alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Belajar Otodidak

Aktivitas Ruli Efendi, Pegiat Papper Cutting dari Gandusari

Di Masa Pandemi Penjualan Menurun

28 November 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

MANDIRI: Ruli sedang membuat karya paper cutting di rumahnya di Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari.

MANDIRI: Ruli sedang membuat karya paper cutting di rumahnya di Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

Lima tahun terakhir Ruli Efendi menekuni paper cutting alias seni potong kertas. Karya seni dari kertas itu cukup banyak diminati. Sayangnya, karena pandemi korona, permintaan produk warga Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari ini ikut terdampak.

AGUS MUHAIMIN, Gandusari, Radar Blitar

Butuh momen tepat untuk menghasilkan karya. Begitu juga dengan Ruli Efendi yang beberapa tahun ini sedang menggeluti karya seni berbahan baku kertas, paper cutting. Di tangannya kertas yang polos itu bisa diubah menjadi karya yang bernilai ekonomi.

Sekilas paper cutting memang terlihat simpel. Menggunting-gunting kertas untuk dibentuk menyerupai gambar tertentu. Namun, tantangannya ada pada proses pemotongan atau pengguntingan. Dalam proses pengguntingan ini tidak boleh ada potongan. Dari sini akan diketahui, butuh kejelian dan kesabaran dalam membuat karya yang terlihat sederhana tersebut. “Sebenarnya saat ini sudah banyak alat canggih yang bisa membuat potongan yang rapi tanpa putus. Tapi saya gak jual kerapian, melainkan seni memotong kertas,” tuturnya lantas tertawa.

Bayangkan saja, untuk memunculkan desain atau gambar yang njelimet itu, Ruli harus mempertimbangan setiap panjang pendek kertas. Salah gerak sedikit sudah bisa dipastikan harus mengulangi dari awal. Tidak boleh ada garis putus dalam satu frame gambar. “Kalau putus itu sudah biasa, makanya prosesnya cukup lama,” terang lulusan SMA ini.

Lama proses pengerjaan dipengaruhi oleh dan besar desain karya yang hendak dibuat. Kendati begitu, minimal butuh waktu sekitar tiga jam untuk fokus membuat karya papper cutting. Itu adalah ukuran kecil dengan karakter gambar yang sederhana.

Dalam teknisnya, Ruli memanfaatkan aplikasi yang ada di smartphone-nya untuk membuat desain. Berikutnya, gambar yang sudah didesain tersebut dicetak. Setelah itu, baru pekerjaan memotong atau melubang kertas ini dimulai.

Ruli bukan jebolan perguruan tinggi seni. Dia hanya pemuda lulusan sekolah menengah atas, yang belajar secara otodidak. Meski begitu, produk buatannya tersebut cukup diminati. “Awalnya hanya iseng, ada kertas nganggur, dipola menjadi gambar menarik menggunakan teknik cutting. Eh, setelah tak pake story di medsos, banyak yang minat dan pesan,” akunya.

Tak hanya lokal, karyanya tersebut sudah beredar ke mana-mana. Umumnya menjadi buah tangan yang nantinya digunakan sebagai hiasan dinding.

Ruli mengaku, pada awal produksi, ada pesanan dari Pasuruan. Tak tanggung-tanggung untuk awal berkreasi, dia mendapatkan lima pesanan sekaligus. Saking seneng-nya, dia tidak ingin memanfaatkan jasa pengiriman untuk mengantarkan produknya tersebut. “Tak antar sendiri. Bukan karena takut rusak ya, tapi karena seneng, sambil sekalian jalan-jalan,” cerita pemuda 22 tahun ini.

Harga karya paper cutting buatan Ruli beragam. Mulai dari Rp 150 ribu hingga sejuta juga ada. Tergantung ukuran dan media yang digunakan sebagai frame untuk paper cutting ini.

Ya, bingkai yang digunakan variatif. Tidak hanya dari aluminium, kayu-kayu ringan seperti jati londo dan lainnya, sering kali dimanfaatkan untuk penyempurna produk. Perbedaan material ini ternyata membawa dampak yang cukup besar. Selain tampilan yang berbeda, harga jualnya pun berbeda. Umumnya frame dari kayu memiliki nilai tawar yang lebih mahal.

Untuk mempercantik karyanya, warga Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari ini biasanya melengkapi karyanya dengan lampu. Pigura dan pelindung dari kaca itu ternyata cukup pas dengan paduan kerlap-kerlip lampu. Ide tersebut merupakan salah satu masukan dari para pelanggannya.  “Ada masukan, atau permintaan khusus, ya tetap tak turuti saja asal konsekuensi perbedaan harga bisa diterima oleh pemesan,” terangnya.

Ratusan karya sudah dijualnya. Terlebih sebelum pandemi korona. Sayangnya, tepat setelah diumumkannya pandemi korona di Bumi Pertiwi, permintaan mulai berkurang. Jika biasanya puluhan produk laku tiap bulannya, kini hanya beberapa saja pesanan yang masuk. Kendati begitu, Ruli tak patah arang. Dia tetap melayani permintaan tersebut. “Semangat awalnya kan memang pingin mandiri. Jadi tak anggap ini bagian dari proses. Ditelateni wae (ditelateni saja),” ujarnya lantas tertawa. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news