alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Bermodal Humor Gus Dur

Ervina Soviani dan Aziza Sugesti Sabet Juara 3 Nasional LKIR LIPI 2020

Jadi Solusi Permasalahan Intoleransi

21 November 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

LUAR BIASA: Ervina Soviani Nursiam dan Aziza Sugesti Roqima tengah menunjukkan poster hasil karyanya yang menjuarai lomba nasional di depan MAN 2 Tulungagung, kemarin (20/11).

LUAR BIASA: Ervina Soviani Nursiam dan Aziza Sugesti Roqima tengah menunjukkan poster hasil karyanya yang menjuarai lomba nasional di depan MAN 2 Tulungagung, kemarin (20/11). (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi Ervina Soviani Nursiam dan Aziza Sugesti Roqima dalam meraih prestasi. Melalui karya ilmiahnya yang berjudul Banyolan Gus Dur: Solusi Mengedukasi Nilai-Nilai Toleransi Melalui Stand Up Komedi Berbasis Humor Gus Dur, siswi asal MAN 2 Tulungagung itu berhasil mearih juara 3 nasional dalam lomba karya ilmiah remaja (LKIR) yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2020.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, BOYOLANGU, Radar Tulungagung.

Pagi itu terlihat dua siswi yang tengah duduk di gazebo MAN 2 Tulungagung. Saat itu mereka juga sedang asyik mengobrol dengan guru pendampingnya mengenai hasil pengumuman kejuaraan yang dimenangkan dua siswi tersebut dalam LKIR LIPI 2020. Kedua siswi itu adalah Ervina Soviani Nursiam dan Aziza Sugesti Roqima. Rasa bahagia dan syukur sangat jelas terlihat dari kedua siswa asal MAN 2 Tulungagung itu.

Ervina, –sapaan akrabnya mengatakan bahwa pihaknya tidak menyangka bisa mendapatkan juara 3 nasional dalam LKIR LIPI 2020. Karena ini merupakan kali pertama pihaknya mengikuti lomba dalam tingkat nasional. Bahkan dengan adanya pandemi Covid-19, juga membuat tantangan tersendiri bagi mereka. “Ini baru pertama kali kami mengikuti lomba nasional. Dan tidak menyangka bisa mendapat juara 3 nasional. Kami sangat senang sekali,” tuturnya.

Cewek asal Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol itu menjelaskan, dalam LKIR LIPI 2020 semua proses perlombaan dilakukan melalui daring akibat pandemi Covid-19. Selain itu, lomba tersebut juga memiliki tahapan yang panjang. Mulai dari membuat proposal hingga presentasi hasil karya. Pada tahap pertama mereka harus bersaing dengan ribuan peserta seluruh Indonesia dan hanya akan diambil 10 peserta saja. Dari 10 peserta itu salah satunya adalah tim dari MAN 2 Tulungagung. “Setelah itu kami masuk dalam tahap mentoring langsung oleh ahli dari LIPI hingga tahap pengumpulan naskah akhir,” jelasnya.

Cewek ramah itu menceritakan, kali ini mereka membuat karya mengenai kasus-kasus kekerasan akibat intoleransi. Dari permasalahan tersebut mereka memutuskan untuk mengambil solusi dari humor-humor Gus Dur yang memiliki nilai toleransi yang tinggi. Dari humor Gus Dur itulah mereka kemas dengan stand up komedi. Tujuanya adalah sebagai media edukasi nilai-nilai toleransi dan menganalisa efektivitas stand up komedi berbasis humor Gus Dur sebagai media edukasi nilai-nilai toleransi. “Nah, kami mengambil humor Gus Dur yang dikemas dalam stand up komedi untuk menyampaikan solusi terhadap permasalahan intoleransi,” ujarnya.

Aziza, –sapaannya, juga menambahkan, bahwa dalam membuat narasi komedi itu adalah proses yang paling sulit. Pihaknya harus bisa menyusun dan menyampaikan humor Gus Dur dalam narasi stand up komedinya, selain itu pihaknya juga harus bisa membuat narasi tersebut menjadi lucu. Oleh karena itu dalam penyusunan narasi komedi, tak jarang mereka juga mempraktikkannya apakah narasi tersebut lucu atau tidak. “Kami juga tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia saja, tapi juga menggunakan Bahasa Jawa medok agar lebih lucu dan menarik,” tambahnya.

Setelah naskah stand up komedi tersebut selesai, mereka juga masih harus melakukan uji validasi kepada responden yang terdiri dari guru, siswa hingga komika lokal Tulungagung. Setelah itu pada tahap akhir mereka juga diharuskan membuat video presentasi yang akan dinilai oleh juri dari LIPI. “Kami fokus membuat narasi stand up komedi satu minggu. Dan untuk pembuatan video presentasi kami hanya membutuhkan dua hari saja,” papar cewek yang berdomisili di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru itu.

Dia pun menuturkan bahwa semua ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari sekolah, guru, orang tua, dan teman-teman yang selalu ada ketika mereka mengalami kesulitan. “Banyak pihak yang membantu kami hingga bisa mendapatkan juara 3 nasional LKRI LIPI 2020,” ucapnya.

Sementara itu guru pendamping MAN 2 Tulungagung, Muhib mengatakan bahwa perjuangan dua siswa MAN 2 Tulungaung ini benar-benar luar biasa. Tentunya dengan perjuangan mereka yang sangat melelahkan ini bisa terbayar dari hasil yang mereka dapatkan. Bahkan dengan adanya pandemi Covid-19 tidak menjadi hambatan bagi mereka dan pihaknya dalam menyiapkan lomba tersebut. “Alhamdulillah bisa mendapat juara 3 nasional. Dan dari sambutan Ketua LIPI rencananya akan berlanjut ke tingkat internasional,” pungkasnya.(*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news