alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Punya Dua Tanggung Jawab

Sumantri, Kasi Trantrib Kecamatan Gandusari yang Juga Seorang Dalang

Minum Air Putih dan Kopi sebagai Doping

30 Desember 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BISA BAGI WAKTU: Sumantri menunjukkan kebolehannya mendalang di rumahnya ketika jam istirahat siang.

BISA BAGI WAKTU: Sumantri menunjukkan kebolehannya mendalang di rumahnya ketika jam istirahat siang. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Pandai membagi waktu serta tidak mencampurkan urusan pekerjaan sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan sebagai dalang dipegang betul oleh Sumantri. Tak lain dengan bisa membagi waktu antara tugasnya di kantor kecamatan, kendati malam harinya sebagai dalang. Tak ayal, hingga memasuki masa purnatugas ini, tak sedikit pun masalah dalam hal pekerjaannya.

ZAKI JAZAI, Gandusari, Radar Trenggalek

"Ayo jaga jarak, cuci tangan dulu, sabar mengantre," kata-kata seperti itulah yang diucapkan Sumantri ketika mengimbau masyarakat yang membutuhkan pelayanan di kantor Kecamatan Gandusari, kemarin (29/12). Itu dilakukan karena pascacuti dan libur hari raya Natal Kamis (24/12) hingga Sabtu (26/12) kemarin, akan dilanjutkan libur dan cuti tahun baru pada Kamis (31/12) hingga Sabtu (2/1/2021) besok. Sehingga masyarakat yang membutuhkan berbagai pelayanan yang ada di area Kantor Kecamatan berdatangan. Dari situ dibutuhkan peran ekstra seluruh petugas agar masyarakat tetap mematuhi protokoler kesehatan (prokes), khususnya berjaga jarak.

Beberapa saat berselang, tiba waktu istirahat siang. Hal itu langsung dimanfaatkan Sumantri pulang ke rumah, mengingat jarak antara kantor kecamatan hingga ke rumah hanya berkisar 1 kilometer saja. Setibanya di rumah itulah, Sumantri lantas bercerita mengenai aktivitasnya selama ini. "Sampai kini saya memiliki dua tanggung jawab, yaitu ke masyarakat sebagai seorang seniman dan ke negara sebagai ASN," ungkap Sumantri kepada Jawa Pos Radar Trenggalek ini.

Karena itulah, pria yang dikenal sebagai dalang Ki Sumantri Darmo Suwito ini tidak pernah menolak permintaan seorang yang memintanya tampil, tapi tidak memiliki biaya, atau biaya yang ada pas-pasan saja. Sebab, baginya ada kebanggaan sendiri bisa diminta untuk tampil sebagai dalang. Tujuannya tak lain untuk mestarikan warisan budaya nenek moyang. "Jika normal, untuk setiap kali tampil dibutuhkan biaya sekitar Rp 20 juta. Itu ternasuk sewa gamelan, juga honor dalang serta penabuh gamelan. Namun, ada juga yang di bawah itu saya bersedia tampil. Terpenting, cukup untuk menyewa gamelan dan memberi honor penabuhnya," jlentreh-nya.

Itu dilakukan tak lain karena kecintaanbya pada pagelaran seni wayang kulit. Sehingga diyakini dengan tampil tersebut, bisa melestarikan seni wayang kulit agar tidak punah dimakan perkembangan zaman. Sejak kecil dirinya amat menyukai pagelaran wayang kulit. Waktu itu ketika ada hajatan, keluarga besarnya selalu menggelar pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat setempat.

Dari situlah ketika remaja Sumantri memutuskan untuk sekolah pendalangan di Kediri dan Nganjuk. Barulah sekitar tiga tahun sekolah pendalangan, pada tahun 1982 dirinya tampil perdana. Hal tersebut terus dilakukan hingga kini. Semenjak saat itulah, rata-rata dua kali dalam sebulan, dirinya selalu mendapatkan job untuk mendalang, sebelum pandemi korona seperti saat ini.

Sejak saat itulah dirinya harus pandai membagi waktu agar aktivitasnya sebagai dalang tidak mengganggu pekerjaannya. Ketika mendalang di berbagai daerah semisal Kediri, Surabaya, dan kota lain di wilayah Jawa Timur, dirinya harus bisa memperkirakan pukul berapa selesai mendalang dan langsung pulang. Seperti halnya ketika tampil di wiayah Kediri, dirinya selalu maksimal pukul 04.00 harus pulang ke Trenggalek. Sekitar pukul 06.00 dirinya sudah tiba di rumah, dan langsung beristirahat sejenak, yang kemudian bersiap berangkat kerja. "Jadi sebelumnya sudah ada kesepakatan antara saya dan pemilik rumah yang mengundang. Karena itu selama 34 tahun bekerja sebagai ASN di Kecamatan Gandusari, atasan tidak pernah menegur saya masalah indisipliner, apalagi terlambat masuk kantor," jelas Mbah Mantri, biasa dia disapa.

Untuk menjaga agar kondisinya tetap fit, dirinya selalu rutin minum air putih dan kopi. Dengan begitu, ketika bekerja tetap bisa fokus kendati baru semalaman tampil. "Saya tidak pernah mengonsumsi doping jenis apa pun, apalagi miras. Semoga saja dengan ini wayang kulit tetap bisa lestari," tutur kasi trantib Kecamatan Gandusari yang mulai awal Januari 2021 mendatang sudah purnatugas itu. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news