alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Dilematis Peran Ibu  di Tengah Emansipasi 

23 Desember 2020, 12: 33: 26 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Oleh: EfiUsdiana

Oleh: EfiUsdiana

 Ibu merupakan pelita dalam kehidupan keluarga. Keberadaan ibu di tengah keluarga sangat penting. Baik buruknya sebuah keluarga tergantung pada peran ibu. Anak-anak bisa mengalami perkembangan yang maksimal juga karena adanya peran ibu. Ibu dapat mengayomi , mendidik, dan mengajarkan edukasi dan pemberi afeksi pada anak.

 Ibu juga bisa menjadi wonder woman yang mampu menjadi manajer dalam rumah tangga, yang memiliki wewenang dalam mengatur semua hal dalam keluarga.

 Banyak peran ibu lainya yang sangat dibutuhkan dalam interaksi dengan anak, ibu mampu menjadi psikolog yang mampu memperhatikan tumbuh kembangnya anggota keluarga terutama anak. Mulai tumbuh kembang kejiwaan, karakteristik, serta perilaku setiap anggota keluarga. Ibu juga merupakan sosok panutan yang selalu menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan pada anak. Maka tidaklah heran jika seorang anak sangat dekat dengan ibu. 

 Namun seiring dengan adanya perkembangan zaman di era modern dan dampak dari adanya kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), mendorong seorang ibu untuk memperjuangkan haknya agar setara dengan pria dalam beragam bidang. Telah banyak kontribusi yang diberikan seorang wanita untuk bangsa. Faktanya, sekarang ini, baik pria dan wanita berkesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang kemudian dilanjutkan dengan berkarir. Biasanya pria diwajibkan berkarir untuk menjadi tulang punggung keluraga, sedangkan wanita harus membuat pilihan terbaik antara karir atau menjadi ibu rumah tangga. 

 Aktivitas seorang ibu atas dalih persamaan gender atau emansipasi tersebut terkadang menimbulkan dampak negatif. Semakin banyak wanita yang sebagai ibu justru menyalahgunakan emansipasi dan kesetaraan gender menyebabkan hubungan keluarga tidak harmonis, menimbulkan disorganisasi keluarga, makin tingginya tingkat angka perceraian, serta hilangnya fungsi ibu sebagai pendidik generasi penerus bangsa. 

 Selain itu, karena adanya tuntutan ekonomi yang semakin sulit, mendorong seorang ibu untuk beraktivitas di luar rumah, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dan harus bekerja lama di luar rumah dihadapkan pada situasi yang sulit. Banyak ibu yang merasa dilematis, yaitu bekerja atau mengurus anak di rumah. Hal ini sering menjadi konflik inheren bagi seorang ibu karena harus menjalani dua sisi kehidupan yang berbeda. Rasa bersalah seorang ibu yang bekerja dan harus meninggalkan anak kepada pengasuh terkadang menyelimuti perasaannya. Karena seorang ibu tidak bisa lari dari kodratnya sebagai ibu. Mau tidak mau seorang ibu harus berperan ganda. Ketika ibu memiliki insting keibuannya, pasti akan mengkhawatirkan keadaan anaknya di rumah. 

 Bahkan, seorang ibu yang terlalu sering bekerja di luar rumah mengalami pengurangan interaksi dengan anggota keluarga lainnya, khusunya dengan anak-anak. Seorang anak terkadang melakukan aksi protes kepada ibunya karena mereka kurang mendapatkan perhatian dari ibu. Seorang ibu yang bekerja di luar rumah sampai waktu yang lama sangat sulit untuk bisa membagi waktunya dengan keluarga. Bagaimanapun seorang ibu yang bekerja di luar dalam waktu yang lama ketika sampai rumah pasti lelah. Karena beban kerja yang sangat berat dirasakan .

 Yakinlah seorang ibu memiliki jiwa yang kuat dan strong heart, yang mampu mengaktualisasikan dirinya di berbagai bidang dan pasti mampu juga menghadapi dilema yang dihadapi ketika mengahadapi dua pilihan yang sangat berat. Para ibu harus tetap berdiri kukuh di tengah situasi ekonomi yang kurang mampu serta tetap bekerja demi masa depan anak bangsa. Ibu harus mampu menentukan tujuan dari bekerja di luar, selain mendapatkan penghasilan, maka karir adalah salah satu alternatif untuk stabilitas rumah tangga. 

 Seorang ibu akan bijak jika mampu membagi waktunya selain berkarir atau bekerja di luar dengan aktivitas harian sebagai ibu rumah tangga. Jika tujuan berkarir lebih pada idealisme mengembangkan talenta, maka harus dipertimbangkan agar jangan terlalu larut dalam obsesi. Pada akhirnya tugas utama seorang ibu tetap terpenuhi dengan baik. Jika terjadi keseimbangan antara karir dan mengurus rumah tangga, maka ibu dapat menjadi panutan bagi anak-anaknya. Tetap semangat para ibu karena di pundak kalian akan tercipta generasi bangsa yang kuat. 

Penulis adalah Alumni Universitas surabaya (Unesa) Tahun 2003 (*)

(rt/dre/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news