alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Kekompakan Jadi Kunci

Tim Glorius Cyber Menggondol Juara I Nasional E-sport

Comeback di 8 Besar

29 Desember 2020, 14: 29: 22 WIB | editor : Alwik Ruslianto

LUAR BIASA: Mereka adalah anggota tim e-sport Glorius Cyber yang berhasil menyabet juara I dalam perlombaan e-sport nasional antarsekolah.

LUAR BIASA: Mereka adalah anggota tim e-sport Glorius Cyber yang berhasil menyabet juara I dalam perlombaan e-sport nasional antarsekolah. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Chemistry menjadi hal terpenting bagi tim e-sport Glorius Cyber dalam memenangkan ajang perlombangan e-sport Mobile Legend tingkat nasional antarsekolah. Meskipun banyak keterbatasan di tengah pandemi Covid-19, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menorehkan prestasi.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Boyolangu, Radar Tulungagung.

Siapa sangka game yang selama ini mendapatkan pandangan negatif bagi sebagian orang, ternyata bisa menghasilkan hal positif. Seperti yang dilakukan oleh lima siswa yang tergabung dalam tim e-sport Glorius Cyber yang berhasil membuktikan bahwa melalui game, mereka bisa mendapatkan prestasi. Apalagi prestasi tersebut adalah capaian tertingginya hingga kini, yakni mendapatkan juara I tingkat nasional dalam perlombaan e-sport antarsekolah.

Salah satu personel tim e-sport Glorius Cyber, Mochamad Fahdol Tuhing Pamungkas mengaku sangat bahagia sekali ketika timnya yang masih satu tahun ini bisa memenangkan perlombaan e-sport tingkat nasional. Padahal, di awal perlombaan mereka sempat merasa ragu-ragu apakah bisa memenangkan lomba tersebut. Apalagi jika bertemu dengan tim yang memiliki nilai tinggi dari timnya. Tapi dengan kekompakan timnya, akhirnya bisa memenangkan perlombaan tersebut. “Memang di awal ketika kami bertemu dengan tim yang lebih tinggi poinya, sempat kami merasa ragu-ragu. Tapi berkat kerja sama tim dan chemistry, akhirnya kami bisa memenangkan perlombaan itu,” ungkapnya.

Fahdol, sapaan akrabnya menjelaskan, ketika perlombaan berlangsung, ada momen yang selalu diingat mereka, yakni ketika comeback di delapan besar. Pada match pertama, timnya menelan kekalahan. Dari hal itu, mereka sempat bingung untuk menentukan hero apa yang akan digunakan dalam match kedua. Akhirnya mereka memberikan support kepada satu sama lain dan fokus untuk menampilkan permainan terbaiknya. “Akhirnya pada match kedua dan ketiga, kami bisa memenangkannya hingga mendapatkan juara I dalam perlombaan e-sport tersebut,” jelasnya.

Pria berkacamata itu menuturkan, persiapan mengikuti kompetisi juga cukup singkat, yakni hanya satu bulan. Selain itu, adanya pandemi Covid-19 juga membuat mereka kesulitan dalam memobilisasi latihan bersama. Namun, dari hal itu mereka memutuskan untuk melakukan latihan dari jarak jauh. Bukan berarti tanpa ada halangan, ketika melakukan latiha dari jarak jauh, mereka sering terkendala sinyal. Karena rumah setiap anggota tim berbeda-beda. Ada yang rumahnya memiliki sinyal bagus, ada yang kurang bagus. “Latihan kami lakukan dari jarak jauh akibat Covid-19. Terkadang kami terkendala sinyal yang sulit. Selain itu, kami juga pernah miskomunikasi yang terkadang antaranggota saling menyalahkan. Bagi kami, itu hal yang wajar bagi keberlanjutan tim ini,” tuturnya.

Selain itu, pria ramah itu juga menceritakan kerja kerasnya hingga terciptanya tim e-sport Glorius Cyber. Pada awalnya perekrutan dilakukan dari satu orang ke orang lain. Bukan skill yang dicari, melainkan mereka mencari seseorang yang mudah menggabungkan chemistry. Dari situlah, akhirnya terpilih lima siswa yang masih duduk di bangku kelas 11 SMA, yakni Aldi Surya Ananta, Gede Hari Yoga Nanda, Muhammad Zaky Alfarezi, Wahyu Eko Nugroho, dan Mochamad Fahdol Tuhing Pamungkas. “Memang dari awal kami bukan mencari anggota yang skill-nya bagus, tapi kami mengedepankan chemistry,” ucap siswa asal SMAN 1 Boyolangu itu.

Semua kerja keras ini meruapakan salah satu pembuktian bahwa game itu tidak hanya bersenang-senang dan menghabiskan waktu saja. Tapi di sini mereka ingin membuktikan kepada orang-orang yang selama ini menganggap game itu negatif adalah tidak benar. Karena tidak selamanya prestasi itu bisa didapatkan dari pelajaran saja, tapi melalui game juga bisa mendapatkan prestasi. Karena itu, mereka berharap agar sekolahnya membuka ekstrakurikuler e-sport untuk menjaring potensi yang dimiliki oleh siswa di bidang e-sport. “Ini adalah pembuktian kami bahwa dengan game kami bisa mendapatkan prestasi. Kami berharap sekolah bisa segera membuka ekstra e-sport untuk menjaring bakat siswa di dunia e-sport,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news