alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Oknum Guru SMP Dilaporkan Polisi

Diduga Setubuhi Siswinya, Berkali-kali Sejak Kelas VII

30 Desember 2020, 05: 27: 24 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Infografis

Infografis

DOKO, Radar Blitar – Nama dunia pendidikan tercoreng. Itu setelah salah seorang oknum guru SMP di Kecamatan Doko harus dilaporkan ke polisi. Pasalnya yang bersangkutan tersebut diduga mencabuli hingga menyetubuhi salah satu siswinya, sebut saja Mlenuk.

Kasus persetubuhan itu kini sedang diselidiki Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Blitar. Polisi telah memeriksa korban dan mengambil visum. "Kasus ini masih bersifat pengaduan dan dalam penyelidikan," terang Kanit PPA Satreskrim Polres Blitar Ipda Linartiwi kepada koran ini, kemarin (29/12).

Berdasarkan informasi yang diterima dari kepolisian, oknum guru tersebut berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu SMP negeri di Doko.  Dugaan persetubuhan itu sudah berkali-kali sejak korban duduk dibangku kelas VII hingga kini kelas IX.

Menurut keterangan yang diterima kepolisian dari korban, aksi tidak senonoh itu dilakukan oleh oknum di sejumlah tempat. Mulai di ruang kelas, ruang kepala sekolah, rumah oknum guru hingga rumah orang tuanya. Bahkan sampai di Hotel juga. "Modus oknum guru ini mengancam dan mengimingi-imingi korban dengan prestasi. Kebetulan korban ini atlet atletik," jelas polwan dengan pangkat satu balok ini.

Dalam menjalankan aksi bejatnya itu, terkadang oknum guru juga mengintimidasi korban. Sehingga korban merasa ketakutan dan korban pun terpaksa melayani nafsu birahi gurunya yang menggebu-gebu itu. "Korban dijanjikan bakal menjadi siswa berbakat di sekolah," terangnya.

Linar menyatakan, belum bisa membeberkan oknum guru apa yang menyetubuhi siswinya sendiri itu. Entah itu guru mata pelajaran (mapel) atau guru olahraga. Sementara ini, pihaknya juga belum meminta keterangan oknum guru tersebut karena beberapa pertimbangan.

Pihaknya kini masih mengumpulkan alat bukti yang cukup. Sementara alat bukti masih berupa visum dan keterangan korban. "Status kan masih pengaduan. Kalau sudah ada alat bukti yang cukup kami gelar perkarakan untuk dinaikan menjadi laporan hingga penetapan tersangka," ujar polwan berjilbab ini.

Penyelidikan kasus persetubuhan itu bermula dari laporan korban, orang tua dan wali kelasnya. Dari laporan itu, polisi langsung melakukan penyelidikan dan pendalaman. Kepolisian juga berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Blitar untuk membantu penanganan. (*)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news