alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Ke Kemendag

Ajukan Anggaran Revitalisasi Rp 12 Miliar

Untuk Perbaiki Pasar Campurdarat

03 April 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BERTAHAN: Tampak aktivitas jual beli di Pasar Campurdarat. Beberapa pedagang memilih membuat lapak darurat dekat lokasi yang terbakar karena tak mau kehilangan langganan.

BERTAHAN: Tampak aktivitas jual beli di Pasar Campurdarat. Beberapa pedagang memilih membuat lapak darurat dekat lokasi yang terbakar karena tak mau kehilangan langganan. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

CAMPURDARAT, Radar Tulungagung - Pedagang Pasar Campurdarat yang menjadi korban kebakaran pada Rabu lalu (17/3) harus lebih sabar untuk mendapat tempat berdagang yang layak. Pasalnya, pembangunan kembali los dan kios pasar yang 60 persen ludes dilalap si jago merah itu diproyeksi baru dapat dilakukan tahun depan. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tulungagung Tri Hariadi.

Dia menjelaskan, pembangunan kembali Pasar Campurdarat itu membutuhkan proses panjang. Sehingga tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini. Terlebih biaya yang dibutuhkan tidak dapat sepenuhnya di-cover daerah karena anggaran yang tersedia terbatas. Bahkan, beberapa pos anggaran daerah tahun ini masih di-refocusing untuk penanganan Covid-19. "Membangun kembali pasar itu butuh proses. Kemarin pascakebakaran kami terus mengupayakan segera," katanya.

Karena itu, mantan asisten administrasi umum Setda Kabupaten Tulungagung ini mengambil langkah dengan mengajukan anggaran pembangunan kembali pasar tersebut ke Kementerian Perdagangan (Kemendag). Tak tanggung-tanggung, Disperindag Kabupaten Tulungagung mengusulkan anggaran maksimal, yakni Rp 12 miliar. Dengan asumsi dapat membangun seluruh los yang terbakar. "Senin lalu (29/3) kami mengajukan proposal ke kementerian. Kami bersama Pak Bupati langsung bertemu koordinator sarana distribusi dan logistik Kemendag. Responsnya baik dan kami diarahkan untuk segera mengunggah usulan tersebut ke sistemnya," katanya.

Baca juga: Pasar Pon Tak Boleh Kumuh

Meski demikian, Tri berencana tetap mengajukan anggaran ke Pemprov Jatim. Sebab, berkaca pada pembangunan Pasar Ngunut beberapa waktu lalu, menelan anggaran cukup besar. Yakni di tahap I menelan anggaran sekitar Rp 16 miliar yang dibiayai dari tiga sumber anggaran. Yaitu tugas pembantuan (TP) yang bersumber dari APBN Kemendag, bantuan keuangan (BK) yang bersumber APBD Provinsi Jatim, dan dari APBD Kabupaten Tulungagung. "Kami tidak tahu apakah usulan di kementerian disetujui semua atau tidak. Nah, langkah lain untuk tambahan yaitu juga mengajukan ke pemprov dan APBD Tulungagung," terangnya.

Dia berharap semua usulan tersebut disetujui. Karena kondisi Pasar Campurdarat sebelum terbakar sudah seharusnya direvitalisasi. "Memang sudah waktunya direvitalisasi. Itu bangunan lawas tahun 70-an. Apabila anggaran yang kami dapat besar, bisa jadi rombak total seperti Ngunut," pungkasnya.

Sebelumnya, Bupati Tulungagung Maryoto Birowo juga menegaskan akan secepatnya membangun kembali Pasar Campurdarat. Selain melalui APBD, juga akan mengusulkan ke Kemendag dan Pemprov Jatim. Langkah cepat ini dilakukan agar putaran ekonomi warga setempat tidak terhambat berkepanjangan. "Karena waktu juga terbatas, tahun ini kami mungkin menyicil detail engineering design (DED) dulu. Apabila anggaran dari TP dan BK turun, bisa langsung lelang awal tahun," tandasnya.

Sembari menunggu hasil lobi-lobi tersebut, disperindag akan melakukan perbaikan pada tempat penampungan sementara (TPS). Sebab, kondisi TPS yang berada di sisi barat kini cukup memprihatinkan. "Setelah dilakukan observasi, TPS ini perlu diperbaiki. Terutama bangunan fisiknya seperti bagian atap, perbaikan talang, dan lainnya agar pedagang dapat berdagang dengan nyaman," kata Kepala Disperindag Tri Hariadi.

Tak tanggung-tanggung, biaya perbaikan digelontorkan hingga Rp 200 juta. Kini anggaran tersebut tengah diajukan oleh Bappeda pada penjabaran APBD Kabupaten Tulungagung. "Apabila sudah disetujui, segera kami tindak lanjuti," katanya.

Dia mengatakan, meski belum ada perbaikan, TPS saat ini sudah ada yang menempati. Namun, juga banyak pedagang yang memilih membangun lapaknya sendiri dengan biaya mandiri di atas puing-puing sisa kebakaran. "Sudah kami ingatkan. Tapi mereka ngotot dengan alasan takut langganannya bingung mencari keberadaannya. Jadi mereka nekat bangun lapak darurat sendiri," katanya.

Meski demikian, Tri tetap bersikap tegas. Pihaknya meminta pedagang yang kukuh berjualan di lokasi kebakaran untuk membuat pernyataan akan pindah apabila ada pembangunan di lokasi kebakaran dan menanggung semua risiko yang terjadi. "Apabila TPS sudah diperbaiki, koordinator pasar nanti akan mengarahkan lagi ke TPS secara bertahap," tuturnya.

Sementara itu, salah satu pedagang, Gani, 65, mengaku nekat kembali berjualan dekat sisa kebakaran karena lokasi TPS kurang strategis dan sempit. Selain itu, juga khawatir langganannya lari karena tidak dapat menemukannya di lokasi TPS. "Sebelumnya juga di TPS tapi sepi. Kemudian nekat jualan sini (dekat lokasi kebakaran, Red). Alhamdulillah dikit-dikit laku," katanya.

Seperti biasa, Gani dan istrinya berjualan mulai pukul 03.00. Dia bersyukur masih dapat menyambung hidupnya dengan berjualan sayur mayur (basah, Red). Kendati dagangannya tidak sebanyak sebelum terjadi kebakaran. "Semua pedagang sini merasakan apa yang saya rasakan juga. Makanya besar harapan segera ada pembangunan agar kami bisa berdagang seperti sedia kala," tuturnya. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news