alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Jangan Ada Viktimisasi Terduga Korban

IAIN Tulungagung Belum Agendakan Pendampingan

19 November 2020, 11: 31: 25 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Infografis

Infografis

KOTA, Radar Tulungagung – Masyarakat diharapkan tidak melakukan viktimisasi kepada terduga korban dugaan kekerasan seksual di IAIN Tulungagung. Artinya seakan-akan kesalahan diarahkan kepada terduga korban. Pasalnya, hal itu sudah masuk dalam upaya memarginalkan terduga korban. Selain itu, baik terduga korban dan terduga pelaku kekerasan seksual perlu mendapatkan pendampingan psikologis secara profesional dan tentunya tidak cukup jika hanya dilakukan konseling saja.

Praktisi psikologi, Ifada Nur Rohmania mengatakan, memang di dunia ini tidak semua tempat aman. Apalagi mengenai kekerasan seksual, tentu dimanapun itu tempatnya berpotensi terjadinya kekerasan seksual. Kendati demikian, harus ada kesadaran didalam diri, bahwa tubuh ini memiliki otoritas pada dirinya sendiri. “Hal ini masih belum banyak yang memahami bahwa tubuh kita adalah otoritas kita. Jadi orang lain tidak boleh sembarangan menyentuh tubuh kita,” tuturnya.

Melihat dugaan kasus kekerasan seksual di IAIN Tulungagung, Ifada, –sapaan akrabnya menjelaskan, dalam menangani kasus tersebut jangan sampai terduga korban mengalami viktimisasi, yang seakan-akan kesalahan berada di terduga korban. Karena, sudah sangat bagus sekali ada seseorang yang merasa dirinya menjadi korban kekerasan seksual berani untuk melapor. “Bagaimanapun upaya viktimisasi terduga korban merupakan suatu bentuk memarginalkan terduga korban kekerasan seksual,” jelasnya.

Memang ketika berada diposisi terduga korban kekerasan seksual, sering kali mengalami konflik didalam diri. Hal itu juga sangat dipengaruhi oleh persepsi negatif dari orang lain kepada terduga korban. Maka dengan seperti itu membuat banyak sekali korban kekerasan seksual tidak berani untuk speak up. Selain itu mereka juga tidak terbiasa melakukan asertif. “Jadi terduga korban yang sudah berani untuk speak up itu sudah luar biasa. Dengan hal itu siklus kekerasan seksual bisa diredakan atau bahkan diputus,” paparnya.

Perempuan ramah itu menambahkan, sangat dimungkinkan sekali terduga korban kekerasan seksual mengalami intimidasi. Hal ini bisa membuat kondisi psikologis korban rentan mengalami depresi, kecemasan, ketakutan, yang bisa memberikan dampak jangka panjang bagi kelangsungan hidupnya. Maka yang paling terpenting untuk saat ini dilakukan oleh terduga korban adalah untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, agar tidak membebani dirinya. “Di sini penting sekali bantuan dari psikolog yang profesional. Karena terduga korban dan pelaku kekerasan seksual haraus dilakukan assessment secara mendalam untuk melihat akar permasalahanya. Dan terduga pelaku pasti memiliki suatu hal dimasa lalunya yang masih belum terselesaikan yang akhirnya membuat dia melakukan seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, Humas IAIN Tulungagung, Ulil Abshor mengungkapkan, untuk pendampingan psikologis pihak kampus belum melakukan hal itu. Pasalnya, saat ini status mereka masih sebagai terduga pelaku dan korban, yang belum ada keputusannya. Maka belum ada pendampingan psikologis. Selain itu, kasus dugaan kekerasan seksual ini dilakukan diluar kampus dan tidak ada hubunganya dengan kegiatan kampus. “Karena statusnya masih terduga dan belum ada keputusan, maka belum ada pendampingan psikologis,” ungkapnya.

Ulil –sapaan akrabnya menuturkan, hingga saat ini pihak kampus masih melakukan mediasi kepada kedua belah pihak. Di dalam mediasi tersebut pihak kampus akan menggali informasi, agar mengetahui duduk perkara terhadap dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa IAIN Tulungagung. “Kampus memerlukan klarifikasi dari kedua belah pihak. Seandainya mereka berdua datang bersamaan tidak langsung dilakukan konfrontir, Dan pihaknya akan menyelesaikan permasalahan ini secepatnya” tuturnya.

Pria berkumis tipis itu juga menjelaskan, pihak kampus juga sudah memiliki SOP mengenai pencegahan dan penanggulan kasus kekerasan seksual yang ditandatangani oleh rektor. Didalam SOP tersebut setidaknya membahas mengenai pendefinisian kekerasan seksual, tempo dan lokasi, serta mengenai langkah-langkah dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual. “Secara umum SOP itu membahas mengenai definisi kekerasan seksual, tempo dan lokus, dan lain sebagainya,” ucapnya.

Saat disinggung mengenai apakah ada upaya viktimisasi dari pihak kampus kepada terduga korban kekerasan seksual, Ulil dengan tegas menampik hal itu. Karena pada kenyataanya setelah kampus menerima aduan, langsung mengambil langkah mediasi untuk meminta klarifikasi kepada kedua belah pihak. Dan tetap diberi sudut pandang dalam menyelesaikan permasalaha ini. “Itu kesimpulan yang terburu-buru, karena saat ini kampus masih mencari duduk perkaranya. Dan hingga saat ini masih belum ketemu duduk perkaranya,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news