alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Tenaga Medis-Paramedis di Poli Covid-19 RSUD dr Iskak

Takut Itu Manusiawi, Dianggap Sebagai Ibadah

27 Oktober 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELITI : Petugas Poli Covid-19 di RSUD dr Iskak sedang melakukan pemeriksaan RDT kepada seorang  pemohon.

TELITI : Petugas Poli Covid-19 di RSUD dr Iskak sedang melakukan pemeriksaan RDT kepada seorang  pemohon. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Berada di garda terdepan, membuat tenaga medis dihadapkan pada tingginya risiko terpapar virus SARS-COV2. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tenaga medis dan paramedis yang bertugas di Poli Covid-19 RSUD dr Iskak Tulungagung. Sebab selain dapat membantu sesama, juga menganggapnya sebagai ibadah.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Pengendalian kasus terkonfirmasi Covid-19 di Tulungagung, tak lepas dari layanan screening yang ada di Poli Covid-19 RSUD dr Iskak. Keberadaannya dinilai dapat mendeteksi lebih dini kasus terkonfirmasi baru. Karena di Poli inilah, pasien  diduga terkonfirmasi Covid-19 langsung terdeteksi.

"Di sini selain melayani pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT), juga pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)," ungkap penanggungjawab Poli Covid-19, Sri Purwati membuka obrolan.

Dia mengatakan, enam bulan dibukanya Poli Covid-19, permintaan RDT maupun PCR semakin tinggi. Lantaran banyak permintaan untuk persyaratan masuk sekolah, pondok, atau perjalanan dinas. Persyaratan wajib ini dilakukan pemerintah untuk mencegah serta menekan sebaran Covid-19 agar tidak meluas. "Sejak dibukanya Mei lalu permintaan terus tinggi. Bahkan sampai sekarang mencapai 100 pemohon per hari. Itu separo PCR separo RDT," jelasnya.

Purwati panggilan wanita ramah ini mengaku dibantu tiga perawat untuk memaksimalkan pelayanan Poli ini. Sedangkan PCR, dibantu dari tim dari mikrobiologi. Kendati demikian, profesinya ini diakui memiliki risiko tinggi terhadap penularan Covid-19. Karena, berhadapan langsung dengan para pemohon. "Kami tahu risikonya. Makanya kami juga protect diri. Dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Saat bekerja juga harus memakai APD lengkap. Itu procedure di sini," jelasnya.

Namun dia mengaku beruntung ditugaskan di Poli Covid-19. Karena dapat melayani masyarakat. Apalagi program pelayanan ini gratis baik RDT maupun PCR dalam upaya membantu masyarakat Tulungagung untuk mendeteksi dini akan virus SARS-COV2.  "Khawatir itu sudah manusiawi ya. Tapi kalau saya, tugas ini anggap sebagai ibadah dalam  membantu sesama. Dan dari rumah sakit sendiri juga  mengapresiasi dengan memberikan reward kepada kami," jelasnya.

Selain harus menjaga diri, tantangan lain yang dialami  tenaga medis maupun paramedis di Poli Covid-19 seperti dia yakni harus lebih sabar dengan para pemohon. Karena banyak dia temukan pemohon yang  takut dengan jarum suntik. Lantas dia harus  membujuk agar tidak takut dan pemeriksaan dapat berjalan lancar.   "Kalau ada yang reaktif, kemudian di swab itu positif maka kita harus memberikan edukasi kepada keluarga serta pemohon itu. Untuk menjalani isolasi mandiri atau memilih ke rusunawa," terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Kasi Pemasaran dan Informasi Moch Rifai. Dia mengatakan, layanan Poli Covid-19 ini digratiskan kepada masyarakat berKTP Tulungagung. Mayoritas pengguna layanan tes COVID-19 gratis adalah mereka yang membutuhkan keterangan sehat untuk syarat bekerja/melamar pekerjaan, untuk kepentingan sekolah, kembali ke pondok pesantren maupun keperluan bepergian ke luar kota/luar negeri.  "Tak sedikit yang periksa murni karena merasakan gejala sakit, sehingga berinisiatif memeriksakan diri ke Poli COVID RSUD dr. Iskak," jelasnya. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news