alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung
Testimoni

Terbantu Biaya Pelayanan Kesehatan, Suliyanti: Sehat Mahal Harganya

19 November 2020, 08: 49: 29 WIB | editor : Bella Orlandis

Terbantu Biaya Pelayanan Kesehatan, Suliyanti: Sehat Mahal Harganya

Tulungagung – “Sehat itu mahal harganya, bukan sakit yang mahal harganya”, itulah yang disampaikan Suliyanti (64) salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) asal Kabupaten Tulungagung yang telah beberapa kali memanfaatkan JKN-KIS. Pensiunan guru ini mengaku memiliki kolesterol yang tinggi sehingga pernah beberapa kali menjalani rawat inap di rumah sakit.

“Sebenarnya sehat-sehat saja, terus akhir-akhir ini kolesterol tinggi, Tetapi Alhamdulillah rutin kontrol di FKTP, kolesterolnya mulai stabil. Saya dari dulu kan mulai belum pensiun sudah punya kolesterol tinggi, kadang denyut jantung tidak stabil. Pernah dulu opname karena kolesterol dan jantung tidak stabil. Dua kali rawat inap, yang pertama sekitar 6 hari, yang kedua sekitar 3 hari,” ucap ibu 2 anak ini.

Karena naik kelas, Suliyanti mengaku mengeluarkan biaya untuk selisih biaya ruang kelas perawatannya. Rawat inap pertama, Suliyanti harus membayar Rp 2juta, yang kedua tidak sampai Rp 1juta. Namun demikian, Suliyanti merasa sangat terbantu.

“Seandainya nggak pakai BPJS mungkin ya cukup banyak, wong anak saya waktu itu pernah opname nggak pakai BPJS habis sekitar Rp 5juta, demam berdarah waktu itu. Alhamdulillah pelayanannya baik, apalagi naik ke graha pelayanannya pasti jauh lebih baik. Mungkin kalau sesuai kelas saya juga baik. Tidak dibedakan walaupun pakai BPJS,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, menurut Suliyanti memiliki JKN-KIS sangat membantu sekali, khususnya bagi mereka yang sakit dan bergantung pada pelayanan kesehatan. Seperti tetangga Suliyanti yang memiliki penyakit asma, sering rawat inap di rumah sakit.

“Kalau menurut saya sangat membantu sekali (JKN-KIS, red) bagi mereka, baik yang fasilitasnya kelas 3 itu sangat membantu masyarakat sekali. Apalagi yang sudah sering kontrol atau yang harus masuk rumah sakit. Ini tetangga saya katanya pengalamannya seperti itu, tetangga saya ini punya asma, kalau asma kan sering opname. Katanya andaikata nggak ikut BPJS ya biayanya lumayan besar walaupun itu kelas 3. Dan menurut saya sangat membantu masyarakat yang kecil, kan ikut terbantu,” terang Suliyanti.

Suliyanti berharap bagi masyarakat yang belum ikut program Pemerintah ini agar bisa mengikuti jejak para peserta JKN-KIS yang sudah merasakan manfaat JKN-KIS. Sebab menurutnya musibah sakit itu tidak bisa dihindari. Dengan JKN-KIS bisa terbantu dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang tepat.

“Ya mudah-mudahan mereka (yang belum terdaftar JKN-KIS) menyadari dengan melihat beberapa tetangga-tetangga yang sudah mengalami, terutama bagi mereka yang ekonominya sangat lemah, kan betul-betul dirasakan. Bahwa siapa orang yang tidak ingin sehat, semua pasti ingin sehat, tetapi kan suatu saat Tuhan itu kan memberikan ujian kepada kita berupa sakit, itu kan tidak bisa kita pungkiri, kita tolak, yang namanya sakit itu semua orang pasti akan mengalami, daripada kita beli obat yang belum tentu manfaatnya, tepat atau tidak. Meskipun hanya kelas 3 kan tidak terlalu besar, tetapi kalau sudah sakit, opname, mungkin biayanya bisa beratus kali lipat dari yang mereka bayarkan di kelas 3, nggak sebanding,” tegasnya.

Suliyanti sebagai anggota Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan karena sudah terbantu. Dirinya berharap BPJS Kesehatan bisa mempertahankan pelayanan dan meningkatkan program-program yang dimiliki, sehingga kepercayaan masyarakat akan manfaat JKN-KIS bisa lebih besar.(Jamkesnews.com)

(rt/dre/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news