alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pengalaman Studi Banding

Inovasi Manfaatkan Gas Metan di TPA Tegalasri Wlingi

Kini Jadi Jujugan Luar Daerah

20 November 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

HEMAT ENERGI: Suwardi memasak air menggunakan api dari kompor berbahan bakar gas metan, kemarin (19/11).

HEMAT ENERGI: Suwardi memasak air menggunakan api dari kompor berbahan bakar gas metan, kemarin (19/11). (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR)

Sudah tiga tahun pemanfaatan gas metan di TPA Tegalasri, Wlingi berjalan. Ada sekitar 10 kepala keluarga (KK) yang memanfaatkannya. Keterjangkauan rumah warga dengan TPA, serta minimnya fasilitas pendukung menjadi salah satu kendala untuk memperluas penyaluran gas tersebut.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Wlingi, Radar Blitar

Hamparan tumpukan sampah menggunung di TPA Tegalasri langsung terlihat saat memasuki area pembuangan akhir ini. Di kejauhan tampak seorang perempuan mengais-ngais sampah yang sudah menumpuk. Dia mencari sampah plastik dan botol plastik yang akan didaur ulang.

Tak jauh, alat berat jenis ekskavator juga sedang mengeruk sampah yang baru datang dan diturunkan dari truk. Sampah-sampah itu diratakan agar tidak sampai menggunung. "Ini masih belum penuh. Masih mampu menampung sampah," ujar Koordinator TPA Tegalasri, Wlingi, Suwardi kepada Koran ini kemarin (19/11).

Sebenarnya, tutur dia, tumpukan sampah sudah terbilang cukup menumpuk. Namun, karena letak pembuangan sampah itu berada di jurang maka sampah yang tertimbun dari bagian dasar jurang sudah meninggi. "Ini jadi keuntungan kami. Lokasinya tepat untuk tempat pembuangan akhir sampah," ungkapnya.

Nah, jauh di dalam area tumpukan sampah itu, tertanam pipa-pipa besar dan buis beton. Benda-benda itulah yang menyalurkan gas metan dari sampah. Dan hingga kini, manfaatnya telah dirasakan sejumlah warga di sekitar TPA.

Ya, sejak beroperasi pada 1991, TPA Tegalasri itu telah menjadi sarana pembuangan sampah akhir. Suwardi menuturkan, bahwa TPA Tegalasri merupakan TPA yang terbesar di wilayah Kabupaten Blitar. "Kalau di Kabupaten Blitar itu ada beberapa TPA, seperti di Wilayah Srengat, Lodoyo, hingga Pagerwojo (Kecamatan Kesamben)," ungkap pria 50 tahun itu.

Selama berjalannya waktu, TPA yang berada di Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi, itu terus berkembang. Bukan hanya dijadikan sarana pembuangan akhir sampah, melainkan juga tempat pengolahan sampah menjadi pupuk, hingga bahan bakar energi. Salah satunya adalah gas metan.

Pengolahan sampah untuk dijadikan gas metan itu dimulai sejak 2016 lalu. Itu berawal dari studi banding petugas TPA Tegalasri ke sejumlah daerah. "Kami belajar tentang pengolahan sampah ini, hingga menjadi bahan bakar energi. Dari studi banding itulah kami belajar, salah satunya pemanfaatan gas metan sampah," ujar bapak empat anak ini.

Menurut dia, sampah-sampah yang sudah tertimbun lama itu menghasilkan energi berupa gas metan. Jika diolah dengan tepat, maka bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar energi yang sangat bermanfaat. "Dari situlah, kami akhirnya mencoba mengolah gas metan. Pada 2016 mulai membuat instalasi pengolah gas metan," bebernya.

Instalasi itu berupa saluran pipa-pipa besar dan buis beton. Kegunaannya untuk menyalurkan dan mengolah gas metan yang terdapat di dalam timbunan sampah. Instalasi itu ditempatkan di dasar tumpukan sampah. "Awalnya, untuk menaruh dan memasukkan instalasi ini, kami mengeruk sampah hingga puluhan meter," jelas Suwardi.

Semua tahapan dilakukan secara mandiri oleh petugas TPA, hanya berbekal ilmu yang diperoleh dari studi banding. Proses pembuatan instalasi itu memakan waktu yang tidak pendek. Sampai berbulan-bulan, karena memang keterbatasan tenaga. Hingga pada 2017, Suwardi dan kawan-kawan berhasil membuat instalasinya dan langsung dioperasikan.

Usaha tersebut tidak sia-sia. Sumber energi berupa gas metan yang tertimbun di dalam sampah, berhasil diolah dan menjadi bahan bakar gas. Gas yang dihasilkan juga tidak jauh berbeda dengan gas-gas pada umumnya. "Malah gas metan ini lebih aman, karena tekanannya sangat rendah bahkan nyaris tidak ada. Jadi tidak sampai memicu ledakan," ungkap pria yang sudah diangkat pegawai negeri sipil (PNS) sejak 2007 ini.

Dari keberhasilannya itu, Suwardi berpikir untuk mengembangkannya. Dia tidak ingin manfaat dari pengolahan gas metan itu dinikamatinya sendiri. Dari situ, dia memulai untuk menyalurkan gas metan tersebut ke sejumlah warga sekitar TPA Tegalasri.

Untuk sementara, masih sekitar 10 KK yang bisa menikmati manfaat gas metan itu. Suwardi memang memilih rumah-rumah warga yang bisa dijangkau dan berada di sekitar TPA. "Kalau diperluas sebenarnya bisa. Tapi butuh blower yang lebih besar lagi untuk menyalurkan gas metan tersebut. Rencananya, jika TPA jadi diperluas, mungkin penyaluran gas ini juga bisa bertambah," ungkap tersenyum.

Untuk menyalurkan gas metan itu memang membutuhkan mesin blower, yang fungsinya untuk meniup gas dari pipa besi, hingga bisa naik dan tersalurkan. Sebab, gas tersebut tidak memiliki tekanan yang tinggi dan tidak berbau.

Dikutip dari berbagai sumber, bahwa gas metan itu juga tergolong gas yang berbahaya. Pasalnya, gas itu merupakan pemicu efek rumah kaca. Tetapi, jika gas metan di penampungan sampah diolah secara tepat, maka sangat menguntungkan dan bisa menjaga kelestarian lingkungan.

Dari pemanfaatan gas metan itu, kini di TPA dibangun kafe sederhana. Kafe itu sebagai jamuan untuk tamu-tamu yang berkunjung ke TPA. "Biasanya, kalau ada tamu dari luar daerah yang ingin belajar tentang pemanfaatan dan pengolahan sampah ini, saya ajak ke sini (kafe, Red). Kami buatkan minuman hangat dengan gas dari sampah ini," terangnya.

Di samping mengolah gas metan, TPA Tegalasri juga mengolah sampah untuk dijadikan pupuk cair, pupuk kompos, dan bahan bakar minyak. Bahan bakar minyak itu hasil dari penyulingan sampah-sampah plastik. (*)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news