alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

FPF: Kasus Ini Ibarat Gunung Es

Dugaan Kekerasan Seksual di IAIN Tulungagung

18 November 2020, 11: 02: 40 WIB | editor : Alwik Ruslianto

MIRIS: Koalisi Mahasiswa IAIN Tulungagung Bersuara tengah melakukan aksi senyap di depan gedung rektorat IAIN Tulungagung pada Senin (16/11) lalu.

MIRIS: Koalisi Mahasiswa IAIN Tulungagung Bersuara tengah melakukan aksi senyap di depan gedung rektorat IAIN Tulungagung pada Senin (16/11) lalu. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung – Kasus kekerasan seksual di IAIN Tulungagung, ibarat seperti gunung es. Pasalnya, berdasarkan data dari Forum Perempuan Filsafat (FPF) IAIN Tulungagung yang konsen terhadap isu perempuan, setidaknya, ada 100 orang diduga menjadi korban kekerasan seksual yang sudah menginformasikan kepada pihaknya. Oleh karena itu penting sekali dilakukan upaya-upaya untuk meminimalisir terjadinya kasus kekerasan seksual. Seperti, membuat SOP mengenai pencegahan dan penanggulan kasus kekerasan seksual yang dijadikan sebagai landasan hukum.

Direktur FPF IAIN Tulungagung, Dian Kurnia mengatakan, melihat kasus dugaan kekerasan seksual yang ada di IAIN Tulungagung, menunjukkan bahwa kampus harus membuat SOP mengenai pencegahan dan penanggulan kasus kekerasan seksual. Meskipun nantinya SOP itu ada atas respon terhadap kasus Gangga (bukan nama sebenarnya, red) itu sudah bagus tapi juga sudah sangat terlambat. “Sebenarnya kampus itu mampu menyelesaikan persoalan dugaan kekerasan seksual itu. Tapi karena kampus tidak menunjuk salah satu lembaga untuk menangani kasus ini, maka kasus tersebut menjadi kacau. Apalagi SOP-nya yang belum jelas,” tuturnya.

Dian, –sapaan akrabnya, menjelaskan, jika pihak kampus mengklaim telah memiliki SOP yang telah ditandatangani rektor sejak pekan lalu, maka seharusnya itu disebarluaskan. Karena hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi dan riilnya mengenai SOP tersebut. Dan sekali lagi SOP tersebut sudah terlambat, karena kasus Gangga terjadi sejak satu bulan yang lalu. Bahkan sebelum kasus Gangga ini mencuat, juga sudah pernah terjadi kasus dugaan kekerasan seksual di IAIN Tulungagung. “Hal itu sudah terlambat, karena kasus ini sudah terjadi sejak satu bulan yang lalu,” jelasnya.

Aktivis perempuan itu juga menambahkan, apalagi adanya dugaan upaya mendamaikan dari pihak kampus, antara terduga pelaku dan korban kekerasan seksual. Hal itu jelas tidak akan menyelesaikan permasalahan tersebut. Karena damai itu bisa dikonotasikan sebagai ‘memaafkan’ atau menyelesaikan masalah sampai sini saja. Dan pihaknya juga mempertanyakan damai seperti apa. Kalau damai untuk memaksa terduga korban dan terduga pelaku kekerasan seksual mengakui kesalahanya, lantas apa maksudnya. “Persoalnya bukan masalah damai atau tidak, melainkan trauma yang dialami terduga korban yang berkelanjutan. Siapa yang bisa menjamin kesehatan psikis korban?” tambahnya.

Perempuan ramah itu mengungkapkan, memang tidak bisa dipungkiri bahwa siapapun bisa berpotensi menjadi pelaku atau korban kekerasan seksual. Maka dari itu untuk mengantisipasi munculnya pelaku kekerasan seksual, setiap orang harus memiliki kesadaran dalam memperlakukan orang lain terutama hal yang sensitif. Atau juga bisa menempatkan diri sebagai orang lain. Sedangkan untuk mengantisipasi menjadi korban kekerasan seksual, orang tersebut harus tegas bisa dengan menegur dan menegaskan setiap tujuan dari aktivitas yang hendak dilakukan. “Dan yang paling terpenting adalah ketika merasa menjadi korban kekerasan seksual, lebih baik segera menceritakan kepada teman yang dipercayai atau melaporkan kepada institusi terkait. Dan ketika menjadi korban, jika merasa mampu untuk melawan maka ya harus dilawan, meski secara verbal ataupun fisik,” paparnya.

Dalam hal kasus kekerasan seksual di IAIN Tulungagung, setidaknya, ada 100 orang diduga menjadi korban kekerasan seksual yang sudah menginformasikan kepada pihaknya. FPF IAIN Tulungagung. Selain itu pihaknya juga menegaskan, seharusnya dengan adanya Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) yang menjadi wadah terkait kasus kekerasa seksual, maka juga harus ada sistemnya. Bahkan sangat dimungkinkan sekali didalam lembaga tersebut terdiri dari psikolog, pendamping hukum dan perlindungan korban, agar bisa berjalan efektif. “Selama ini kampus hanya memberikan wadah mediasi saja kepada terduga korban,” ujarnya.

Sementara itu, Humas IAIN Tulungagung, Ulil Abshor mengungkapkan, adanya dugaan kasus kekerasan seksual tersebut, pihak kampus akan melakukan upaya dalam mengantisipasi dugaan kasus kekerasan sekusal yang dialami atau dilakukan oleh civitas akademika IAIN Tulungagung. Pihaknya juga telah menindak lanjuti surat keputusan dari Dirjen Pendis, mengenai pedomana pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual di PTKI, dengan menerbitkan SOP yang telah ditandatangani oleh rektor. “Kami telah menindak lanjuti surat dari Dirjen dengan SOP yang telah ditanda tangani oleh rektor. Dan itu menjadi domain PSGA,” ungkapnya.

Ulil, –sapaan akrabnya menuturkan, sebagai lembaga pendidikan dengan adanya dugaan kasus kekerasan seksual pihaknya akan menindaklanjuti dalam penanganan dugaan kasus kekerasan seksual tersebut. Dan didalam kurikulum pihaknya akan menekankan kembali pendidikan agama didalamnya. Selain itu, apakah itu tenaga pendidik ataupun mahasiswa yang terbukti melakukan tindakan asusila atau pidana akan dikenakan sanksi. “Dosen memiliki aturan kode etiknya. Mahasiswa juga memiliki kode etiknya. Jika melanggar maka akan dikenakan sanksi,” tuturnya.

Pria ramah itu juga menceritakan terkait perkembangan penanganan dugaan kasus kekerasan seksual. Hingga saat ini sidang masih berlanjut. Dan kemarin (16/11) terduga korban tidak hadir dalam sidang tersebut. Dengan alasan terduga korban masih berada di luar kota. Kampus akan melakukan mediasi kepada kedua belah pihak yang selanjutnya pihak kampus akan merumuskan pemecahan masalah dugaan kekerasan seksual itu. “Kami hanya bisa memfasilitasi mediasi. Kalau ingin ke ranah hukum bukan kewenangan kampus, melainkan pihak kepolisian,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news