alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Upaya Penyandang Lupus Menjaga Kesehatan

Kurangi Interaksi di Luar, Jadwal Terapi Terganggu

di Tengah Pandemi Covid-19

08 Januari 2021, 14: 50: 15 WIB | editor : Jessica AP

TAK PUTUS ASA: Titim saat mendongeng kepada anak-anak di salah satu sekolah.

TAK PUTUS ASA: Titim saat mendongeng kepada anak-anak di salah satu sekolah. (TITIM FOR RADAR BLITAR)

Pagi itu, seperti biasa Ayu bergegas menyiapkan keperluan untuk memulai aktivitasnya sehari-hari. Tak terlupakan, kebiasaan rutin yang tidak bisa ditinggalkan tiap pagi hari. Yakni bangun tidur minum air mineral hangat ditambah madu.

Tak lupa, meminum obat secara teratur setelah sarapan. Kebiasaan rutin itulah yang dilakukan Ayu setiap hari sebagai penyandang lupus. Apalagi, di tengah pandemi ini, upaya pencegahan dilakukan ekstra ketat untuk menjaga tubuhnya tetap sehat.

Selain itu, jika perlu berjemur di bawah terik matahari pagi. Tidak perlu lama-lama, cukup 30 menit saja. "Rentang pukul 06.30 hingga 08.30. Sebab, penyandang lupus tidak boleh terlalu lama terkena sinar matahari," kata perempuan bernama lengkap Ayu Firdiana kepada Koran ini, kemarin (7/1).

Terpenting, juga harus ada aktivitas olahraga. Bisa jalan cepat, berlari, atau bersepeda. "Olahraga itu penting untuk membakar kalori dan menguatkan stamina. Jangan lupa juga menjaga pola makan yang teratur," ungkap perempuan 30 tahun ini.

Ya, warga Kecamatan Sananwetan ini merupakan penyandang lupus. Lupus merupakan penyakit gangguan imun atau dikenal autoimun. Penyakit tersebut bisa menyerang sejumlah organ tubuh. Penyakit tersebut sering dikenal dengan istilah penyakit 1.000 wajah.

Ayu, sapaan akrabnya, telah didiagnosis mengidap lupus sejak 2009 lalu. Rasa kaget hingga tak percaya, menghunjam batinnya. Namun, dia berusaha untuk bersabar dan menganggap itu merupakan takdir Tuhan. "Sebelumnya sejak dari kecil aku itu sering sakit. Terutama tifus. Hampir setiap tahun selalu kambuh. Selain itu juga diare. Setelah diobservasi, ternyata dokter menyatakan terkena lupus," kenang perempuan yang juga tenaga pengajar di Taman Posyandu (TP) lingkungan tempat tinggalnya ini.

Nah, sejak wabah virus korona merebak di seantero dunia termasuk Indonesia, muncul perasaan waswas. Khawatir dan takut. Bagaimana tidak, mereka penyandang lupus merupakan kelompok rentan terpapar virus dari Wuhan, Tiongkok itu.

Maka dari itu, upaya pencegahan ekstra pun harus dilakukan secara maksimal. Tidak sekadar menerapkan protokol kesehatan secara ketat, tapi juga mengurangi aktivitas di luar rumah atau tempat-tempat yang rawan paparan virus. "Kalaupun keluar, harus benar-benar menjaga kebersihan. Membawa hand sanitizer dan memakai masker," ujar penulis novel ini.

Sebenarnya sejak sebelum pandemi, dirinya sudah akrab dengan menjaga kebersihan diri. Apalagi, mengenakan masker untuk mencegah penularan virus terlebih virus misterius seperti korona. "Yang perlu diketahui, lupus ini bukan penyakit menular. Lupus ini gangguan pada sistem imun. Imun penyandang lupus ini berlebihan. Yang seharusnya melindungi dari serangan virus atau penyakit, justru lupus ini menyerang tubuh sendiri," tuturnya.

Pandemi Covid-19 ini juga sedikit menggangu jadwal terapi pengobatan penyandang lupus. Yang biasa setiap bulan selalu kontrol, kini hanya bisa tiga bulan sekali. Sebab, jika harus kontrol ke rumah sakit berisiko sekali.

Namun, dokter sudah memahami kondisi para penyandang lupus ini. Meski setiap penyandang lupus memiliki kondisi yang berbeda-beda. "Semisal jika dari RS, masuk rumah harus cuci kaki dan tangan dulu. Kemudian langsung mandi dan ganti baju. Baru bersalaman sama orang tua," ujar anggota Komunitas Lupus Blitar ini.

Upaya pencegahan yang sama juga dilakukan, penyadang lupus lainnya, Titim Fatmawati. Perempuan 42 tahun itu telah didiagnosis mengidap lupus sejak 6 tahun lalu. Gejala sakit yang dialaminya berupa nyeri hingga gangguan pada darahnya.

Selama pandemi, ibu dua anak itu, lebih ketat menjaga protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Terutama mengurangi interaksi dengan banyak orang di luar. "Awal-awal pandemi memang ada kecemasan. Tapi kami sebagai penyandang lupus terus saling menguatkan. Meski ada teman kami yang terpapar, mereka bisa kuat melalui dukungan dari keluarga, teman, dan masyarakat sangat membantu proses pemulihan," ungkapnya.

Menurut dia, semua orang berisiko terpapar virus korona. Bukan hanya mereka para penyandang lupus atau penyakit autoimun lainnya. ”Namun, jika penyandang lupus sudah terpapar, maka untuk proses pemulihannya lebih susah dibanding orang normal pada umumnya,” aku perempuan ramah ini.

Terlebih, saat kelompok penyandang lupus merupakan kelompok yang tidak masuk sasaran vaksinasi, dirinya berusaha memberikan pemahaman kepada sesama penyandang untuk tetap disiplin menjaga kesehatan. "Kami cuma bisa melindungi diri sendiri dengan sejumlah hal tersebut. Tidak bosan mengingatkan keluarga, memberi pemahaman pada anak tentang Covid-19. Anak saya sendiri juga lebih aware. Waspada tapi tidak khawatir berlebihan. Namun, kendali utama adalah masyarakat untuk tidak abai dengan 3 M," tutur perempuan berjilbab ini.

Yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa Covid-19 itu ada dan nyata. Jangan anggap ini konspirasi dan sebagainya. "Jika tidak mempercayai, paling tidak hargailah tenaga kesehatan dan kami, penyintas lupus, autoimun, serta lainnya. Serta orang-orang dengan komorbid lainnya. Ketahanan tubuh kami berbeda dan kami masih ingin tetap berkarya. Peduli dan berempatilah dengan disiplin protokol kesehatan," pesannya. (*)

(rt/kan/esi/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news