alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Relawan Berhenti Jaga

Cerita Warga Sekitar Perlintasan KA Sumberjo yang Kerap Makan Korban

Upah dari Kelurahan Se

08 April 2021, 09: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TAK AMAN: Perlintasan KA sebidang tanpa palang pintu di Kelurahan/Kecamatan Talun yang kerap terjadi kecelakaan.

TAK AMAN: Perlintasan KA sebidang tanpa palang pintu di Kelurahan/Kecamatan Talun yang kerap terjadi kecelakaan. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR)

 

Cerita Warga Sekitar Perlintasan KA Sumberjo yang Kerap Makan Korban

Relawan Berhenti Jaga, Upah dari Kelurahan Selalu Molor

Baca juga: Pegal Linu Bisa Jadi Gejala Awal Covid

Terhitung sudah kali ketiga tabrakan terjadi di perlintasan sebidang KA tanpa palang pintu di Lingkungan Sumberjo, Kelurahan/Kecamatan Talun di awal tahun ini. Satu korban tewas. Meski sempat ada relawan penjaga, belum jadi solusi ampuh mencegah kecelakaan.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Talun, Radar Blitar

Suara benturan keras itu seketika mengagetkan Giyanto saat sedang menikmati makan siang di rumahnya, Jumat (2/4) pekan lalu. Dia langsung beranjak dari kursi dan meletakkan piring yang berisi makanan di meja.

Pria paro baya itu penasaran dan lantas keluar rumah mendekati sumber suara itu. Begitu keluar, dia melihat truk sudah dalam kondisi ringsek di bagian kabinnya. "Kabin truk sudah remuk. Sopir yang ada di dalamnya terjepit kakinya," tuturnya mengungkapkan kesaksiannya saat terjadi tabrakan antara truk dengan KA Gajayana beberapa waktu lalu.

Entah tidak tahu ada kereta yang melintas atau nekat menerobos perlintasan KA tanpa palang pintu, truk bermuatan batu itu langsung disambar lokomotif KA. Dua penumpang yang berada di dalam truk berhasil menyelamatkan diri, sementara sopir harus dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah.

Tabrakan yang melibatkan kendaraan dengan kereta itu bukan yang kali pertama di perlintasan sebidang KA itu. Itu mungkin sudah yang kesekian kalinya.

Giyanto tidak ingat persis berapa kali kejadiannya. "Yang pasti di sini itu sering kok. Kalau nggak disambar KA dari barat, ya dari timur. Tetapi akhir-akhir ini sama-sama dari barat," ujar pria 50 tahun ini.

 Lokasi perlintasan sebidang KA itu memang berada tepat di sebelah selatan jalan raya. Hampir mepet ruas jalan. Saat hendak melewati perlintasan rel, otomatis kendaraan berbelok lebih dulu.

Bagi kendaraan roda empat agak sulit terlebih truk. Karena jangkauan untuk berbelok terbatas. Apalagi untuk menoleh ke kanan maupun ke kiri, melihat kereta yang datang. Ditambah, sirine peringatan yang terpasang di perlintasan juga tidak berfungsi optimal beberapa bulan terakhir. "Kadang nyala saat kereta mau lewat. Kadang nyala sendiri," ujar Eko, warga lainnya.

Selain itu, sudah sebulan terakhir ini relawan yang berjaga di perlintasan tersebut sudah jarang aktif. "Biasanya, ketika pagi saja terlihat mengatur lalu lintas kendaraan yang melintas," akunya.

Dia tidak tahu pasti kenapa relawan penjaga itu jarang aktif. Relawan itu bertugas sejak tiga bulan terakhir ini. Persisnya usai kecelakaan yang menewaskan satu pengemudi mobil penumpang yang terseret hingga sekitar 500 meter pada Januari lalu.

Pascakejadian itu, sejumlah pihak terkait langsung mencari solusi agar kecelakan serupa tidak terulang. Hingga akhirnya diputuskan untuk menempatkan relawan penjaga perlintasan. "Ada tiga orang relawan yang berjaga di sini. Tapi sudah sekitar sebulan ini jarang berjaga," ungkapnya.

Sebelum kejadian yang menewaskan seorang warga itu, perlintasan KA tersebut tidak dijaga. Terkadang, ada warga setempat yang membantu mengatur lalu lintas ketika kereta hendak melintas saja. "Ini kan sudah ada sirine peringatannya. Tapi nggak fungsi optimal," bebernya.

Salah satu relawan yang berhasil diwawancara Koran ini adalah Nanang. Dia mengaku diminta untuk menjaga perlintasan sebidang KA itu sejak kecelakaan yang menewaskan satu pengemudi mobil. "Ada tiga relawan yang ditunjuk. Saya dan dua teman lainnya," terangnya kepada Koran ini.

Dia dan dua rekannya diminta kelurahan untuk menjaga perlintasan. Tetapi sifatnya relawan. Artinya tidak ada honor. "Tetapi sesuai kesepakatan waktu itu, ada kompensasi yang diberikan. Setiap bulannya Rp 600 ribu per orang," bebernya.

Nanang dan kawan-kawan menyepakati kompensasi itu diberikan paling lambat 10 hari setiap awal bulan. Mereka bertugas mulai Januari.

Nah, sebulan bertugas menjadikan relawan, hari yang ditunggu tiba. Dia dan rekannya mendatangi kantor kelurahan untuk menanyakan kompensasi yang dijanjikan. "Dari kelurahan diminta menunggu. Kompensasi pertama dibayar molor. Lalu kompensasi bulan kedua malah tidak jelas. Hingga Maret kami tunggu tidak ada kepastian," ungkapnya.

Sampai akhirnya, dia dan dua rekannya memutuskan untuk berhenti menjadi relawan. Lalu mendatangi kantor kelurahan untuk pamit berhenti relawan. "Daripada minta-minta, saya dan teman-teman malu. Apalagi, uang kompensasi yang diberikan itu juga hasil iuran warga setempat. Saya nggak enak dong sama warga lain," jujurnya.

Dia berharap, ada kebijakan yang jelas terkait perlintasan KA sebidang itu. Bahkan, kalau ada yang usul ditutup, dia setuju. "Sekalian saja ditutup biar aman sekalian," ketusnya.  (*)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news