alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Tembakau Tak Sesuai Harapan

Petani Bakal Perkuat Kelembagaan

09 November 2020, 10: 31: 13 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SUBUR: Seorang petani tembakau sedang membuang tunas-tunas baru tanaman tembakau di kebunnya.

SUBUR: Seorang petani tembakau sedang membuang tunas-tunas baru tanaman tembakau di kebunnya. (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)

GARUM, Radar Blitar – Para petani tembakau di Bumi Penataran belum bisa menikmati hasil tanaman mereka. Pasalnya, harga tembakau masih belum sesuai dengan harapan. Diduga hal ini adalah ulah para tengkulak yang sengaja mempermainkan harga pasar.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Blitar Sunyoto mengatakan, harga tembakau kini masih berkutat diangka Rp 40 ribu. Sedangkan, untuk tembakau kualitas super sekitar Rp 50 ribu. Nilai itu, sejatinya masih bisa didorong untuk naik. Namun karena beberapa faktor, sehingga harga stagnan. “Ada saja alasan bakul (penjual, Red), ada yang karena hujan, karena belum ada permintaan, dan alasan lain,” katanya.

Kondisi ini, cukup memprihatinkan bagi para tembakau yang menjalin kemitraan dengan perusahaan atau pabrik. Dimana jenis tembakau yang ditanam tidak begitu memiliki harga jual yang tinggi. Disisi lain, nyaris tidak ada kompensasi ketika mengikuti program kemitraan tersebut. “Makanya saat ini petani cenderung pilih mandiri, tak ikut kemitraan. Kalau kondisi kayak gini banyak yang lepas tangan,” terangnya.

Seharusnya, kata dia, petani yang menjalin kemitraan mendapatkan fasilitas. Misalnya, kemudahaan mendapatkan bantuan modal, atau fasilitas lain. Namun hal itu belum bisa direalisasikan. Bahkan untuk pengadaan bibit tembakau yang nanti diambil oleh perusahaan tersebut harus dibeli dengan uang pribadi. “Per gram-nya bisa mencapai Rp 32 ribu rupiah,” akunya.

Sementara itu, lembaga yang menaungi para petani belum begitu banyak berkontribusi. Ada beberapa kendala yang harus diselesaikan. Misalnya saja, sumber daya manusia yang ada di lembaga tersebut. Untuk itu, saat ini pihaknya memilih fokus untuk proses penguatan kelembagaan. “Kami rencananya akan membuat koperasi, harapannya bisa menjadi solusi untuk masalah permodalan petani tembakau,” tegasnya.

Dia mengaku, organisasi petani tembakau masih belum bisa seperti asosiasi atau lembaga masyarakat lain di Bumi Penataran. Meski ada keinginan untuk menyampaikan keluhan-keluhan mengenai kondisi petani, hal itu belum bisa diwujudkan.

Disisi lain, Sunyoto juga mengungkapkan, petani tembakau memiliki andil yang cukup besar untuk  pendapatan daerah. Misalnya saja, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) yang setiap tahun diterima pemerintah daerah. Tentunya, dalam penetapan besaran anggaran dari pusat tersebut, juga mempertimbangkan keberadaan petani tembakau suatu daerah. “Kalau tidak banyak petani tembakaunya, tentu jumlah yang diterima juga tidak besar,” bebernya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news