alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Gabah Basah Hanya Rp 3.800 Per Kg

30 Maret 2021, 09: 15: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TAK SEBANDING : Petani di Kelurahan Kelutan ketika memanen tanaman padinya yang saat ini harga gabah turun drastis

TAK SEBANDING : Petani di Kelurahan Kelutan ketika memanen tanaman padinya yang saat ini harga gabah turun drastis (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Tenggalek - Anjloknya harga gabah yang terjadi saat ini juga dialami oleh petani di Bumi Menak Sopal. Tak ayal hal tersebut membuat mayoritas petani mengeluh, karena tidak sebanding dengan biaya produksi proses penanaman padi. Hal ini seperti yang dialami oleh petani di wilayah Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek.

Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek, untuk saat ini harga gabah basah turun dikisaran Rp 3.800 perkilogram. Sedangkan untuk harga gabah kering siap giling sekitar Rp 4.800 perkilogram. Tak ayal hal tersebut sangat disesalkan petani mengingat harga gabah basah tahun sebelumnya berada dikisaran Rp 4.300 perkilogram, sedangkan gabah kering sekitar Rp 5.200 perkilogram."Dengan harga gabah segitu, pastinya biaya produksi atau tanam padi tak sebanding dengan harga jualnya," ungkap Ketua Kelompok Tani Jaya Kelutan Suwito.

Dia melanjutkan, hal itu bukan isapan jempol saja, sebab pupuk subsidi yang diberikan pemerintah jumlahnya terbatas. Sehingga mau tidak mau petani harus membeli pupuk non subsidi, pastinya harganya sangat mahal. Belum lagi pada proses tanam, petani memerlukan bahan lain untuk memelihara pertumbuhan padi agar hasilnya baik. "Itu seperti ada kalanya padi kami terserang hama, sehingga perlu obat-obatan untuk membasmi hama itu," ungkapnya.

Baca juga: Segera Tuntaskan Vaksinasi Bagi PTK

Hal senada diungkapkan salah satu petani lainnya Yateni. Dia menambahkan, untuk setiap kali masa tanam satu petak lahannya memerlukan biaya sekitar Rp 2 juta. Itu untuk kebutuhan pupuk, hingga ongkos proses tanam. Dari situ jika hasilnya baik, satu petak sawah tersebut menghasilkan sekitar 7 kuintal gabah basah. Sehingga diperkirakan untuk proses tanam kali ini diperoleh penghasilan sekitar Rp 2,66 juta. "Jadi jika lancar dengan kondisi seperti ini, dalam setiap kali masa tanam sekitar tiga sampai empat bulan kami hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 660.000," imbuhnya.

Itu dengan catatan jika tanaman tidak terserang hama, sehingga tidak ada biaya tambahan. Selain itu dalam penghitungan ini tidak ada biaya pemeliharaan oleh pemilih lahan. Sehingga dimungkinkan dengan keuntungan tersebut petani malah rugi. Dari situ, petani tidak berharap banyak yaitu harga gabah sesuai dengan biaya perawatan."Jadi tiap bulan kami hanya mendapatkan dana ganti keringan sekitar Rp 200 ribu. Padahal proses perawatan setiap harinya harus melakukan pengecekan untuk kondisi tanaman," jelasnya. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news