alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Beri Vaksin dan Obat Cacing Sebelum Dijual

Huda Pranowojati Dapat Berkah dari Hobi Memelihara Merpati Pos

Tak Pernah Promosi

08 April 2021, 13: 05: 57 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KETURUNAN BAGUS: Huda memberi makan merpati pos peliharaannya yang semua memiliki indukan pernah juara atau masuk nominasi lomba.

KETURUNAN BAGUS: Huda memberi makan merpati pos peliharaannya yang semua memiliki indukan pernah juara atau masuk nominasi lomba. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Bagi Huda Pranowojati, memelihara merpati pos merupakan hobi untuk melepas penat setelah bekerja. Namun siapa sangka, hobi tersebut ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pasalnya, anakan dari merpati pos ternakannya minimal laku Rp 300 ribu setiap pasang.

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

Tak bisa dimungkiri, merpati pos memiliki kecerdasan dan daya indra yang kuat untuk membantunya kembali pulang ke rumah. Dengan kecerdasan tersebut, merpati jenis ini dahulu kala kerap dijadikan sebagai kurir untuk mengantarkan pesan seperti ketika terjadi peperangan. Sehingga kini ada berbagai perlombaan akan kecepatan merpati pos tersebut pulang. Sebab, selain kecerdasan dan daya indra yang dimiliki, para pencinta mencintai merpati pos karena kecepatannya terbang untuk kembali ke kandang. Itulah yang membuat Huda Pranowojati bertekad kuat untuk memeliharanya.

Baca juga: DPD dan Fraksi Golkar Tolak Tegas Kenaikan NJOP dan PBB-P2 2021

Ketika Jawa Pos Radar Trenggalek menemuinya di rumahnya yang berada di wilayah Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek, Huda sedang berada di dekat kandang merpatinya yang diletakkan tepat di samping rumah. Terlihat dia sedang mengecek dua pasang merpati peliharaannya yang diletakkan pada kandang berukuran kecil. Itu dilakukan karena telur dari dua pasang merpati pos peliharaannya tersebut baru saja menetas. Sehingga dia melihat anakan merpati (piyek, Red) yang baru itu. "Piyek yang baru menetas ini belum bisa makan sendiri. Jadi perlu dilihat apalah induknya mau memberi makan atau tidak (meloloh, Red)," ungkap Huda kepada Koran ini.

Selain itu, proses pengecekan perlu dilakukan untuk melihat makanan yang disiapkan bagi indukan untuk meloloh sudah tersedia atau belum. Sebab, pada proses ini, gizi makanan yang disediakan harus baik dan terjaga. Biasanya Huda memberi pakan berupa campuran beras merah dengan jagung, kacang tanah, kacang hijau, serta kedelai karena jenis biji-binian memiliki kandungan tersendiri. Seperti beras merah yang merupakan jenis biji-bijian termasuk dalam kategori sereal. Beras merah berperan penting dalam proses pembentukan tulang. Biji ini mengandung banyak kalsium dan rendah lemak. Memberikannya dalam jumlah banyak tidak akan menyebabkan merpati mengalami kegemukan.

Selain itu, juga ada kacang hijau sangat baik dalam membentuk sel baru dalam tubuh, khususnya bagi anak merpati. Sedangkan bagi induk merpati, kacang hijau diketahui dapat membantu menjaga kesuburan sistem reproduksi merpati pascamengeram dan meloloh. Sedangkan, jagung diberikan karena mengandung karbohidrat yang sangat tinggi, karbohidrat berguna menyediakan kalori yang menghasilkan tenaga bagi merpati. Sedangkan pada saat meloloh, diusahakan memberikan jenis jagung giling. Tujuannya, agar anakan merpati lebih mudah mencerna karena sistem pencernaan anak merpati belum sempurna seperti merpati dewasa. "Selain pakan itu, biasanya saya memberi pakan lain seperti konsentrat yang biasa dijual di pasaran," imbuh Huda.

Itu dilakukan minimal jika piyek sudah bisa makan sendiri dan siap jual sekitar usia 30 hingga 40 hari. Namun setelah piyek sudah mulai makan sendiri dan siap jual, Huda langsung memberinya vaksin dan obat cacing. Tujuannya, untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sebab jika tidak diberi vaksin dan obat cacing ketika kecil, menyebabkan merpati mudah sakit, yang bisa memengaruhi kecerdasannya dan daya indra ketika terbang. Sehingga ketika dilepaskan dengan jarak yang cukup jauh, akan mudah hilang. Itu terus dilakukan karena merpati yang dipeliharanya bukan sembarangan merpati pos, melainkan memiliki DNA juara lomba atau masuk nominasi lomba dari sepasang induknya. Sehingga jika proses pemeliharaannya asal-asalan, maka sangat disayangkan.

Untuk harganya sangat bervariasi. Dilihat dari indukan piyek yang akan dijual. Terlihat jika indukan pernah ikut lomba, tapi tidak juara dan hanya masuk nominasi, anakan diberi harga minimal Rp 300 ribu per pasang. Jika indukan pernah juara lomba masuk 10 besar, harga minimal Rp 500 ribu per pasang. Harga tersebut akan berlipat jika anakan pernah ikut lomba. Jika masuk nominasi, di atas Rp 1 juta setiap pasang dan jika masuk 10 besar, di atas Rp 2 juta. "Untuk lomba, dengan catatan jarak sekitar 600 kilometer atau pelepasannya di Jakarta," imbuh pria 29 tahun ini.

Biasanya dari delapan pasang indukannya, dirinya mendapat keuntungan minimal Rp 3 juta. Itu akan bertambah jika anakan merpati yang diikutkan lomba dan minimal masuk nominasi. Dengan bisa pulang sebelum batas hari maksimal yang diterapkan. Sedangkan untuk langganannya sendiri, berasal dari para pencinta merpati pos dari penjuru tanah air. Itu terjadi kendati Huda tidak pernah mempromosikan merpati pos hasil budi dayanya, tapi para pencinta tersebut tahu sendiri dari media sosial (medsos) ketika mengikuti lomba.

Sebab ketika ikut lomba, panitia membuat grup pada medsos untuk mempermudah komunikasi antarpanitia dan peserta. Dari situ, setelah perlombaan selesai, panitia akan mengumumkan merpati yang mendapatkan juara dan masuk nominasi beserta pemiliknya, disertai akun medsos yang dimiliki. Sehingga jika ada pencinta merpati pos yang berminat, langsung mengirim pesan singkat. "Makanya kendati tidak promosi, banyak yang tahu akan kualitas merpati pos saya ini. Sebab, kerap memenangkan setiap perlombaan," jelas Huda. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news