alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Rochman Syai'in, Mahasiswa yang Geluti Kaus Cabut Warna

“Rusak” Warna Kain untuk Ciptakan Seni Tinggi

08 April 2021, 13: 02: 48 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF: Rochman Syai'in menyelesaikan pesanan kaus cabut warna di kediamannya kemarin (7/4).

KREATIF: Rochman Syai'in menyelesaikan pesanan kaus cabut warna di kediamannya kemarin (7/4). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Melukis pada media kaus dengan cat akrilik mungkin sudah biasa. Namun, apa jadinya jika “merusak” warna kaus dengan cairan pemutih membuatnya terlihat memiliki nilai seni. Begitulah yang dilakukan oleh Rochman Syai'in, seorang mahasiswa yang tekuni bisnis kaus cabut warna.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Ngunut, Radar Tulungagung

Botol-botol pemutih kain tampak terjajar di sebuah meja persegi di teras kediaman Rochman Syai'in yang berlokasi di Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut. Tak jauh dari situ, sebuah papan tripleks berukuran persegi sengaja disandarkan dalam posisi berdiri. Tak lama, seorang pemuda keluar dari rumah dengan membawa beberapa kaus berwarna hitam. “Mangga, kalau mau melihat proses pembuatan kaus cabut warna,” sapanya ramah sembari mempersilakan Koran ini masuk.

Baca juga: Bupati Arifin Terima Penghargaan di Peringatan HKN

Dia adalah Rochman Syai'in, seorang mahasiswa yang sedang menekuni kerajinan kaus cabut warna. Yakni teknik pewarnaan pada kaus dengan konsep merusak warna daripada kaus itu sendiri untuk dapat membentuk sebuah gambar sesuai keinginan. Pemuda yang akrab disapa Maman ini mengatakan, meski baru satu tahun menekuni bisnis ini, dia bersyukur telah mendapatkan respons cukup baik dari pelanggannya. “Alhamdulilah responsnya cukup positif karena di Tulungagung juga masih jarang yang menekuni teknik ini,” terangnya.

Mahasiswa jurusan pendidikan guru SD (PGSD) ini mengaku, bisnis kaus cabut warna ini merupakan pengembangan dari usaha lukis talenan miliknya. Jika sebelumnya memanfaatkan media talenan kayu untuk wadah melukis, kini kemampuannya melukis dituangkan pada kaus.

Kepada Koran ini, Maman menceritakan proses bagaimana dia dalam memproduksi kaus. Mulanya dia menggambar sketsa pada kaus polos. Seperti menggambar pada umumnya, membuat sketsa pada kaus cukup menggunakan pensil gambar dan didesain sesuai kreativitas. Usai sketsa terbentuk sempurna, masuk pada proses cabut warna. Dengan menggunakan pensil tak terpakai yang sudah dimodifikasi menyerupai kuas, dia mulai menggoreskan cairan pemutih pada sketsa yang telah dibuat. “Pada dasarnya mirip seperti melukis biasa, hanya saja kuas yang digunakan hasil modifikasi sendiri dan cat warna yang digunakan adalah kain pemutih pakaian,” bebernya.

Pemuda kelahiran 17 Februari 1998 ini mengatakan, menekuni teknik ini tergolong unik. Sebab, dia memanfaatkan warna kain yang rusak dan diubah menjadi sebuah gambar yang lebih menarik. Tak heran, mempelajari teknik ini tergolong rumit. Terlebih jika sketsa yang dibuat sangat detail.

Maman mengaku, hal paling sulit dari proses pengerjaan ini adalah ketika menggambar bagian mata dan mulut. Sebab, poin pada gambar terletak pada kedua indra tersebut. Namun, berbeda jika gambar yang dibuat adalah sketsa hewan maupun gambar ilustrasi lainnya. “Kalau untuk sketsa wajah seseorang pasti point of interest-nya ada pada mata dan mulut. Bagaimana cara supaya gambar ini terlihat hidup dan menyerupai asli,” urainya.

Untuk satu kali produksi kaus, mahasiswa Universitas Bhineka Tulungagung ini mengaku memerlukan waktu kurang lebih 1-2 jam. Tergantung tingkat kerumitan gambar yang dibuat dan besar kecilnya sketsa. Sementara untuk satu hari dia mampu memproduksi paling banyak 3-4 buah kaus. Ini lantaran seluruh proses pengerjaan dikerjakan sendiri di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa.

Disinggung mengenai kain yang dapat digunakan, Maman melanjutkan, pada dasarnya seluruh kain dapat dimanfaatkan untuk teknik ini. Namun, kain berjenis flannel dan katun combat yang paling ideal. Sebab, mudah dalam pengaplikasian. Sementara untuk warna, cenderung menggunakan warna-warna gelap. Seperti hitam, biru navy, merah marun, maupun cokelat. Ini karena warna-warna ini sangat mudah untuk “dirusak” dengan cairan pemutih. “Ada beberapa jenis kain yang sulit “dirusak” warnanya. Jadi dilukis itu warnanya tidak keluar maksimal. Ada juga yang sangat mudah, bahkan bisa diblok,” ungkapnya.

Kini, bungsu dari dua bersaudara ini bertekad ingin tetap melanjutkan bisnisnya ini. Terlebih saat ini pasar bisnisnya mulai merangkak naik. Yakni ke pasar Banyuwangi, Sidoarjo, dan lokal Tulungagung. (*

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news