alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Cara Ulia Rifa Pertahankan Usaha Kerajinan Tangan di Tengah Pandemi

Pakai Tema Rustic, Akrabi Pangsa Pasar Baru

24 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF : Ulia Rifa menunjukkan salah satu kerajinan buatannya.

KREATIF : Ulia Rifa menunjukkan salah satu kerajinan buatannya. (DOK PRIBADI)

Masa transisi adaptasi kebiasaan baru (AKB) seperti saat ini, membuat Ulia Rifa dapat bernafas lega. Pasalnya, usaha kerajinan tangan yang dibangunnya kembali menggeliat. Meski belum pulih sempurna, namun pesanan talenan lukis, gift memory frame, hingga tempat mahar bertema rustic terus bertambah. Rata-rata digunakan untuk kado wisuda hingga pernikahan.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kota, Radar Tulungagung

Pandemi Covid-19 memukul semua sektor usaha. Tidak terkecuali dibidang Handy Craft Ulia Rifa. Bahkan usahanya nyaris mati suri karena tak ada pesanan kado atau souvenir akibat ditiadakannya acara yang melibatkan banyak orang seperti wisuda, purnawiyata, hingga resepsi. "Awal-awal Covid-19 itu kaget. Apalagi fokusku di gift wisuda, sidang, dan lainnya. Jadi ketika dialihkan online, terasa banget dampaknya," katanya memulai obrolan, kemarin.

(DOK PRIBADI)

Gadis berdomisili di Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung ini mengaku nyaris tak ada pesanan saat itu (Maret-April,red). Melihat situasi yang tak dapat diprediksi akibat Covid-19 lantas ia mencoba beradaptasi dengan mencari peluang dengan pangsa pasar baru. Tentunya tak jauh dari bidang kerajinan tangan.

"Untuk bisa bertahan dalam kondisi ini, harus beradaptasi. Untuk kesehatan kita harus adaptasi 3M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak satu sama lainnya). Kalau usaha harus adaptasi dengan situasi pasarnya mana yang ramai," terang pemilik Woodywood.art ini.

Lantas ia pun mencoba mengembangkan bakatnya di kerajinan mahar dan hiasan kotak cincin serta seserahan. Alasannya, karena banyak orang yang ingin pernikahannya tetap terkesan meski dilangsungkan tanpa resepsi. "Karena tak boleh mengundang banyak orang, jadi mereka calon pengantin ingin semua pernak perniknya unik, apik, dan terkesan," terangnya.

Sebagai pembeda dengan pengrajin mahar lainnya, Ulia memilih tema rustic. Bahkan beberapa model lain menggunakan dome glasses. Kata dia, semua bunga kering dan model bisa diatur sesuai keinginan customer. Meski baru merintis, namun permintaannya rata-rata 4 pesanan mahar ataupun kotak cincin perbulan. "Permintaan terus bertambah. Apalagi, bulannya ini banyak orang menikah," tuturnya.

Sedangkan talenan lukis serta gift memory frame, ia mengaku masih terus memproduksi. Pemasaran melalui media sosial memudahkannya menggaet customer. Selain itu, masa transisi seperti saat ini membuat salah satu perguruan tinggi di Tulungagung melaksanakan wisuda dengan sistem drivethru. Kondisi membuatnya punya peluang besar dalam memasarkan usahanya. "Pas musim ujian kemarin tembus 20 unit. Dan wisuda ini baru masuk kurang lebih 15 unit. Dimungkinkan jumlah pesanan akan bertambah mendekati acara wisuda yang digelar November mendatang," terangnya.

Adapun harga, talenan lukis dia membandrol mulai dari Rp 25 ribu ke atas. Sedangkan harga woodslice lukis mulai Rp 75 ribu ke atas, bergantung diameter dan kerumitan desain. Ulia mengaku menekuni usaha kreatif ini, diharapkan bisa meningkatkan nilai seni dan ekonomis talenan dan potongan kayu sebagai bahan dekorasi. "Kami juga terapkan adaptasi baru untuk menekan sebaran Covid-19 dengan minimalisir pertemuan. Dengan menekankan pada pengiriman pakai kurir," jelasnya.

Selain itu, mendukung pemerintah dalam upaya pencegahan Ulia mencoba mengembangkan bakat lukisnya dengan membuat masker lukis. Jadi masker tak melulu polosan, tapi bisa diberi corak sesuai yang diinginkan. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news