alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Suara Pedagang di Libur Akhir Tahun Dalam Pandemi Korona

Berjualan Hampir 24 Jam, Omzetnya Rp 100 Ribu

30 Desember 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

JENUH: Seorang pedagang terompet musiman menunggu pembeli datang ke lapaknya di wilayah Kecamatan Sutojayan kemarin.

JENUH: Seorang pedagang terompet musiman menunggu pembeli datang ke lapaknya di wilayah Kecamatan Sutojayan kemarin. (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)

Pemerintah menerapkan pembatasan sosial jelang pergantian tahun. Bahkan di malam pergantian tahun, beberapa fasilitas umum bakal ditutup, termasuk destinasi wisata. Tak pelak hal ini berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat.

AGUS MUHAIMIN, Sutojayan, Radar Blitar

Mendung menggantung di langit Sutojayan siang kemarin. Untuk sesaat, para pedagang di area Alun-alun Lodoyo  pun terlihat sibuk. Sebagian berkemas, ada juga yang menggelar layar untuk menangkis air hujan. Lasmini yang sedari tadi bersandar pada bodi tiang listrik pun terhenyak.  Dia bergegas mengambil bambu dan mengembangkan terpal berwarna biru sebagai sarana berteduh jika hujan datang.

Setelah memasang perlengkapan tersebut, warga Desa Sukorejo ini kembali duduk. Dari gestur tubuhnya, perempuan paro baya ini terlihat jenuh dan pasrah. Seharian, hanya beberapa pengunjung Alun-alun Lodoyo yang singgah di lapaknya. “Tidak hanya turun, tapi terjun bebas mas, apalagi hujan gini,” akunya, menumpahkan kekesalan saking sulitnya berjualan di masa pandemi korona.

Pusat Kecamatan Sutojayan tempat lasmini beraktivitas ini, sebenarnya tempat yang sangat ramai. Di belakang tempatnya berjualan, adalah ruang terbuka hijau yang menjadi jujugan masyarakat, yakni Alun-alun Lodoyo. Sedangkan tepat di depannya berjajar ratusan kios pedagang Sutojayan yang menyediakan beragam jenis kebutuhan masyarakat.

Sayang, mobilitas masyarakat yang cukup padat ini tidak menjadi jaminan kondisi ‘kantong’ bagus. Terlebih barang yang dia jajakan, bukan menjadi kebutuhan primer masyarakat. Dia hanya menjual minuman dan beberapa kebutuhan sekunder seperti rokok dan camilan. Beberapa hari terakhir dia menambahkan jenis dagangan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni berjualan terompet.

Harapan menjual terompet agar bisa menambah penghasilan, ternyata harus dikubur dalam-dalam. Tahun ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial, lantaran kasus korona yang terus naik. Perayaan pergantian tahun ditiadakan. Pesta kembang api juga tidak ada. Akibatnya, terompet yang selama ini menjadi pelengkap pun belum begitu diminati masyarakat. “Kemarin sehari semalam hanya dapat uang Rp 100 ribu. Lha terus untungnya berapa,” keluhnya.

Momen pergantian tahun menjadi musim panen bagi pedagang terompet seperti Lasmini. Namun tahun ini memang sedikit berbeda. Jika biasanya jumlah pedagang terompet menjamur jelang tahun baru, saat ini boleh dikatakan sedikit jarang. Di wilayah alun-alun dan sekitarnya, tampaknya hanya dirinya saja yang memberanikan diri tetap berjualan terompet.

Dia memiliki pertimbangan omzet jualannya akan membaik, ketika tidak begitu ada pedagang yang menyainginya. Apesnya, fakta tidak seindah perkiraan. Kendati jarang pedagang, penjualan terompet juga tidak memuaskan. “Kalau tahun-tahun sebelumnya, hari seperti ini saya bisa bawa pulang uang jutaan, tapi itu tahun lalu ya,” kenangnya.

Kegelisahan Lasmini kian bertambah, ketika dia mendengar kabar bahwa pada pergantian tahun nanti ada pemberlakukan jam operasional. Alun-alun hanya dibuka sampai pukul 21.00 WIB. Hal ini jelas bukan kabar baik. Karena tidak ada keramian di lokasi tempat dia menjajakan dagangan. “Kalau sudah begini apa boleh buat,  konon korona sangat berbahaya. Kami juga akan berusaha untuk menyesuaikan diri,” bebernya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news