alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Abdul Mo'id dan Batik Berkarakter

Berkali-kali Gagal sampai Berhasil Temukan Karakter Abadi

07 April 2021, 13: 11: 35 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BANGGA: Abdul Mo’id sedang menunjukkan karya batik motif Surga di Pesisir Selatan di rumah produksi batiknya.

BANGGA: Abdul Mo’id sedang menunjukkan karya batik motif Surga di Pesisir Selatan di rumah produksi batiknya. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Abdul Mo'id, pengusaha batik asal Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak, memiliki karakter kuat di tiap karyanya. Berkat karakternya, batiknya bisa membuka pasar sendiri. Bahkan sampai menyentuh ke lingkup nasional. Karakter itu muncul dari serangkaian pengalaman dan sentuhan inovasi.

HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kampak, Radar Trenggalek,

USIA Abdul Mo'id tidak lagi muda. Pria yang beranjak 64 tahun ini masih terlihat bugar. Ternyata Mo'id punya rahasia kecil di balik kebugarannya. Menurutnya, kebugaran tubuh adalah cerminan dari pikiran manusia. Apabila pikiran cenderung negatif, tanpa disadari akan berdampak pada tubuh yang dapat memunculkan penyakit. Sebaliknya, ketika pikiran selalu bahagia, tubuhnya pun akan terlihat bugar. 

Baca juga: Terus Optimalkan Posko Penanganan Desa-Kelurahan

Dengan mengenakan baju dan sarung bermotif batik, duduk di teras rumahnya pada Senin sore (5/4). Mo'id menceritakan kisah lalunya bisa menemukan karakter kuat di dunia batik. Bukan satu atau dua lagi, melainkan banyak unsur yang memengaruhi Mo'id bisa menemukan karakter. Namun, ada dua hal yang tak lepas dari pengusaha batik ini, yakni pengalaman dan inovasi. 

Ayah dua putri ini mengaku, latar pendidikan seni rupa yang pernah ditempuh sedikit-banyak yang membuat Mo'id akrab dengan kreativitas. Berani bereksperimen, tanpa takut untuk gagal. Di masa itu, Mo'id bercerita sempat gagal berkali-kali saat mempelajari pencampuran warna batik yang sesuai ekspektasi. Bahkan, bila dinominalkan, Mo'id tegas menyebut nilai kegagalan itu bisa untuk beli sepeda motor. 

Warna alam tersebut diambil dari beberapa dahan. Misal, secang yang memunculkan warna kemerah-merahan atau kayu mahoni merah kecokelat-cokelatan. Menurut Mo'id, memahami warna alam itu cukup dengan mempelajari warna dasar, yaitu merah, kuning, biru, hitam, putih. Melalui kelima warna itu dapat menghasilkan berbagai warna.

Mo'id tetap pantang menyerah meski gagal berkali-kali. Alasannya simpel, dia menyukai prosesnya. Tiap kegagalan semakin menambah wawasannya dalam pencampuran warna batik. "Saya menekuni apa yang beneran saya bisa," ungkap alumni jurusan seni rupa IKIP Malang tahun 1986 itu.

Karakter warna itu belum cukup, Mo'id terus berinovasi mencari aliran baru dalam dunia batik. Waktu itu pada 2015, dia mendapat wawasan baru tentang batik colek. Semacam teknik membatik dengan cara mencolek. Mo'id membayangkan, teknik colek sebenarnya bisa diganti dengan kuas. Bermodal dari kemampuan melukis dari jurusan seni rupa, dia pun berhasil mengembangkan karakter batiknya. "Sebenarnya batik pewarnaan alam adalah batik tradisional, tapi kesan tradisional itu yang ingin saya munculkan dengan nuansa baru," ujarnya. 

Karakter batik Mo'id pun memiliki ciri khas sendiri. Melalui pewarnaan alam dan teknik lukis, batik buatan Mo'id memiliki gradasi yang fleksibel. Artinya, bisa membuat pewarnaan sesuai bentuk yang diinginkan. Berbeda dengan batik celup, pewarnaannya menyebar ke seluruh kain. "Seakan-akan bisa membangun karakter batik yang berbeda," ucapnya.

Ada tiga motif batik Mo'id yang sudah memiliki hak cipta, yakni motif Turonggo Yakso, Surga di Pantai Selatan, dan Handini Bulan. Diakuinya, ketiga motif tersebut diambil dari kearifan lokal asli Kabupaten Trenggalek. "Membuat motif itu perlu pengamatan. Tidak sekadar membuat, tapi ada nilai filosofis di baliknya," sambungnya.

Konsistensi menekuni karakter batik yang sejak 2015 itu hingga sekarang, membuat batik Ra Ra memiliki pangsa pasar sendiri. Mo'id menyebutnya konsumen pencinta batik karena tiap batik yang dijual memiliki harga sekitar Rp 1,5 juta. Harga itu sempat turun menjadi Rp 1,2 akibat dampak pandemi Covid-19. "Pandemi berdampak pada harga jual, tapi intensitas pembeli justru meningkat sampai 200 persen," ujarnya. 

Omzet yang dia dapat ternyata bukan satu-satunya tujuan. Dimulai dari menginisiasi batik shibori warna alam yang sempat dapat rekor muri agar Bumi Menak Sopal dikenal sebagai Kota Batik. "Hal yang memuaskan yakni ketika mendengar dari orang yang pernah saya beri pelatihan akhirnya bisa mengembangkan batiknya sendiri," tutupnya. (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news