alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Aspirasi Mahasiswa IAIN Tulungagung

Tahan Ijazah Terduga Pelaku

Dugaan Asusila Senior pada Junior

17 November 2020, 11: 40: 17 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TUNTUT KEADILAN : Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi IAIN TA Bersuara membawa poster didepan kantor rektorat sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan kasus pelecehan seksual.

TUNTUT KEADILAN : Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi IAIN TA Bersuara membawa poster didepan kantor rektorat sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan kasus pelecehan seksual. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Pihak kampus IAIN Tulungagung sepertinya masih berhati-hati dalam mengambil langkah menyikapi dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu alumnusnya. Buktinya, sampai saat ini pihak kampus masih akan menggelar sidang internal untuk membahas kasus tersebut. Meskipun puluhan massa telah menggelar aksi senyap di depan kantor rektorat kemarin (16/11), namun pihak kampus masih akan mendalami materi pelaporan maupun pelanggaran yang dilakukan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Tulungagung, Abad Badruzzaman mengatakan sebagai lembaga akademik, tentu mekanisme penanganan yang dilekukan harus disesuaikan dengan kode etik mahasiswa (KEM). Untuk itu, pihaknya akan menggelar beberapa langkah, termasuk sidang internal yang akan memanggil pihak-pihak terkait. Ini untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang diduga telah terjadi sejak awal September lalu. “Hari ini (kemarin) proses sidang masih berlangsung. Semula kami menjadwalkan pihak pelapor untuk datang, namun karena belum juga hadir kami memutuskan mendatangkan pihak terlapor terlebih dahulu,” jelasnya ketika ditemui di sela sidang internal.

Abad melanjutkan, semula permasalahan ini telah ditangani pada level fakultas. Saat itu pihak fakultas telah melakukan sidang internal untuk menyikapi kasus tersebut. Namun dalam sidang tersebut tidak memenuhi titik terang sehingga permasalahan pun diambil alih oleh pihak rektorat sebagai pemegang wewenang tertinggi di kampus. Nantinya dalam sidang inilah akan dipaparkan dengan jelas, siapa pihak yang terlibat, termasuk waktu dan lokasi kejadian. “Jelas kami tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan desas-desus, untuk itu di sidang ini akan dipaparkan semua, siapa kapan dan lokasinya dimana dan harus jelas,” urainya.

Nantinya jika materi telah lengkap, maka pihak rektorat akan memberikan sanksi maupun Tindakan yang relevan sesuai dengan pelanggaran yang telah dilakukan. Selain itu, Abad tak menampik, jika sampai saat ini kampus belum memiliki peraturan tentang penanggulangan kasus pelecehan seksual. Untuk itu keputusan yang dilakukan akan didasarkan pada KEM. “Peraturan rektorat tentang penanggulangan kasus pelecehan belum rilis, maka sebagai gantinya kami menggunakan KEM,” imbuhnya.

Disinggung mengenai tuntutan dari puluhan pendemo, Abad mengaku tentu pihaknya masih harus berkoordinasi mengenai hal tersebut.Termasuk melakukan penahanan ijazah terhadap terlapor yang telah diwisuda pada 10-14 November lalu. “Itu (penahanan ijazah) berkaitan dengan bagian akademik, tentu kami harus melakukan koordinasi lagi,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan koran ini, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi IAIN TA Bersuara menggelar aksi senyap di depan kantor rektorat IAIN Tulungagung kemarin (16/11). Aksi yang dimulai sejak pukul 11.00 ini sebagai wujud solidaritas dan protes terhadap pihak kampus karena lambannya dalam menangani kasus pelecehan seksual yang menimpa salah satu mahasiswinya. Massa pun menuntut agar ijazah terlapor untuk ditangguhkan dan menuntut agar pihak kampus berlaku seadil-adilnya baik terhadap pelapor maupun terlapor.

Massa pun bergerak dari gerbang utama kampus menuju halaman kantor gedung rektorat sembari membawa poster bertuliskan #StopKekerasanSeksual. Massa yang kompak mengenakan baju serba hitam ini juga mengenakan atribut berupa pita merah putih sebagai symbol solidaritas. Tak hanya membawa poster, massa yang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan ini juga menggelar aksi teatrikal terkait fenomea pelecehan seksual.

Sementara itu, koordinator aksi IAIN TA Bersuara, Roiyyatus Sa’adah mengatakan, pihaknya akan mengawal kasus dugaan pelecehan seksual ini hingga tuntas. Lambannya penanganan pihak kampus membuat massa yang berasal dari berbagai jurusan ini menggelar aksi senyap. “Ini bentuk solidaritas kami, dan kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas,” jelasnya.

Roi, -sapaan akrabnya, melanjutkan, dugaan pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswi ini berlangsung pada awal September lalu. Saat itu korban dan pelaku yang merupakan teman satu fakultas sering berkirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp. Pelaku yang tercatat sebagai mahasiswa semester 11 diduga mencoba melakukan percobaan pemerkosaan terhadap korban yang merupakan juniornya. “Dari laporan yang kami terima lokasi di sekitar Kediri, saat korban akan naik lereng Gunung Wilis,” ungkapnya.

Saat itu, dalam perjalanan menuju lokasi pendakian, korban dilecehkan dan dipaksa untuk melakukan perbuatan asusila oleh pelaku. Korban pun melaporkan pada pihak kampus pada 16 September lalu. Namun pihak kampus baru menanggapi laporan sekitar 1 Oktober lalu. Tak hanya itu, puluhan mahasiswa ini juga mengecam Tindakan kampus yang tetap meluluskan pelaku. Sehingga pelaku dapat mengikuti wisuda pada 10-14 November lalu. “Seharusnya kampus menangguhkan hal tersebut, karena kasusnya belum selesai,” terangnya.

Disinggung mengenai upaya yang akan dilakukan untuk mengawal kasus, Roi dengan tegas mengatakan akan terus mendampingi korban. Terlebih korban mengalami trauma pasca peristiwa tersebut. Termasuk jika nantinya korban meminta untuk membawa kasus ini ke meja hijau. “Tentu akan kami dampingi,” tegasnya. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news