alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
icon-featured
Politik

Mitos Petahana Selalu Tumbang Terpatahkan

Ipin-Syah Ukir Sejarah Baru

12 Desember 2020, 11: 47: 38 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TEGAS: Salah satu pemilih yang sedang memasukkan surat suara ke kotak suara.

TEGAS: Salah satu pemilih yang sedang memasukkan surat suara ke kotak suara. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Kontestasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) 2020 menggores sejarah baru. Mitos apabila petahana selalu tumbang oleh penantang sejak Pilbup 2005 silam terpecahkan. Dinamika perpolitikan masyarakat di Trenggalek kini dinilai lebih rasional.

Ketua Jaringan Demokrasi Indonesia (JADI) Kabupaten Trenggalek Nur Huda mengatakan, jika melihat rekam sejarah Pilkada 2005, pasangan petahana Mulyadi Wiryono-Joko Irianto kalah atas pasangan Soeharto-Mahsun Ismail. Sama halnya Pilkada 2010, pasangan petahana Soeharto-Samsuri tumbang dari Mulyadi Wiryono-Kholiq. 

Tak sebatas itu, kekalahan petahana kembali terulang pada Pilkada 2015. Wakil Bupati Kholiq macung sebagai calon bupati dengan menggandeng Priyo Handoko, tapi ternyata kalah telak dari pasangan Emil Elestianto Dardak-Mochamad Nur Arifin dengan perolehan suara hingga 76 persen. "Apabila seperti kabar yang tersiar bahwa petahana bisa terpilih kembali, memang baru kali ini di Trenggalek," ungkapnya.

Huda meyakini, fenomena itu adalah bagian dari dinamika perpolitikan, bukan soal mitos bahwa petahana selalu kalah. Dinamika itu menggiring masyarakat lebih melek politik, terkait bahwa masyarakat yang berhak menentukan siapa pemimpinnya. "Artinya, tidak semata-mata kebetulan. Tiap paslon sudah berusaha untuk meraih simpati dari masyarakat saat kampanye dulu," ujarnya.

Sementara, imbuh dia, seorang petahana dimungkinkan menjalankan peran dan fungsi secara baik. "Dalam bahasa jawa itu petilasan, pembangunannya sangat dirasakan oleh masyarakat," kata dia.

Huda menegaskan, mitos bahwa petahana selalu kalah sebatas hanya anggapan yang tak rasional. Dinamika masyarakat lebih selektif sebelum memilih seorang pemimpin. Selama ini, masyarakat kian sadar soal kondisi perpolitikan. Berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah (pemda). Kinerja pemda itu sangat dirasakan betul bagi masyarakat. 

Alhasil, ketika kinerja itu benar dirasakan dan dinilai baik untuk masyarakat, jadi bukan memilih sebatas petahana dan penantang. Masyarakat lebih rasional dalam memilih pemimpinnya. "Artinya, kerja-kerja yang sudah dilakukan itu dirasakan masyarakat atau tidak. Selama ini saya tidak menemukan hal seperti itu saat (memilih yang irasional, Red) pemantauan selama Pilbup 2020 di tatanan bawah," jelasnya. 

Dikonfirmasi terpisah, Cabup Mochamad Nur Arifin mengatakan, dengan hasil hitung cepat sementara di atas 68 persen, pihaknya optimistis bisa mengalahkan paslon Ali Topan. "Saya ingin menggarisbawahi bahwa kita telah mengukir sejarah. Sejarah wakil bupati menjadi bupati Anda beri kepercayaan hari ini, juga sejarah petahana dipercaya kembali (menang, Red) secara langsung juga terukir pada hari ini," kata Mochamad Nur Arifin saat konferensi pers di Posko Pemenangan IPIN-SYAH, Rabu (9/12). (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news