasi tersebut. Mereka menyediakan buku bacaan layaknya perpustakaan atau tempat penyedia buku lain.

Bedanya, perpustakaan ini digelar di tempat terbuka. Ramai dan bising. Ini berbanding terbalik dengan suasana perpustakaan yang sepi dan tenang. Sebab, suasana bising konon dapat mengganggu pengunjung perpustakaan yang sedang membaca.

Meski tidak sampai ribuan, buku-buku yang ditawarkan cukup lengkap. Tidak hanya novel yang biasanya digandrungi remaja, tema-tema pendidikan juga disediakan. Komik dan buku bergambar juga tidak ketinggalan. "Yang paling sering mampir itu orang dewasa dan juga anak-anak," ujar Rio.

Perpustakaan jalanan ini, ternyata cukup mewarnai aktivitas pengujung stadion. Selain menikmati suasana terbuka didekat bangunan besar fasilitas olahraga, mereka juga bisa bersantai sambil membaca. Minimal melihat gambar-gambar dalam buku bacaan tersebut.

Hal itu membuat Rio dan kawan-kawan sudah puas. Sehingga, seminggu dua kali mereka meluangkan waktu longgarnya untuk menggelar kegiatan tersebut. "Saya sekolah kan tidak setiap hari juga, dari pada nganggur, kumpul teman sambil menyediakan buku saya lihat cukup positif," tutur remaja yang kini duduk di bangku SMA ini.

Setahun terakhir, para remaja ini rutin melakukan kegiatan tersebut. Mereka membuat kelompok kecil dengan nama Unixversity. Sebuah komunitas yang memang seneng dengan kegiatan literasi. "Kami tidak pindah-pindah tempat, kalau tidak ada halangan tiap Rabu dan Minggu sore selalu ada disini" kata Qithfirul Azis, remaja yang didapuk sebagai koordinator komunitas.

Meski pandemi korona, kegiatan menggelar perpustakaan ini pun tetap jalan. Hanya saja, beberapa bulan lalu, nyaris tidak ada orang yang menyambangi buku-buku mereka, karena takut beraktivitas di luar rumah. Utamanya, di tempat-tempat terbuka yang jadi jujugan banyak orang, seperti Stadion Panataran. Sebab, lokasi terbuka dan padat diduga menjadi pemicu penyebaran virus.

Kini kondisi sudah berubah. Masyarajat mulai beradaptasi dengan pandemi korona. Berbekal masker, lokasi-lokasi rekreasi keluarga kembali padat pengunjung. "Sak kesele (sampai capek), kalau sudah tidak ada pengunjung baru pulang," kata Azis,  mengungkap tidak ada batasaan waktu menggelar buku-buku di sekitar area stadion ini.

Buku-buku ini tidak hanya bisa dibaca dilokasi. Dibawa pulang pun tidak masalah. Tanpa harus ada jaminan yang ditinggal oleh peminjam.

Para remaja ini optimis, orang yang mau meminjam buku adalah orang yang senang membaca. Sehingga mereka tidak memiliki pikiran buruk, saat buku-buku tersebut dibawa pulang. "Kalau tidak dikembalikan juga tidak apa apa, mungkin karena senang atau belum selesai membaca buku tersebut," tuturnya.

Azis juga tidak pernah meneliti satu persatu buku yang mereka bawa. Jika ada buku yang hilang atau luput dari pengawasan, bagi mereka itu tidak masalah. Sebab, buku bukan benda yang cukup menarik untuk dijadikan objek jual beli. Di sisi lain, buku-buku yang ditawarkan di lokasi ini bukan hanya koleksi pribadi. Sebagian besar justru dari donasi masyarakat yang peduli dengan literasi. "Dicuri ya tidak masalah, yang dicuri kan ilmu. Setelah baca buku jadi pintar, nanti gak mencuri lagi," kelakarnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news