alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Pelatihan Pelaku UM Terganjal Anggaran

Ada Kebijakan Refocusing

03 April 2021, 09: 05: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BERTAHAN: Seorang pelaku UM sedang menata dagangannya.

BERTAHAN: Seorang pelaku UM sedang menata dagangannya. (ADITYA YUDA SETYA PUTRA/RADAR BLITAR)

KEPANJENKIDUL, Radar Blitar - Refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19 berdampak terhadap pelaku usaha mikro (UM) di Kota Blitar. Sebagian besar belum bisa mendapat pelatihan untuk pemberdayaan lantaran terganjal minimnya anggaran.

Plt Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Kota Blitar Sad Sasmintarti mengaku, adanya kebijakan refocusing anggaran membuat pihaknya harus lebih selektif. Termasuk dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan untuk pelaku UM. "Karena keterbatasan dana, kami belum sempat menyentuh semua pelaku UM," ujarnya.

Dia mengatakan, sejumlah pelatihan harus dilakukan secara bertahap. Yakni dengan tetap mempertimbangkan jumlah anggaran yang ada. "Disesuaikan dengan kemampuan pemerintah kota. Nanti kami lakukan lagi tapi secara bertahap di setiap asosiasi pedagang," katanya.

Baca juga: 67 Rumah Warga Akan Dibongkar

Menurut dia, kondisi tersebut wajar terjadi. Sebab, kini pemerintah kota (pemkot) masih fokus pada penanganan pandemi Covid-19. Karena itulah, pihak diskopum mengimbau para pelaku UM untuk bersabar menunggu program pelatihan. Sebab, kegiatan itu harus dilakukan secara bertahap.

"Anggaran untuk pelatihan masih kami coba pertahankan. Jadi, kami masih punya kesempatan untuk lakukan pelatihan walaupun belum bisa menyentuh seluruh kelompok usaha. Kami sesuaikan," akunya.

Dari data diskopum, kini ada 12.437 pelaku UM di Kota Blitar. Dari jumlah itu, 75 persen di antaranya bergerak dalam bisnis kuliner. Terkait hal tersebut, Sasmintarti menilai selama masa pandemi usaha kuliner memiliki prospek lebih baik dibandingkan dengan sektor usaha lain.

Sasmintarti tak menampik para pelaku UM di wilayah Kota Blitar butuhkan pembinaan dan pendampingan. Oleh sebab itu, nantinya akan kembali digelar pelatihan pemasaran berbasis online. Mengingat selama masa pandemi, transaksi via daring menjadi pilihan sebagian besar masyarakat. "Kami coba lakukan pelatihan pemasaran online untuk memudahkan mereka (pelaku UM, Red) dalam pemasaran produk agar mereka bisa bertahan dan memiliki daya saing," jelasnya.

Dia menambahkan, selain pembinaan, para pelaku UM juga perlu pendampingan. Yakni dalam kegiatan usahanya, agar dapat tetap berproduksi. "Setelah pelatihan harus ada pendampingan. Jadi, jangan sampai setelah pembinaan lalu dilepas. Kami coba upayakan itu," pungkasnya. (*)

(rt/tya/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news