alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Janggel Jagung Menjadi Media Tanam Jamur

Kurangi Tumpukan Limbah, Harus Difermentasi Dulu

26 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

INOVATIF: Tiara memeriksa kondisi janggel jagung yang telah ia fermentasi di kediamannya kemarin (25/10).

INOVATIF: Tiara memeriksa kondisi janggel jagung yang telah ia fermentasi di kediamannya kemarin (25/10). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Tongkol jagung atau sering disebut dengan janggel kerap dianggap sebagai limbah tidak berguna. Namun ditangan Tiara Sandiva Delvi, janggel-janggel ini diubah menjadi media alternatif budidaya jamur.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Campurdarat, Radar Tulungagung

Tumpukan tongkol jagung atau janggel terlihat menggunung di halaman belakang kediaman pasangan suami istri (pasutri) Mujani dan Ratna Anita Sari, di Dusun Cerme, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat.

Jamur janggel jagung hasil budidaya yang siap dipanen.

Jamur janggel jagung hasil budidaya yang siap dipanen. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Di salah satu sudut pekarangan rumah seorang gadis berhijab terlihat jongkok di samping kumbung yang tertutup plastik mulsa hitam. Dia adalah Tiara Sandiva Delvi. Alumni fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang ini berinisiatif melakukan inovasi budidaya jamur menggunakan media janggel jagung. “Ini masih butuh waktu sekitar 3 Minggu lagi untuk dapat dipanen,”ucapnya seraya merapikan plastik mulsa di sebelahnya.

Tiara mengaku ide awal untuk budidaya jamur berasal dari kegemarannya mengonsumsi jamur. Selain itu, lahan rumahnya yang memiliki lahan cukup luas cocok dimanfaatkan untuk budidaya jamur. Lantas ia pun mencari berbagai referensi budidaya jamur.

Pemilihan janggel jagung sebagai media untuk budidaya jamur bukan tanpa alasan. Ini lantaran sekitar rumahnya rata-rata menghasilkan janggel jagung dalam jumlah besar. “Rata-rata usai panen jagung janggelnya dibuang begitu saja. Justru ini menjadi limbah, saya ingin mencoba memanfaatkan itu supaya menjadi lebih bermanfaat,” urainya.

Remaja kelahiran 18 November 1997 ini lantas mencoba meracik janggel-janggel tersebut. Ia pun mencampurkan janggel dengan adonan pupuk urea dan ragi. Janggel yang dipilih pun dalam kondisi bersih. Artinya tidak ada jamur yang menempel pada bagian janggel. Selanjutnya janggel dicacah dan dicampur dengan adonan pupuk urea dan ragi hingga merata.

Selanjutnya, menyiapkan kumbung sebagai wadah atau lokasi menanam. Kumbung dari kayu ini pun dilapisi dengan karung beras yang telah dilubangi. “Ini agar ketika proses penyiraman air tidak menggenang di dalamnya,” imbuhnya.

Jika kumbung sudah siap, adonan janggel yang telah diberi ragi pun ditata hingga memenuhi kumbung. Selanjutnya lapisi dengan bekatul hingga penuh. Kemudian lakukan hal yang sama untuk lapisan kedua. “Kalau sudah lapisan kedua disiram hingga lembap dan rata,” urainya.

Tiara mengaku, untuk satu kali pembuatan diperlukan waktu sekitar 3 Minggu untuk dapat panen. Untuk satu adonan janggel jagung mampu dipanen hingga lima kali. Jika sudah janggel jagung harus diganti dengan adonan yang baru. Jika tidak jamur yang dihasilkan akan berwarna hitam dan beracun.

Selama menunggu masa panen, cara perawatan terbilang harus telaten. Sebab bagaimana dapat menjaga agar kumbung tetap lembap. Jika terlalu basah juga akan menimbulkan busuk, jika kering proses fermentasi juga tidak berjalan sesuai. “Disiram setiap 2 hingga 3 hari sekali agar tetap lembap. Kalau jamur sudah setinggi 7 hingga 10 sentimeter (cm) berarti sudah siap dipanen,” jelasnya.

Ke depan ia pun berencana akan mengembangkan inovasi budidaya jamur ini. Sebab dapat sebagai pilihan alternatif menu makanan. Terlebih jamur yang dihasilkan mirip seperti jamur Enoki yang berasal dari Jepang.(*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news