alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Saiful Pribari, Warga Watulimo

Dulu Sebullan Garap 10 Pesanan Lebih, Kini Maksimal Hanya Lima

Terus Bekarya dengan Papan Kayu

20 November 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TERUS BEKARYA : Ipul ketika mengkerjakan pesanan gambar siluet dengan cara menggergajinya

TERUS BEKARYA : Ipul ketika mengkerjakan pesanan gambar siluet dengan cara menggergajinya (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Menggambar pada papan kayu, mungkin cukup menarik dan jarang ada orang yang bisa melakukannya. Namun apajadinya jika menggambar yang dilakukan dengan cara menggergaji, seperti yang dilakukan oleh Saiful Pribadi. Benar saja, karena terbilang unik hasil kerajinan dulu sebelum adanya Pandemi Korona dipesan oleh orang luar negeri seperti Taiwan.

ZAKI JAZAI, Watulimo, Radar Trenggalek

Gergaji listrik, lem kayu, alat penghalus kayu dan alat pertukangan kayu lainnya terlihat di salah satu ruangan,  pada rumah Saiful Pribadi di Desa Ngebel, Kecamatan Watulimo. Tak ketinggalan di samping ruangan tersebut juga ada papan kayu, dan cat kayu jenis plitur. Namun, ada yang berbeda dari itu semua, peralatan pertukangan tersebut bukan digunakan untuk membuat perabotan rumah tangga, melainkan untuk membuat media gambar, layaknya kanvas, atau buku gambar.

Itu terlihat, setelah mempersiapkan peralatannya, Ipul (sapaan akrab Saiful Pribadi) tengah mengambil papan kayu. Seketika itu, dirinya langsung memotong papan kayu tersebut dengan gergaji listrik, dan mengelemnya beberapa bagian hingga membentuk sesuai yang diinginkan. Setelah lemnya kering, baru papan kayu tersebut dihaluskan yang kemudian pada bagian atasnya digambari sketsa gambar yang diinginkan. Setelah menggambar sketsa selesai, barulah Ipul mulai menggambar papan kayu tersebut.

Namun ada yang aneh dengan cara menggambarnya, bukan menggunakan kanvas melainkan dengan cara menggergajinya. Ya, saat itu Ipul  mempraktikkan cara menggambar dengan metode mengukir dengan cara memotong dengan gergaji yang telah ditekuninya hampir lima tahun ini. "Kendati tidak sebanyak dahulu, syukurlah ditengah korona ini saya masih mendapatkan pesanan," ungkap Ipul kepada Jawa Pos Radar Trenggalek ini.

Itu terlihat sebelum virus korona mewabah hingga ke Trenggalek, dalam setiap bulannya dirinya menyelesaikan minimal 10 buah. Pesanan tersebut kebanyakan foto seseorang, atau anggota keluarga untuk hadiah ulang tahun, anniversary, atau oleh-oleh orang terkasih. Sebab hasil karyanya terbilang unik, dan di Trenggalek belum ada yang menekuninya. Sehingga dia sering mendapatkan pesanan dari luar pulau, seperti Kalimatan dan Papua, hingga luar negeri seperti Taiwan. "Jika biasanya gambar dengan kanvas, namun karya saya ini siluet, dengan cara menggergaji, makanya karena berbeda banyak yang suka," ungkapnya.

Dari situ, dengan banyaknya pesanan, Ipul sering izin kerja di salah satu klinik kesehatan wilayah Kecamatan Watulimo untuk menyelesaikannya. Sehingga dia sering mengganti izin pekerjaanya tersebut di lain hari. Namun saat ini, hal itu jarang dilakukan, sebab semenjak adanya pandemi korona pesanan yang datang padanya turun drastis. Itu terlihat setiap bulannya sejak Maret lalu pesanan selalu dibawah lima saja.

Kendati demikian dirinya tidak patah semangat begitu saja. Kendati pesanan turun, dirinya tetap terus membuat karya dengan bentuk berbagai tokoh yang dikenal di tengah masyarakat, dan banyak penggemarnya. Tokoh tersebut seperti pejabat aerah, artis, olahragawan, pahlawan nasional, dan sebagainya. Tak ayal dengan memiliki penggemar sendiri, hasil karnyanya tersebut selalu laku.

Sedangkan, jika ada pesanan  dalam proses pengerjaanya, untuk menghindari komplain dari pelanggan, untuk sketsa wajah dirinya meminta kiriman foto jika dalam bentuk soft copy dengan ukuran besar. Itu dilakukan agar hasil cetakan bagus dan gambar yang dihasilkan bagus pula. Selanjutnya, foto yang dikirimkan dikembalikan dalam bentuk siluet, jika pelanggan meyetujui lasung diproses.

Untuk memproses pengerjaan sendiri, setiap pesanan mulai awal hingga akhir diperlukan waktu sekitar tiga hari. Itu dengan catatan sinar matahari cukup, itu dilakukan agar cat plitur yang dioleskan cepat kering. Sedangkan untuk harga sendiri tidak ada perubahan, yaitu sekutar Rp 100 ribu, itu untuk hasil karya dengan ukuram 10 R, dengan satu foto. Sebab jika karya lebih besar dan foto lebih dari satu diberikab harga yang sedikit mahal karena bahan baku bertambah, dan pengerjaan lebih sulit."Syukurlah untuk saat ini tidak ada komplain. Sebab untuk gambar wajah, saya tidak mau melayani jika foto yang dikirimkan jelek, sebab akan mempengaruhi detail lukisan untuk mendekati mirip," jelas pria 34 tahun ini. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news