alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

18 Area Diusulkan Masuk Warisan Geologi Nasional

08 April 2021, 13: 17: 03 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KANDIDAT: Seorang warga sedang melintas di kawasan Bukit Cemenung yang diusulkan menjadi salah satu warisan geologi.

KANDIDAT: Seorang warga sedang melintas di kawasan Bukit Cemenung yang diusulkan menjadi salah satu warisan geologi. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung - Bukit Cemenung yang berlokasi di Desa Tenggong, Kecamatan Rejotangan, diusulkan jadi warisan geologi di tingkat nasional. Itu setelah Tim Pusat Survei Geologi dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan survei sekaligus mengidentifikasi warisan geologi di Kabupaten Tulungagung.

Bukit yang dulunya kawasan tambang kapur serta batuan mangan itu layak diusulkan karena memiliki susunan formasi Nampol dan Wonosari. Selain itu, juga memiliki bangunan bersejarah (cultural heritage) yang merupakan sisa pabrik kapur/mangan di masa penjajahan.

Hal itu disampaikan Ketua Tim dari Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, Dida Yurnaldi. Dia menjelaskan, sebulan terakhir ini pihaknya bersama tim melakukan kajian lapangan terhadap 10 titik lokasi usulan geoheritage dari Pemkab Tulungagung. Namun di sela itu, tim mendapati 8 titik lokasi geosite baru yang juga layak diusulkan menjadi geoheritage tingkat nasional. Delapan titik tersebut yakni Sungai Neyama, Bukit Cemenung, Gua Song Gentong, Gunung Blejed, Sumber Agung, Gunung Pegat, Gunung Tanggul, dan Embung Sidem. "Di Tulungagung banyak geosite dan menarik secara geologis. Dari 10 yang diusulkan daerah, kami menambahkan 8 calon geosite lagi. Karena nilai geologinya bisa diangkat dan menarik," terangnya.

Baca juga: Rp 99 Juta untuk Lifeguard

Pria ramah ini menjelaskan, 18 calon geoheritage ini nantinya akan diverifikasi lebih lanjut. Guna memastikan kelayakan untuk dijadikan warisan nasional maupun internasional. Namun, dia memproyeksi, hanya satu yang berpeluang menjadi warisan geologi tingkat internasional. Yakni di Gua Wajakensis. Itu pun bergantung bagaimana daerah mengonservasi gua tersebut. "Di dalam gua tersebut terdapat temuan bukti hunian masa lampau. Bahkan, tak hanya di gua wajakensis, tapi sebenarnya temuan itu juga ditemukan di Gua Tenggar dan Song Gentong," tuturnya.

Proses penetapan tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat ini. Sebab menurut Dida, tahapannya cukup panjang. Verifikasi kemungkinan membutuhkan waktu hingga akhir tahun ini, baru kemudian calon geosite akan dibuatkan rancangan penetapan warisan geologi. Selanjutnya, akan ditetapkan melalui keputusan menteri ESDM dan terakhir ditetapkan melalui keputusan presiden. "Ada beberapa yang jadi catatan untuk Pemkab Tulungagung. Sebaiknya memberikan akses mudah di lokasi dan papan petunjuk. Karena nantinya mereka akan jadi pusat penelitian, pendidikan, dan geowisata," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tulungagung Maryani melalui Kabid Litbang dan Analisis Perencanaan Pembangunan Ridwan mengatakan, keberadaan tim survei Badan Geologi ESDM ini merupakan tindak lanjut dari usulan Pemkab Tulungagung pada 2020 lalu. Mereka di Tulungagung untuk mengidentifikasi usulan 10 calon warisan geologi di Kabupaten Tulungagung. Yaitu empat lokasi di Kecamatan Campurdarat. Di antaranya Gunung Api Purba Budheg, jajaran Gua Wajakensis, Terowongan Batu Gamping Neyama, dan Telaga Patahan Buret. Kemudian dua di Kecamatan Pucanglaban, yaitu Pantai Laguna Kedungtumpang dan tambang batu Lazuli Watu Ijo.

Selanjutnya, dua dari Kecamatan Tanggunggunung, yaitu Gua Sungai Bawah Tanah Tenggar dan Pantai Patahan Sanggar serta Air Terjun Patahan Tretes di Kecamatan Pagerwojo, dan Geo Marmer Besuki di Kecamatan Besuki. "Mereka di sini sudah satu bulan ini," ungkapnya.

Namun di sela itu, mereka ternyata menemukan 8 geosite yang berpotensi menjadi warisan geologi. Karena hasil identifikasi mereka ada nilai geologisnya yang menarik untuk diangkat, jadi layak diusulkan. "Tentu temuan itu membantu kami yang semakin beragam (geodiversity). Dan itu menjadikan kami berpeluang menjadi geopark nasional, bahkan internasional," terangnya.

Namun, tahapan menuju geopark tidak sampai di sini. Kata dia, ada tahapan verifikasi. Tahapan tersebut yang akan menentukan layak atau tidaknya usulan dan temuan geosite itu. "Di tahapan verifikasi ini yang menjadi penentu layak jadi geopark nasional atau internasional. Untuk internasional lebih panjang lagi, nanti juga ada verifikasi dari UNESCO. Di sana ada timnya sendiri," pungkasnya. (*)

(rt/lai/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news