alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Ifada Nur Rohmaniah

Menjadi Psikolog Pendamping Pasien Terkonfirmasi Covid-19

Telaten Dengar Pasien Berkeluh Kesah

30 Desember 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TETAP 3M: Ifada Nur Rohmaniah saat memberikan fun games kepada pasien terkonfirmasi Covid-19 di halaman Rusunawa IAIN Tulungagung.

TETAP 3M: Ifada Nur Rohmaniah saat memberikan fun games kepada pasien terkonfirmasi Covid-19 di halaman Rusunawa IAIN Tulungagung. (SITI NURUL LAILIL M./RATU)

Turut mengambil peran menjadi garda terdepan memerangi Covid-19 juga dirasakan Ifada Nur Rohmaniah. Dengan niat tulus dan ikhlas, dia menjalankan profesinya sebagai psikolog pendamping yang senantiasa memberikan motivasi serta semangat kepada pasien terinfeksi agar lekas sembuh.

SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kedungwaru, Radar Tulungagung

Pasien terkonfirmasi Covid-19 acapkali mendapat stigma buruk. Mereka dinilai dapat menularkan virus ke orang lain. Akibatnya, tak sedikit pasien positif Covid-19 merasa cemas. Bahkan, ada yang bersikap tak mau menerima fakta bahwa dia terpapar Covid-19. Padahal, kecemasan yang berlebihan bisa menurunkan imunitas. Sedangkan, imunitas merupakan kunci dari kesembuhan virus tersebut.

Ifada saat ditemui di kantor Sekretariat KPA Tulungagung.

Ifada saat ditemui di kantor Sekretariat KPA Tulungagung. (SITI NURUL LAILIL M./RATU)

Tak heran, Satgas Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung memberikan pendampingan psikolog. Hal ini dilakukan untuk menimalisasi kecemasan yang timbul dari stigma buruk tersebut. Salah satu konsultan psikolog yang digandeng, yakni Ifada Nur Rohmaniah. Selama pandemi Covid-19, dia kerap mengisi kegiatan pendampingan psikolog untuk pasien terkonfirmasi Covid-19. Bahkan, Minggu lalu dia memberikan fun games di tempat karantina Rusunawa IAIN Tulungagung guna menguatkan psikologis para terkonfirmasi Covid-19. "Ya benar. Kondisi itu (kekhawatiran/kecemasan akan stigma buruk, Red) sering saya temui dari pasien-pasien terkonfirmasi. Makanya di sini saya berupaya memotivasi dan memberikan edukasi bahwa mereka dapat sembuh dan kembali ke lingkungan," katanya.

Dia mengatakan, selama pendampingan dia mengaku mendapat banyak tantangan. Salah satunya, dia harus bisa menyampingkan rasa kekhawatiran terhadap Covid-19. Biasanya dia melakukan pendekatan dan memberikan konsultasi kepada para pasien seraya memotivasinya dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 ketat. Misalnya menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan hingga baju hazmat jika bertatap muka langsung. "Ada pula yang via daring. Tergantung permintaan saja. Enjoy-nya gimana," terang warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung ini.

Dalam pendampingan ini, ada yang meminta pendampingan personal dan kelompok. Dia menjelaskan, dalam pendampingan personal, dia akan memberikan konseling untuk mengurai emosi atau hal yang melatarbelakangi timbulnya kecemasan pasien tersebut lebih dulu. Baru memberikan konseling sederhana atau terapi kognitif untuk menurunkan kecemasan. Terlebih, karena stigma buruk itu, pasien cenderung overthinking. Hal detail dan jauh pun terpikirkan. Kalau tidak segera ditangani, masalah yang ringan bisa menjadi berat. "Yang jelas kami tingkatkan motivasi mereka. Diperbaiki dulu psikisnya agar imun mereka juga semakin membaik. Bisa lebih cepat penyembuhannya. Justru kalau dia nge-down, kan imunnya turun malah kasihan," tuturnya.

Dari beberapa kasus yang ditanganinya, ada yang cemas karena tak dapat pulang ke rumah, mengkhawatirkan stigma di lingkungan usai menjalani karantina. Ada pula yang cemas karena merasa tak enjoy di tempat karantina. Ini harus segera ditangani. Untuk membangkitkan semangat mereka, tak jarang harus mendengarkan keluh kesah sepanjang waktu. Karena diakuinya, jika tidak dikelola dengan baik, yang ringan dapat menjadi berat.

"Karena ini bagian proses hidup, tidak lepas dari kecemasan. Tinggal bagaimana mengelolanya," terangnya.

Ifada menyebut, setelah pertemuan para pasien terkonfirmasi Covid-19 itu, dia tak merasa lelah untuk membantu pasien Covid-19 agar lekas sembuh. Terlebih apa yang dilakukan selama ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak keluarga maupun rekan-rekannya. Tak ada penolakan keputusan menjadi relawan tenaga psikolog selama pandemi Covid-19 ini. "Alhamdulillah mendukung semua. Bahkan sempat diminta menjadi salah satu tenaga psikolog untuk mendampingi pasien di RS milik BUMN," terangnya. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news