alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

238 Sumber Mata Air Hilang

19 November 2020, 11: 24: 05 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Anang Pratistianto

Anang Pratistianto (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung – Saat ini Kabupaten Tulungagung tengah mengalami krisis sumber mata air. Bagaimana tidak, dari total mata air yakni 284 kini hanya menyisakan 46 sumber mata air saja. Berkurangnya sumber mata air yang sangat signifikan tersebut disebabkan karena banyak hutan yang ada di Kota Marmer yang gundul. Maka dari itu harus ada kesadaran masyarakat untuk melestarikan hutan kembali agar sumber mata air yang mati bisa dihidupkan kembali.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kabupaten Tulungagung, Anang Pratistianto mengatakan, sumber mata air yang aktif di Tulungagung sudah banyak yang hilang. Jika dipersentasekan pengurangan sumber mata air aktif di Tulungagung mencapai 84 persen dari total 284 sumber mata air. “Saat ini Tulungagung tengah mengalami krisis sumber mata air,” tuturnya.

Anang, –sapaan akrabnya menjelaskan, berdasarkan data, di Tulungagung hanya menyisakan setidaknya 46 sumber mata air yang masih aktif. Jumlah sumber mata air aktif tersebut tersebar dibeberapa kecamatan di Tulungagung seperti Kecamatan Besuki, Rejotangan, Karangrejo, dan Campurdarat. “Hanya terisisa 46 sumber mata air aktif di beberapa kecamatan di Tulungagung,” jelasnya.

Jika dilihat kembali hilangnya 238 sumber mata air di Tulungagung itu diakibatkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah banyaknya hutan di Tulungagung yang rusak, sehingga mengakibatkan tidak adanya resapan air dan membuat mata air aktif menghilang. Selain itu, kurangnya perhatian dari masyarakat untuk melestarikan mata air didaerahnya juga menjadi salah satu penyebabnya. “Kini sudah jarang sekali masyarakat yang mengangkat budaya lokal dalam nguri-uri sumber mata air. Dan banyaknya hutan yang rusak membuat hilangnya sumber mata air,” paparnya usai peringatan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-815 di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa, kemarin (18/11).

Mantan Camat Kedungwaru itu mengungkapkan, hilangnya sumber mata air yang signifikan di Tulungagung tentu akan memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat terutama terkait permasalahan lingkungan dan sosial masyarakat. Maka dari itu, untuk bisa mengembalikan sumber mata air di Tulungagung, harus ada gotong royong masyarakat. Menghidupkan kembali kebudayaan dalam melestarikan sumber mata air. Selain itu juga pentingnya untuk melakukan penanaman pohon dalam rangka reboisasi. “Jika masyarakat ingin bekerjasama dengan kami dalam pelestarian sumber air itu sangat dimungkinkan sekali,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news