alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

Sembilan Kecamatan Lotus Stunting

Lebih Rendah dari Rata-rata Provinsi

07 April 2021, 11: 56: 27 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BUTUH PERHATIAN: Seorang anak bermain di Alun-alun Kanigoro. Orang tua harus jeli memastikan agar anak tidak gagal tumbuh.

BUTUH PERHATIAN: Seorang anak bermain di Alun-alun Kanigoro. Orang tua harus jeli memastikan agar anak tidak gagal tumbuh. (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)

KANIGORO, Radar Blitar– Tingkat gagal tumbuh pada anak alias stunting di Kabupaten Blitar kini lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi. Meski begitu, ada belasan kecamatan yang tergolong dalam kawasan pengawasan ketat terkait masalah tumbuh kembang anak tersebut.

Beberapa waktu lalu gubernur Jatim memaparkan data stunting 2020. Dari data itu, Kabupaten Blitar masuk dalam daftar daerah yang masih butuh perhatian khusus. Sebab, prevalensi stunting Kabupaten Blitar mencapai 27 persen, atau di atas rata-rata Jawa Timur dengan prevalensi stunting 26,8 persen.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Miftakhul Huda mengatakan, stunting di Bumi Penataran sejauh ini terkendali atau dibawah rata-rata provinsi. Namun, ada kondisi tertentu yang membutuhkan perhatian cukup serius. “Kalau stunting kita cukup aman, yang di atas rata-rata itu adalah angka kematian ibu (AKI),” ungkapnya.

Baca juga: Bentuk Pansus Pembahasan LKPj Wali Kota

Untuk masalah stunting, tegas dia, secara berkala pemerintah melakukan pemantauan pertumbuhan anak, utamanya balita. Itu dilakukan agar bayi yang mengalami gagal pertumbuhan bisa dicegah atau segera mendapatkan penanganan. “Pemantauan ini, satu paket saat bulan timbang, yakni pada Februari dan Agustus,” jelasnya.

Data terakhir menunjukkan, ada sekitar sembilan kecamatan yang membutuhkan perhatian khusus pemerintah. Penyebabnya, tingkat gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun cukup menonjol. Yakni hingga 31 persen dari jumlah balita yang mengikuti pemeriksaan dalam bulan timbang. Sembilan kecamatan itu di antaranya, Kesamben, Udanawu, Ponggok, Kademangan, Gandusari, Selopuro, Kanigoro, Sutojayan, dan Garum. “Jadi kecamatan itu masuk dalam kategori lotus stunting atau wilayah khusus yang perlu mendapatkan pengawasan,” bebernya.

Huda tidak menampik, kondisi itu tidak baik. Namun jika dilihat dari skala daerah, Kabupaten Blitar masih cukup bagus ketimbang daerah lain. Beberapa kecamatan dan banyak desa yang diketahui tidak memiliki stunting. Sehingga secara akumulasi tingkat gagal tumbuh anak untuk Kabupaten Blitar lebih rendah ketimbang rata- rata nasional maupun provinsi.

Kini, prevalensi stunting di Kabupaten Blitar sekitar 17 persen. Artinya, dari jumlah total balita yang mengikuti pemeriksaan pada bulan timbang, hanya 17 persen yang terindikasi gagal tumbuh. Bahkan, jumlah itu masih memiliki potensi lebih kecil lagi lantaran tidak semua balita datang saat bulan timbang. “Kalau semua datang, mungkin hanya sekitar delapan persen saja. Standar nasional itu 14 persen,” ujarnya.

Huda menegaskan, stunting bisa dicegah sejak masa kehamilan hingga pascapersalinan. Untuk ibu hamil, sebaiknya mengkonsumi tablet penambah darah, hingga pemberian asupan makanan tambahan. Selain itu, juga disarankan untuk memberikan ASI ekslusif selama enam bulan kepada bayi. “Imuniasi memberikan vitamin dan makanan pendamping ASI itu juga penting untuk bayi,” tegasnya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news