alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
icon-featured
Features
Telusuri Asal Kata ke Pedesaan

Toto Fibri Kurniawan Usung Subsubdialek Tulungagungan Jadi Cenderamata

Media Pengobat Rindu PMI

20 November 2020, 11: 20: 34 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF : Toto Fibri Kurniawan mengusung konsep subdialek Tulungagungan pada usaha cenderamatanya

KREATIF : Toto Fibri Kurniawan mengusung konsep subdialek Tulungagungan pada usaha cenderamatanya (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Mengusung konsep subdialek khas Tulungagungan, Toto Fibri Karuniawan sukses kembangkan usahanya dibidang cindera mata. Rata-rata dibeli untuk buah tangan ketika berkunjung di Kabupaten Tulungagung. Itu karena, subdialek tersebut tidak hanya unik dibaca/diucapkan, tapi juga dapat mewakili identitas masyarakat dari Bumi Lawadan.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kota, Radar Tulungagung

Dammen, djian mening, peh ora umum merupakan ungkapan yang sering diucapkan masyarakat yang tinggal di Kabupaten Tulungagung. Namun, koran ini dapat menemukan subdialek tersebut dengan mudah dan tertulis jelas di kaus dan topi milik Toto Fibri Karuniawan.

Karena, kebetulan pria yang berdomisili di Desa Panggungrejo, Kecamatan Kauman ini memiliki usaha cenderamata yang mengambil konsep tentang budaya khas Tulungagungan. Konsep ini diambil Toto tak sekedar membidik marketplace d bidang oleh-oleh khas Tulungagung, tapi juga ingin mempromosikan budaya Tulungagung yang diketahui memiliki nilai sejarah yang mengagumkan.

"Tak hanya subdialek khas Tulungagungan, kami juga ada kaus yang menampilkan situs, budaya, kesenian, serta cagar budaya Kabupaten Tulungagung seperti foto retjo pentung, pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa era 1837, candi Gayatri dan lainnya," terangnya saat ditemui di galerinya di Jalan MT Haryono No. 123, Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung.

Toto sapaan akrabnya itu mengaku untuk mendapatkan kata/subdialek tersebut tidaklah sulit. Karena, sering diucapkan masyarakat umum yang tinggal di Tulungagung, khususnya saat di pasar, nongkrong di warung kopi, atau keseharian. Namun untuk memastikannya, ia beberapa kali menelusuri asal subdialek tersebut dari desa ke desa. "Sempat terkumpul pendataan itu lebih dari 25 kata. Namun pendataan subdialek Tulungagungan itu terhenti sementara karena saya sibuk mengurus usaha saya ini agar tetap jalan," katanya.

Bermodal uang pesangon, cenderamata berupa kaus, topi atau lainnya itu, ia desain semenarik mungkin. Karena, ia menyasar semua kalangan umur. Bahkan, tak jarang berupa grafis dengan tambahan kalimat atau tata bahasa yang berlaku masa itu (tempo dulu). "Dengan konsep ini, ternyata responnya dari tahun ke tahun terus meningkat," ujarnya.

Untuk pemasarannya, cenderamata yang diberi brand GADHE yang memiliki akronim gegayuhan sing gedhe atau cita-cita besar itu telah meluas di seluruh Indonesia. Itu berkat, memanfaatkan website dan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Tak hanya itu saja, ia juga sering mengikuti pameran bersama dinas terkait yang memiliki peluang besar mengenalkan usahanya di kabupaten/kota lain di Indonesia. "Kalau melihat dari dua metode pemasaran itu, baik online atau offline sama sama banyak peminatnya," tegasnya.

Sebut Toto, tak jarang cenderamatanya jadi pengobat rindu para pekerja migran Indonesia (PMI) asal Tulungagung yang bekerja di Hongkong, Taiwan atau lainnya. Sehingga, ketika ada yang pulang ke Tulungagung, PMI selalu menyempatkan diri untuk membawa oleh-oleh berupa kaus yang dapat digunakan keseharian di negara tetangga. Dan dengan memakai kaus bertema budaya daerah kelahiran, dapat menumbuhkan rasa bangga. "Dengan subdialek ini, orang sudah tahu kalau pasti orang Tulungagung. Kalau sama-sama orang Tulungagung, langsung muncul chemistry. Dan pada akhirnya akrab, karena satu kabupaten," jelasnya.

Ide kreatif memanfaatkan konsep budaya khas Tulungagungan ini seperti situs, kata Toto sempat mendapat apresiasi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Karena selain mempromosikan budaya daerah juga menjadi media edukasi sejarah masyarakat. Bahkan agar produk usahanya tetap fresh, tiga bulan sekali ia dengan timnya akan membuat desain baru. "Pandemi Covid-19 kemarin juga sempat memukul usaha kami. Adanya pembatasan sosial di daerah, serta ditutupnya tempat wisata membuat permintaan menurun hampir 70 persen," terangnya.

Kendati demikian, ia tetap berusaha bangkit dengan menggenjot promosi di media sosialnya. Dan akhirnya mulai kembali ada peningkatan pesanan dua bulan terakhir ini. "Semoga kembali pulih, karena apa yang saya lakukan ini merupakan bagian dari kecintaan saya dengan daerah kelahiran saya. Sehingga kabupaten Tulungagung bisa lebih dikenal," tandasnya.(*)

(rt/lai/alwk/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news