alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Audiensi Jalan Buntu

Cara Unik Sampaikan Aspirasi Tolak Pemberlakuan Jam Malam

Gerakan Tempel Poster

27 Januari 2021, 11: 29: 01 WIB | editor : Alwik Ruslianto

DENGARKAN: Terlihat puluhan poster aspirasi pelaku warkop yang terdampak akibat pemberlakuan jam malam, tertempel di dinding warung Onderan.

DENGARKAN: Terlihat puluhan poster aspirasi pelaku warkop yang terdampak akibat pemberlakuan jam malam, tertempel di dinding warung Onderan. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Menyuarakan aspirasi merupakan hak setiap orang dan dijamin oleh konstitusi negara. Hal inilah yang dilakukan oleh keluarga Onderan dengan menempelkan puluhan poster aspirasi warung kopi (warkop) yang merasa dirugikan dengan pemberlakuan jam malam. Penempelan poster ini dilakukan karena segala upaya melalui audiensi tidak menemukan titik temu.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung

Tepatnya di Jalan KH Wahid Hasyim, Kecamatan Tulungagung, ada salah satu warung bernama Onderan. Di sana terlihat puluhan poster aspirasi tertempel di dinding, dengan berbagai macam aspirasi ataupun ungkapan pelaku warkop di Tulungagung yang terdampak kebijakan pemberlakuan jam malam. Berbagai macam tulisan terpampang, mulai dari tulisan “Wong cilik sesok sing dipangan opo??? Wong gede sesok sing dipangan sopo”, “ora melu nyukupi kok melu ngukuti”, “darurat logika corona metune bengi”, dan sebagainya.

Salah satu pegawai warung Onderan, Siti Naditya Risnawati mengungkapkan, penempelan poster aspirasi ini dilakukan sebagai wujud aspirasi dari pelaku warkop yang terkena dampak pemberlakuan jam malam. Kegiatan ini dilakukan sejak Minggu lalu (24/1) dan akan dilakukan hingga pemberlakuan jam malam dicabut. “Ini kami maksudkan untuk menyuarakan aspirasi pelaku warkop. Dampak dari jam malam sangat luar biasa, hampir 75 persen pendapatan berkurang dan beberapa warung kecil harus gulung tikar,” ungkapnya.

Penempelan poster ini memang sengaja dilakukan di dinding warung. Karena berbagai upaya pelaku warkop mulai dari audiensi dan sebagainya selalu tidak menemukan titik temu dengan pemerintah. Akhirnya pihaknya memunculkan gerakan penempelan poster di dinding warung. Dan jika dipikirkan, gerakan penempelan poster ini tidak akan seviral demo. Tapi melalui media sosial, pihaknya akan menyuarakan aspirasi ini. “Kami dengan teman-teman pelaku warkop sudah melakukan berbagai upaya dengan pemerintah, tapi selalu tidak mendapatkan solusi. Maka dari itu, kami menempelkan poster ini,” ujarnya.

Nanden, sapaan akrabnya menjelaskan, sejak ada gerakan penempelan poster aspirasi pelaku warkop ini, banyak pengunjung yang juga turut menyuarakan aspirasinya dengan menempelkan tulisan ke dinding tersebut. Selain itu, hal itu juga membuat beberapa pelaku warkop saling berbagai keluh kesah hingga hal-hal apa yang harus dilakukan agar tetap bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19. “Ini memperkuat ikatan antarpelaku warkop. Karena merasakan hal yang sama atas kebijakan pemberlakuan jam malam,” jelasnya.

Perempuan asal Desa Sambidoplang, Kecamatan Sumbergempol, itu menambahkan, dengan gerakan ini semoga pemberlakuan jam malam tidak hanya sebuah regulasi semata. Namun, juga harus ada solusi yang solutip bagi nasib hidup pelaku warkop di Tulungagung. Dan akan jauh lebih efektif jika dilakukan penertiban prokes daripada pemberlakuan jam malam. “Sebab, waktu tidak ada kaitannya dengan Covid-19. Maka dari itu, kami berharap semoga jam malam ini dicabut agar pelaku warkop bisa mencari nafkah dengan tenang, dengan tetap menjalankan prokes,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news